Singkatnya: kalori singkong rebus ada di kisaran 160 kkal per 100 gram singkong kupas. USDA FoodData Central mencatat singkong (Manihot esculenta) berisi 160 kkal, 38,1 gram karbohidrat, 1,8 gram serat, dan 1,36 gram protein per 100 gram bagian yang dimakan, dengan kode FDC ID 169985. Merebus tidak menambah maupun menghilangkan energi, jadi sepotong seukuran genggaman tangan, sekitar 80 gram, memberi kira-kira 128 kkal. Angka itu justru lebih tinggi daripada nasi putih matang pada berat yang sama.
Kalimat terakhir biasanya membuat orang berhenti sebentar. Singkong rebus terlanjur punya reputasi sebagai makanan diet, mungkin karena dijual murah, tidak berminyak, dan terlihat sederhana. Reputasi itu cuma setengah benar. Di bawah ini angkanya per porsi nyata, perbandingannya dengan umbi lain dan nasi, lalu dua hal yang jarang dibahas serius: kenapa cara masak mengubah angkanya drastis, dan kenapa singkong mentah tidak boleh dimakan.
Berapa Kalori Singkong Rebus per 100 Gram dan per Potong
Ada satu hal yang perlu kamu tahu di awal, dan jarang ada artikel yang mau menyebutnya. USDA tidak punya entri untuk singkong rebus polos tanpa tambahan apa pun. Yang tersedia adalah entri "Cassava, cooked" (FDC ID 2709564) dengan 191 kkal per 100 gram, tapi resep di baliknya mencampur 100 gram singkong mentah dengan 3 gram minyak atau lemak meja plus 0,3 gram garam. Jadi angka 191 itu bukan angka singkong rebus. Itu angka singkong matang yang sudah kena minyak.
Karena itu, cara paling jujur menghitung singkong rebus adalah memakai berat singkong yang sudah dikupas, sebelum masuk panci. Air rebusan tidak menyumbang kalori. Kalau kamu merebus 200 gram singkong kupas dan tidak menambahkan apa pun ke dalam panci, energi yang masuk ke tubuhmu tetap sekitar 320 kkal, berapa pun angka yang muncul di timbangan setelah matang. Berat matang bisa naik karena air terserap atau turun karena air menguap, dan keduanya tidak mengubah energinya.
| Porsi singkong kupas | Berat | Perkiraan energi |
|---|---|---|
| Potongan kecil | 60 g | 96 kkal |
| Potongan sedang, seukuran genggaman | 80 g | 128 kkal |
| Potongan besar | 120 g | 192 kkal |
| Setengah cangkir potong dadu | 103 g | 165 kkal |
| Satu cangkir potong dadu (takaran USDA) | 206 g | 330 kkal |
| Satu umbi singkong utuh (takaran USDA) | 408 g | 653 kkal |
Dua baris terakhir memakai takaran resmi USDA: satu cangkir singkong potong dadu setara 206 gram, dan satu umbi utuh setara 408 gram. Baris-baris di atasnya adalah hitungan sederhana dari angka per 100 gram, bukan pengukuran laboratorium terpisah, jadi perlakukan sebagai perkiraan yang cukup baik, bukan angka mutlak.

Umbi singkong mentah utuh di lapak pasar. Ukurannya jauh lebih besar dari sepotong singkong rebus di piring, jadi menimbang setelah dikupas memberi hitungan yang lebih jujur. Foto: Emőke Dénes / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
Angka 653 kkal untuk satu umbi utuh terdengar mengejutkan sampai kamu ingat betapa besar umbi singkong sebenarnya. Ini juga alasan singkong rebus jarang bisa dianggap camilan tanpa konsekuensi. Dua potong besar di sore hari sudah setara dengan sepiring nasi lengkap dengan lauknya, dan biasanya dimakan tanpa dihitung karena terasa "cuma singkong". Kalau kamu ingin menyandingkan angka ini dengan kebutuhan harianmu, hitung dulu targetnya lewat prinsip di defisit kalori untuk turun berat badan.
Singkong Rebus Dibanding Nasi Putih dan Umbi Lain
Sekarang bagian yang paling sering ditanyakan. Semua angka berikut berasal dari USDA FoodData Central, dihitung per 100 gram, dengan nomor FDC dicantumkan supaya kamu bisa menelusurinya sendiri.
| Bahan (FDC ID) | Energi | Karbohidrat | Serat | Protein | Kalium | Air |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Singkong kupas, mentah (169985) | 160 kkal | 38,1 g | 1,8 g | 1,36 g | 271 mg | 59,7 g |
| Nasi putih, matang (168878) | 130 kkal | 28,2 g | 0,4 g | 2,69 g | 35 mg | 68,4 g |
| Jagung manis, rebus (169999) | 96 kkal | 21,0 g | 2,4 g | 3,41 g | 218 mg | 73,4 g |
| Kentang rebus tanpa kulit (170440) | 86 kkal | 20,0 g | 1,8 g | 1,71 g | 328 mg | 77,5 g |
| Ubi jalar rebus tanpa kulit (168484) | 76 kkal | 17,7 g | 2,5 g | 1,37 g | 230 mg | 80,1 g |
Satu catatan supaya perbandingannya adil. Baris singkong memakai berat sebelum direbus, sedangkan empat baris lain memakai berat setelah dimasak. Perbedaan itu memang tidak ideal, dan penyebabnya sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. Tapi kolom paling kanan menunjukkan bahwa kesimpulannya tidak berubah: kadar air singkong adalah yang paling rendah di tabel, 59,7 gram per 100 gram, sementara ubi jalar rebus sudah 80,1 gram. Semakin sedikit air, semakin padat pati per gram, dan semakin tinggi kalorinya.

Singkong dan ubi jalar rebus dalam satu panci, pasangan yang sering muncul di meja makan Indonesia. Keduanya sama-sama umbi, tapi angka energinya berbeda seperti di tabel atas. Foto: Indonesiagood / Wikimedia Commons, CC BY 4.0.
Kesimpulan yang kurang nyaman: kalau tujuanmu semata-mata menurunkan kalori per gram, singkong bukan jawabannya. Ubi jalar rebus memberi kurang dari separuh energi singkong pada berat yang sama, dan kalori ubi Cilembu memperlihatkan bagaimana proses pemanggangan mengubah profil manisnya. Kentang rebus juga jauh lebih ringan, dengan kalium tertinggi di tabel. Jagung rebus berada di posisi menarik karena proteinnya paling tinggi, 3,41 gram, sekaligus kalorinya masih di bawah 100 kkal.
Lalu di mana singkong menang? Di serat dan mikronutrien, bukan di kalori. Serat singkong 1,8 gram per 100 gram, lebih dari empat kali lipat nasi putih yang cuma 0,4 gram. Kaliumnya 271 mg, sekitar tujuh kali lipat nasi putih yang hanya 35 mg. Singkong juga memuat 20,6 mg vitamin C per 100 gram, sementara nasi putih matang nol. Perbandingan penuh untuk nasi ada di pembahasan kalori nasi putih, dan pilihan penukar lain yang lebih ringan dirangkum di pengganti nasi untuk diet.
Tips: Kalau kamu menukar nasi dengan singkong, tukar berdasarkan energi, bukan berdasarkan volume piring. Satu centong nasi sekitar 100 gram setara 130 kkal, dan padanan energinya adalah kira-kira 81 gram singkong kupas, bukan sepotong besar. Menukar sepiring nasi dengan tiga potong singkong justru menambah kalori, meski di kepala terasa seperti pilihan yang lebih sehat.
Serat, Kalium, dan Indeks Glikemik: Titik Kuat dan Titik Lemahnya
Kepadatan energi singkong bukan kabar buruk untuk semua orang. Bagi orang yang butuh menambah berat badan, atau bagi pekerja yang aktivitas fisiknya berat, karbohidrat padat justru berguna. Masalahnya muncul kalau singkong dimakan sebagai camilan tambahan di atas nasi yang sudah dimakan tiga kali sehari. Itu bukan pengganti, itu penambah.
Soal indeks glikemik, di sinilah banyak artikel bahasa Indonesia berhenti pada satu angka lalu memperlakukannya sebagai kebenaran mutlak. Datanya sebenarnya lebih berantakan dari itu, dan lebih jujur kalau ditampilkan apa adanya. Sebuah tinjauan di African Health Sciences yang merangkum indeks glikemik pangan tradisional Kenya mencatat singkong rebus di angka 74,10 pada relawan sehat, dengan porsi uji 175 gram yang memuat 50 gram karbohidrat tersedia. Di studi yang sama, ubi jalar berada di 64,54 dan nasi putih rebus di 77.
Artinya singkong rebus tergolong indeks glikemik tinggi, hampir setara nasi putih, dan sedikit di atas ubi jalar. Tapi tinjauan yang sama juga mencatat sebuah studi Karibia melaporkan indeks glikemik singkong 94 pada relawan sehat, jauh lebih tinggi. Di sisi berlawanan, pada kelompok penderita diabetes tipe 2, singkong yang direbus dengan garam tercatat 46, angka yang tergolong rendah. Penulis tinjauan itu sendiri memberi catatan bahwa porsi ujinya mungkin tidak setara 50 gram karbohidrat tersedia, dan bahwa asupan natrium yang lebih tinggi diasosiasikan dengan indeks glikemik yang lebih rendah.
Jadi rentangnya membentang dari 46 sampai 94 untuk bahan yang sama. Menurut saya, angka indeks glikemik singkong tidak layak dipakai sebagai janji apa pun. Yang lebih berguna adalah dua hal praktis. Pertama, singkong rebus adalah karbohidrat yang cepat dicerna, jadi perlakukan seperti nasi, bukan seperti sayur. Kedua, tinjauan itu juga menyebut memasak dengan air berlebih membuat pati lebih cepat dicerna, sementara memasak dengan air terbatas memberi hasil yang berbeda. Metode masak memang ikut menentukan responsnya.
Kalau kamu punya diabetes, pradiabetes, atau gangguan gula darah lain, susun porsi karbohidratmu bersama dokter atau ahli gizi. Artikel ini menyajikan data komposisi pangan, bukan rencana terapi, dan tidak ada satu pun angka di sini yang bisa menggantikan pemeriksaan langsung.
Rebus, Goreng, atau Keripik: Kenapa Angkanya Berubah Drastis
Ini bagian yang paling menentukan dalam praktik sehari-hari. Singkong adalah bahan yang sangat gampang menyerap minyak, dan setiap tahap pengolahan menaikkan angkanya dengan pola yang bisa dibaca jelas di kolom lemak.
| Bentuk olahan (FDC ID) | Energi per 100 g | Lemak per 100 g | Apa yang ditambahkan menurut USDA |
|---|---|---|---|
| Singkong kupas, mentah (169985) | 160 kkal | 0,28 g | tidak ada |
| Cassava, cooked (2709564) | 191 kkal | 3,03 g | 3 g minyak atau lemak meja + 0,3 g garam |
| Yuca fries, singkong goreng (2709565) | 269 kkal | 13,94 g | 15 g minyak sayur + 0,4 g garam |
| Keripik singkong asin (173152) | 515 kkal | 25,9 g | digoreng sampai kering, air tersisa 2,8 g |
| Tapioka butir kering (169717) | 358 kkal | 0,02 g | air dibuang habis, serat tinggal 0,9 g |
Perhatikan bahwa kolom energi dan kolom lemak bergerak nyaris seiring. Dari singkong mentah ke singkong goreng, energinya naik dari 160 ke 269 kkal per 100 gram, dan lemaknya melompat dari 0,28 gram ke 13,94 gram. Singkongnya tidak berubah sama sekali. Yang bertambah adalah minyak yang meresap ke dalam pori-pori pati yang baru saja mengembang.
Keripik singkong adalah ujung ekstremnya. Dengan 515 kkal per 100 gram, satu ons keripik seberat 28,35 gram sudah memberi sekitar 146 kkal, dan satu bungkus 105 gram menurut takaran USDA setara sekitar 541 kkal. Itu lebih banyak daripada satu umbi singkong utuh yang direbus. Kalau kamu sedang menghitung kalori dan sering tergoda gorengan, pola serupa berlaku untuk hampir semua bahan bertepung, dan angka-angkanya dirinci di kalori gorengan.
Baris tapioka menarik karena arahnya berbeda. Butir tapioka kering berisi 358 kkal per 100 gram bukan karena berlemak, tapi karena airnya dibuang habis. Lemaknya nyaris nol, 0,02 gram. Harga yang dibayar terlihat di kolom lain: seratnya tinggal 0,9 gram per 100 gram, dan proteinnya cuma 0,19 gram. Tapioka pada dasarnya adalah pati murni yang sudah kehilangan hampir semua hal berguna dari umbi asalnya.
Tips: Kalau ingin singkong tetap masuk anggaran kalori, yang paling menentukan bukan cara masaknya saja, tapi apa yang ditambahkan sesudahnya. Parutan kelapa, gula merah cair, susu kental manis, dan keju parut bisa menambah lebih banyak kalori daripada singkongnya sendiri. Singkong rebus polos yang dimakan hangat dengan sedikit garam adalah versi yang paling mudah dihitung.
Sianida pada Singkong: Fakta, Bukan Bahan Menakut-nakuti
Bagian ini perlu ditulis hati-hati karena mudah sekali berubah jadi konten menakutkan tanpa dasar. Faktanya sederhana dan memang nyata.
WHO menempatkan singkong dalam daftar pangan penting yang mengandung glikosida sianogenik, bersama sorgum, buah berbiji keras, rebung, dan almon. Glikosida sianogenik adalah fitotoksin, yaitu senyawa beracun yang diproduksi tumbuhan, dan WHO mencatat senyawa ini ada pada setidaknya dua ribu spesies tanaman. Tingkat bahayanya bergantung pada apakah konsumsi tanaman itu menghasilkan kadar sianida yang beracun bagi manusia. WHO juga merinci tanda klinis keracunan sianida akut, mulai dari napas cepat, tekanan darah turun, pusing, sakit kepala, nyeri perut, muntah, sampai diare dan kebingungan.
Yang perlu digarisbawahi: ini bukan alasan berhenti makan singkong. Singkong adalah makanan pokok bagi ratusan juta orang di dunia, dan pengolahan tradisional yang benar sudah menangani masalah ini sejak lama. Risikonya melekat pada singkong mentah, singkong yang dimasak setengah matang, dan varietas pahit yang tidak diolah dengan benar.
FAO menjelaskan mekanismenya dengan cukup gamblang dalam publikasi Cassava processing. Asam sianida pada umbi segar dihancurkan dengan memasak irisan umbi secara perlahan, dimulai dari air dingin yang banyak, supaya pemanasan bertahap memastikan hidrolisis senyawa beracunnya berlangsung. Kalau umbi langsung dihantam panas tinggi, kerja enzim ikut rusak, dan ada kemungkinan asam sianida terikat justru tertinggal, yang pada varietas pahit bisa berbahaya. FAO juga mencatat bahwa dengan pemasakan sederhana, umbi singkong pada dasarnya setara kentang.
Menariknya, FAO menyebut praktik Indonesia secara spesifik: umbi sering dibungkus daun setelah dilumuri ragi, lalu difermentasi sekitar 24 jam sampai menjadi lauk yang lembut dan sedikit beralkohol. Yang kita kenal sebagai tape singkong ternyata tercatat di literatur pengolahan pangan internasional sebagai salah satu jalur pengolahan tradisional.
Dari semua itu, langkah praktisnya jadi jelas dan tidak rumit:
- Kupas kulit luar dan lapisan tepat di bawahnya sampai bersih. Yang dimasak adalah bagian tengah umbi yang teksturnya lebih lunak, dan mengupas memang langkah baku di semua jalur pengolahan singkong.
- Potong kecil, jangan direbus utuh. Potongan kecil memastikan panas menembus sampai ke tengah.
- Rebus dengan air yang banyak, mulai dari air dingin, biarkan memanas bertahap. Ini persis mekanisme yang dijelaskan FAO.
- Buang air rebusannya, lalu pastikan singkong benar-benar empuk sebelum dimakan. Tekstur yang masih keras di bagian tengah adalah tanda pemasakannya belum selesai.
- Jangan makan singkong mentah, dan hentikan konsumsi kalau rasanya pahit menyengat. Rasa pahit adalah sinyal, bukan selera yang perlu dibiasakan.
Kalau muncul gejala seperti pusing berat, mual, muntah, atau sesak setelah mengonsumsi singkong, terutama singkong yang pahit atau yang tidak jelas cara pengolahannya, segera cari pertolongan tenaga kesehatan. Artikel ini tidak memberi penanganan medis apa pun, dan tidak ada dosis, ramuan, atau langkah pertolongan yang boleh kamu ambil dari sini.
Menaruh Singkong Rebus di Rencana Makan Harianmu
Setelah semua angka di atas, posisi singkong rebus sebenarnya cukup mudah dirumuskan. Dia bukan makanan rendah kalori, dan memperlakukannya seperti itu adalah kesalahan yang paling sering saya lihat. Dia adalah sumber karbohidrat padat yang membawa serat, kalium, dan vitamin C lebih banyak daripada nasi putih, dengan syarat kamu menakarnya.
Cara menakar yang paling praktis adalah mengonversinya ke satuan yang sudah kamu kenal. Kalau porsi nasimu biasanya 200 gram, itu sekitar 260 kkal, dan padanan energinya adalah sekitar 163 gram singkong kupas. Kalau kamu terbiasa satu centong 100 gram nasi setara 130 kkal, padanannya sekitar 81 gram singkong. Angka-angka ini turunan sederhana dari data USDA, dan gunanya bukan supaya kamu menimbang seumur hidup, melainkan supaya kamu tahu seperti apa ukuran yang wajar terlihat di piring.
Satu kelemahan yang perlu ditutup: proteinnya sangat rendah. Dengan 1,36 gram per 100 gram, singkong sendirian bukan makanan yang menahan lapar dalam waktu lama. Nasi putih pun lebih tinggi di 2,69 gram, dan jagung rebus dua setengah kali lipatnya di 3,41 gram. Konsekuensinya sederhana: singkong rebus perlu ditemani sumber protein, entah telur, ikan, ayam, tahu, tempe, atau kacang-kacangan. Tanpa itu, kamu kenyang sebentar lalu lapar lagi dua jam kemudian, dan biasanya berakhir dengan camilan tambahan yang tidak masuk hitungan.

Singkong (kasubi) dan ubi jalar (batata) rebus disajikan dengan gohu ikan khas Maluku Utara. Pola seperti ini menutup kelemahan protein singkong dengan lauk ikan dan sayur. Foto: Ana Ainina / Wikimedia Commons, CC BY 4.0.
Singkong rebus juga punya nilai yang tidak muncul di tabel gizi mana pun, dan sayang kalau diabaikan. Dia murah, tersedia hampir di seluruh Indonesia, tahan lama sebagai bahan mentah, dan tidak butuh alat masak khusus. Dalam praktik, makanan yang benar-benar kamu makan konsisten selama berbulan-bulan jauh lebih menentukan hasilnya dibanding makanan "superfood" yang kamu beli dua kali lalu berhenti karena mahal. Kalau singkong rebus adalah karbohidrat yang paling gampang kamu akses, memakainya dengan takaran yang benar jauh lebih baik daripada memaksakan bahan impor yang tidak berkelanjutan buat dompetmu.
Tips: Rebus singkong dalam jumlah besar sekali waktu, dinginkan, lalu simpan di kulkas dalam wadah tertutup dan porsi-porsi kecil yang sudah ditimbang. Selain menghemat waktu, kamu jadi punya batas porsi yang sudah ditentukan sebelum lapar datang. Menakar setelah lapar hampir selalu berakhir dengan potongan yang lebih besar daripada yang kamu rencanakan.
Penutupnya begini. Singkong rebus 160 kkal per 100 gram kupas adalah makanan pokok yang jujur: padat energi, kaya serat dan kalium dibanding nasi, miskin protein, dan sangat sensitif terhadap cara masak. Direbus polos, dia salah satu karbohidrat paling terjangkau di Indonesia. Digoreng, dia melompat ke 269 kkal per 100 gram. Dijadikan keripik, dia menembus 515 kkal. Bahannya sama, keputusannya yang berbeda.
Dan soal sianida, jawabannya bukan menghindari singkong, melainkan mengolahnya seperti yang sudah dilakukan orang selama berabad-abad: kupas bersih, potong kecil, rebus perlahan dari air dingin, buang airnya, masak sampai empuk. Lima langkah itu jauh lebih berguna daripada rasa takut yang tidak disertai instruksi.
Untuk memperluas konteks nutrisi, kamu bisa melanjutkan ke Kalori Semangka per 100 Gram dan per Potong Ukuran Nyata, Kalori Pepaya per 100 Gram, Per Potong, dan Per Buah Utuh, Kalori Kurma per Butir dan per 100 Gram (Data USDA).



