Singkatnya: kebutuhan kalori harian kamu dihitung dua langkah, yaitu cari BMR dulu memakai rumus Mifflin-St Jeor, lalu kalikan dengan faktor aktivitas untuk mendapat TDEE. Untuk pria rumusnya 10 x berat (kg) + 6,25 x tinggi (cm) - 5 x usia + 5, dan untuk wanita rumus yang sama tapi diakhiri -161. Faktor aktivitasnya berkisar 1,2 untuk orang yang jarang bergerak sampai 1,9 untuk pekerja fisik berat yang juga berlatih dua kali sehari.
Hasilnya bukan angka keramat. Itu perkiraan statistik dari populasi, dan tubuhmu tidak wajib mengikutinya. Artikel ini membedah cara menghitungnya sampai ke angka konkret, lalu menunjukkan cara mengoreksi hasilnya dari data timbangan sendiri, yang justru bagian paling penting dan paling sering dilewati.
Apa Sebenarnya yang Diukur Angka Kalori Harian
Kalori adalah satuan energi. Kebutuhan kalori harian berarti jumlah energi yang tubuhmu habiskan dalam 24 jam untuk semua hal yang dia kerjakan: menjaga jantung berdetak, mengatur suhu tubuh, memperbaiki jaringan, mencerna makanan, berjalan ke warung, mengetik, dan berolahraga.
Kenapa angkanya beda tiap orang? Karena empat hal yang paling menentukan memang beda tiap orang. Berat badan menentukan seberapa banyak jaringan yang harus dihidupi. Tinggi badan menentukan luas permukaan tubuh dan massa rangka. Usia menurunkan laju metabolisme secara perlahan seiring berkurangnya massa otot. Jenis kelamin biologis memengaruhi rata-rata proporsi massa bebas lemak, dan itu sebabnya rumus pria dan wanita punya konstanta berbeda.
Ada satu variabel lagi yang jarang disebut dan sebetulnya paling liar: aktivitas harian di luar olahraga. Orang yang bekerja berdiri di dapur restoran selama sembilan jam membakar jauh lebih banyak energi daripada orang yang duduk di depan laptop, bahkan kalau keduanya sama-sama lari 30 menit setiap sore. Rumus mana pun tidak bisa melihat perbedaan itu, dan di situlah sebagian besar meleset.
Sebagai pembanding tingkat nasional, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi menetapkan rata-rata angka kecukupan energi bagi masyarakat Indonesia sebesar 2.100 kilokalori per orang per hari pada tingkat konsumsi, dengan protein 57 gram. Perlu digarisbawahi, angka itu dibuat untuk perencanaan pangan dan kebijakan gizi tingkat populasi. Kamu bukan populasi. Pakai angka itu sebagai gambaran kasar, bukan target pribadi.
BMR dan TDEE: Dua Angka yang Sering Tertukar
Dua istilah ini muncul di hampir semua kalkulator kalori, dan banyak orang salah memilih mana yang harus dipakai sebagai target makan.
BMR (Basal Metabolic Rate) adalah energi yang tubuhmu pakai kalau kamu berbaring diam sepanjang hari tanpa melakukan apa pun. Hanya biaya operasional dasar: bernapas, memompa darah, menjaga suhu, menjalankan otak dan ginjal. Untuk orang dewasa, ini biasanya menyumbang porsi terbesar dari total pengeluaran energi harian.
TDEE (Total Daily Energy Expenditure) adalah total sebenarnya. TDEE mencakup BMR ditambah energi untuk mencerna makanan, semua gerakan tak sengaja seperti berdiri dan berjalan, plus olahraga terstruktur. TDEE inilah yang orang maksud ketika bilang "kebutuhan kalori harian".
Kesalahan klasiknya begini: seseorang menghitung BMR-nya 1.500 kkal, lalu memutuskan makan 1.500 kkal setiap hari untuk "aman". Padahal kalau TDEE-nya 2.300 kkal, dia sebenarnya sedang menjalani defisit 800 kkal per hari tanpa sadar. Awalnya berat turun cepat, lalu dia kelaparan, kehilangan tenaga untuk latihan, dan menyerah di minggu ketiga. Angkanya benar, penerapannya salah.
Tips: Aturan sederhana untuk mengingat bedanya, BMR itu tagihan listrik rumah yang kosong, TDEE itu tagihan saat semua orang di rumah dan mesin cuci menyala. Target makan harianmu selalu berpatokan pada TDEE, bukan BMR.
Rumus Mifflin-St Jeor Selengkapnya
Rumus ini berasal dari studi Mifflin dan rekan yang terbit di American Journal of Clinical Nutrition tahun 1990. Mereka mengukur pengeluaran energi istirahat pada 498 orang sehat, terdiri dari 247 perempuan dan 251 laki-laki, dengan rentang usia 19 sampai 78 tahun, mencakup kelompok berat badan normal maupun obesitas, memakai kalorimetri tidak langsung.
Versi yang disederhanakan dan dipisah per jenis kelamin, persis seperti tertulis di abstrak studinya:
Pria: BMR = (10 x berat badan dalam kg) + (6,25 x tinggi badan dalam cm) - (5 x usia dalam tahun) + 5
Wanita: BMR = (10 x berat badan dalam kg) + (6,25 x tinggi badan dalam cm) - (5 x usia dalam tahun) - 161
Bedanya hanya di konstanta terakhir, +5 untuk pria dan -161 untuk wanita. Selisihnya 166 kkal, dan itu cerminan perbedaan rata-rata komposisi tubuh, bukan penilaian apa pun tentang siapa yang "lebih cepat" metabolismenya.
Satu detail jujur yang jarang dikutip orang: studi aslinya melaporkan R kuadrat sebesar 0,71. Artinya, variabel berat, tinggi, dan usia hanya menjelaskan sekitar 71 persen variasi pengeluaran energi istirahat antarindividu. Sisanya dipengaruhi hal yang tidak masuk rumus, terutama komposisi tubuh. Studi yang sama mencatat massa bebas lemak sebagai prediktor tunggal terbaik. Jadi kalau kamu punya massa otot jauh di atas rata-rata, rumus ini kemungkinan sedikit meremehkan kebutuhanmu.
Studi tersebut juga membandingkan hasilnya dengan Persamaan Harris-Benedict dari 1919 dan menemukan persamaan lama itu melebih-lebihkan pengeluaran energi istirahat sekitar 5 persen. Itu alasan Mifflin-St Jeor jadi rumus yang lebih umum dipakai sekarang.
Tabel Faktor Aktivitas dan Jebakan Menaksir Terlalu Tinggi
Setelah dapat BMR, kalikan dengan faktor aktivitas. Inilah tabelnya, sama dengan yang dipakai kalkulator kalori di situs ini.
| Tingkat aktivitas | Faktor | Gambaran nyata sehari-hari |
|---|---|---|
| Minim gerak | 1,2 | Kerja duduk, transport pakai kendaraan, hampir tidak olahraga |
| Ringan | 1,375 | Kerja duduk, olahraga ringan 1-3 kali seminggu |
| Sedang | 1,55 | Olahraga cukup keras 3-5 kali seminggu, atau pekerjaan banyak berdiri |
| Aktif | 1,725 | Olahraga berat 6-7 kali seminggu, atau pekerjaan fisik harian |
| Sangat aktif | 1,9 | Pekerjaan fisik berat plus latihan dua sesi per hari |
Sekarang bagian yang tidak enak didengar tapi perlu dikatakan: sebagian besar orang memilih baris yang terlalu tinggi. Ini pola yang konsisten terlihat di forum, komentar, dan obrolan gym mana pun.
Penyebabnya bisa dimengerti. Orang mengingat sesi latihan yang berat, karena sesi itu terasa. Yang tidak diingat adalah 23 jam sisanya yang dihabiskan duduk. Latihan beban satu jam pada orang biasa membakar energi yang jauh lebih kecil dari yang dibayangkan, sering kali setara dengan sepiring kecil nasi. Sementara lompat dari faktor 1,375 ke 1,55 pada BMR 1.700 kkal langsung menambah sekitar 300 kkal ke target harianmu, dan 300 kkal itu cukup untuk membatalkan defisit yang kamu kira sedang berjalan.
Tips: Kalau ragu antara dua baris, ambil yang lebih rendah. Kesalahan menaksir terlalu rendah gampang dikoreksi (berat turun lebih cepat dari rencana, kamu tinggal menambah porsi). Kesalahan menaksir terlalu tinggi bikin kamu merasa gagal selama sebulan tanpa tahu penyebabnya.
Patokan yang lebih jujur: pilih faktor berdasarkan rata-rata satu minggu penuh, bukan berdasarkan hari terbaikmu. Orang kantoran yang ke gym tiga kali seminggu tetap lebih dekat ke 1,375 daripada 1,55, karena lima hari kerjanya dihabiskan di kursi.
Contoh Hitung Lengkap: Budi dan Sinta
Angka konkret selalu lebih jelas daripada rumus. Berikut dua perhitungan penuh, langkah demi langkah.
Contoh 1: Budi, pria 30 tahun
Data: berat 75 kg, tinggi 172 cm, usia 30 tahun. Pekerjaan kantoran (duduk), olahraga ringan 2 kali seminggu, jadi faktor aktivitas 1,375.
Langkah 1, hitung tiap suku:
- 10 x 75 = 750
- 6,25 x 172 = 1.075
- 5 x 30 = 150
- konstanta pria = +5
Langkah 2, jumlahkan: 750 + 1.075 = 1.825 1.825 - 150 = 1.675 1.675 + 5 = BMR 1.680 kkal
Langkah 3, kalikan faktor aktivitas: 1.680 x 1,375 = TDEE 2.310 kkal
Jadi untuk mempertahankan berat 75 kg dengan pola hidup seperti itu, Budi butuh sekitar 2.310 kkal per hari.
Perhatikan betapa besar pengaruh baris faktor aktivitas pada BMR yang sama persis:
| Faktor aktivitas | Perhitungan | TDEE Budi |
|---|---|---|
| 1,2 (minim gerak) | 1.680 x 1,2 | 2.016 kkal |
| 1,375 (ringan) | 1.680 x 1,375 | 2.310 kkal |
| 1,55 (sedang) | 1.680 x 1,55 | 2.604 kkal |
| 1,725 (aktif) | 1.680 x 1,725 | 2.898 kkal |
| 1,9 (sangat aktif) | 1.680 x 1,9 | 3.192 kkal |
Rentangnya 1.176 kkal dari baris terbawah ke teratas. Ini bukan selisih kecil. Satu klik salah pilih di kalkulator setara dengan menambah atau menghapus satu porsi makan besar per hari.
Contoh 2: Sinta, wanita 27 tahun
Data: berat 58 kg, tinggi 158 cm, usia 27 tahun. Guru yang banyak berdiri di kelas, olahraga ringan sekitar 3 kali seminggu. Dia sempat ingin memilih 1,55, tapi setelah jujur menghitung bahwa sebagian besar harinya tetap duduk saat mengoreksi tugas, dia memilih 1,375.
Langkah 1, hitung tiap suku:
- 10 x 58 = 580
- 6,25 x 158 = 987,5
- 5 x 27 = 135
- konstanta wanita = -161
Langkah 2, jumlahkan: 580 + 987,5 = 1.567,5 1.567,5 - 135 = 1.432,5 1.432,5 - 161 = 1.271,5, bulatkan jadi BMR 1.272 kkal
Langkah 3, kalikan faktor aktivitas: 1.272 x 1,375 = TDEE 1.749 kkal
Kalau Sinta tadi memaksakan faktor 1,55, hasilnya 1.272 x 1,55 = 1.972 kkal. Selisihnya 223 kkal per hari, atau sekitar 1.561 kkal per minggu. Itu cukup untuk membuat program penurunan berat badannya jalan di tempat tanpa dia mengerti kenapa.
Menyesuaikan Target untuk Turun atau Naik Berat Badan
TDEE adalah angka pemeliharaan. Kalau tujuanmu berubah, geser angkanya, jangan dirombak.
Untuk turun berat badan. MedlinePlus menyebut memangkas sekitar 500 kalori per hari sebagai titik awal yang wajar bagi kebanyakan orang dengan berat berlebih, dan itu setara penurunan sekitar 454 gram per minggu. CDC menambahkan bahwa orang yang turun secara bertahap, sekitar 0,5 sampai 1 kilogram per minggu, lebih mungkin mempertahankan hasilnya dibanding yang turun cepat. Cara praktis lain adalah memotong 15 sampai 20 persen dari TDEE.
| Orang | TDEE | Defisit 20% | Target turun berat | Surplus 10% |
|---|---|---|---|---|
| Budi | 2.310 kkal | 462 kkal | 1.848 kkal | 2.541 kkal |
| Sinta | 1.749 kkal | 350 kkal | 1.399 kkal | 1.924 kkal |
Angka pada tabel itu hasil pembulatan sederhana, jadi bulatkan lagi ke kelipatan 50 supaya mudah dipakai: Budi sekitar 1.850 kkal, Sinta sekitar 1.400 kkal.
NIDDK menyarankan menetapkan target penurunan berat bersama tenaga kesehatan, dan menyebut turun 5 persen dari berat badan dalam 6 bulan sebagai target awal yang masuk akal. Untuk Budi yang 75 kg, 5 persen itu sekitar 3,75 kg dalam setengah tahun. Terdengar lambat. Memang lambat, dan itu justru intinya.
Soal batas bawah, tahan diri untuk tidak menyelam terlalu dalam. Defisit yang terlalu agresif membuat asupan protein, serat, dan mikronutrien sulit terpenuhi, mengganggu tidur, dan hampir selalu berakhir dengan makan berlebihan. Diet sangat rendah kalori bukan sesuatu yang dijalankan sendiri berdasarkan artikel di internet, termasuk artikel ini. Kalau kamu sedang hamil, menyusui, punya diabetes atau penyakit metabolik lain, atau punya riwayat gangguan makan, tentukan angkamu bersama dokter atau ahli gizi.
Untuk naik berat badan. Tambahkan surplus kecil, sekitar 10 sampai 15 persen di atas TDEE, atau 250 sampai 400 kkal. Surplus besar tidak mempercepat pertumbuhan otot, hanya mempercepat penumpukan lemak. Kalau kamu kesulitan memenuhinya dari makanan biasa, pilihan bahan padat energi kami bahas di makanan tinggi kalori untuk naik berat badan, dan surplus itu baru terarah ke otot kalau dipasangkan dengan latihan beban untuk pemula.
Harvard T.H. Chan School of Public Health menulis di laman Healthy Weight bahwa meski sebagian peneliti mempertanyakan kegunaan konsep keseimbangan energi, bukti saat ini menunjukkan pengurangan kalori tetap pendekatan paling efektif untuk pengendalian berat badan, dan penelitian belum konsisten menunjukkan satu pola diet lebih unggul dari yang lain dalam jangka panjang. Terjemahan praktisnya: pola makan yang bisa kamu jalani berbulan-bulan mengalahkan pola makan "paling optimal" yang kamu tinggalkan dalam dua minggu.
Kesalahan Umum dan Cara Mengoreksi Angkamu
Hitunganmu selesai, tapi pekerjaannya belum. Angka dari rumus itu hipotesis, dan timbanganlah yang mengujinya.
Cara mengoreksinya sederhana. Jalani target barumu konsisten selama 2 sampai 4 minggu. Timbang berat badan pada kondisi yang sama, misalnya pagi hari setelah ke kamar mandi dan sebelum makan, lalu ambil rata-rata mingguan, bukan angka harian. Berat badan harian naik turun sampai satu kilogram hanya karena air, garam, dan isi usus, jadi membaca satu angka harian adalah cara tercepat membuat dirimu frustrasi.
Setelah punya dua sampai empat rata-rata mingguan, baca arahnya. Kalau berat tidak bergerak sama sekali padahal kamu menargetkan penurunan, kurangi 100 sampai 150 kkal dan amati dua minggu lagi. Kalau turunnya terlalu cepat, lebih dari 1 kilogram per minggu, tambah lagi asupannya. Angka yang sudah terkoreksi dari data tubuhmu sendiri selalu lebih benar daripada angka mana pun dari kalkulator.
Beberapa kesalahan yang paling sering merusak hitungan:
- Memilih faktor aktivitas berdasarkan niat, bukan kebiasaan. Sudah dibahas panjang di atas, dan ini penyebab nomor satu.
- Lupa kalori dari minuman. Kopi susu gula aren, teh manis di warung, dan jus kemasan sering menyumbang ratusan kalori yang tidak pernah masuk catatan karena "kan cuma minum".
- Menakar minyak dan santan dengan perasaan. Satu sendok makan minyak sudah lebih dari seratus kalori. Tumisan yang "sedikit minyak" versi dapur rumah biasanya bukan sedikit.
- Menaksir porsi nasi. Centong nasi tiap rumah beda ukuran. Kalau kamu belum pernah menimbangnya, hitunganmu berdasarkan tebakan, dan nasi adalah penyumbang terbesar di mayoritas piring Indonesia. Rinciannya ada di kalori nasi putih.
- Menghitung ulang setiap hari. Rumusnya tidak berubah kalau beratmu turun 300 gram. Hitung ulang setelah berat bergeser sekitar 3 sampai 5 kilogram, atau saat tingkat aktivitasmu benar-benar berubah.
- Mengejar angka kalori sambil mengabaikan komposisi. Dua pola makan dengan kalori identik bisa terasa sangat berbeda kalau yang satu cukup protein dan serat sementara yang lain didominasi tepung dan gula.
Tips: Sebelum mengubah target kalorimu karena merasa "tidak ada progres", cek dulu apakah kamu benar-benar menjalankannya. Catat asupan apa adanya selama tiga hari, termasuk akhir pekan. Banyak orang menemukan masalahnya bukan di angka target, melainkan di hari Sabtu yang tidak pernah dihitung.
Terakhir, kalibrasi ekspektasimu terhadap alat bantu. Kalkulator online, jam tangan pintar, dan aplikasi pencatat makanan semuanya bekerja dengan taksiran bertingkat, dan galatnya menumpuk. Pakai sebagai kompas, bukan sebagai GPS. Kalau kamu ingin gambaran cepat soal posisi berat badanmu saat ini, kalkulator BMI bisa jadi titik awal, meski BMI sendiri tidak membedakan otot dan lemak sehingga perlu dibaca dengan hati-hati.
Sudah punya angkamu? Langkah berikutnya adalah menyusun piring yang muat di dalam angka itu. Mekanisme penurunan berat badannya kami urai lebih dalam di defisit kalori untuk turun berat badan, dan pembahasan bahan makanan sehari-hari ada di kategori nutrisi.



