Kadar gula darah normal untuk orang dewasa yang tidak hamil bergantung pada jenis tesnya: glukosa plasma puasa 99 mg/dL atau kurang, glukosa 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral (TTGO) 139 mg/dL atau kurang, dan HbA1c di bawah 5,7 persen. Angka-angka itu dipakai NIDDK dengan merujuk kriteria American Diabetes Association (ADA), dan PERKENI memakai batas yang sama untuk Indonesia. Di atas batas itu ada zona prediabetes, lalu ambang diabetes: puasa 126 mg/dL atau lebih, TTGO 2 jam 200 mg/dL atau lebih, dan HbA1c 6,5 persen atau lebih.
Dua hal perlu kamu pegang sejak awal. Pertama, angka di atas adalah ambang untuk skrining dan diagnosis, diukur di laboratorium dari plasma darah vena, bukan angka yang dibaca dari glukometer rumahan. Kedua, angka normal untuk orang umum berbeda dari target kontrol untuk orang yang sudah didiagnosis diabetes. Target itu punya tabel sendiri di bagian akhir artikel ini, dan yang menetapkannya adalah dokter, per pasien.
Tabel Ambang Normal, Prediabetes, dan Diabetes per Jenis Tes
Tabel berikut merangkum ambang untuk orang dewasa yang tidak hamil. Angkanya sama di tiga rujukan yang dibandingkan di sini: halaman Diabetes Tests and Diagnosis dari NIDDK, Standards of Care in Diabetes 2026 dari ADA (Tabel 2.1 dan 2.2), serta Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2021 dari PERKENI (Tabel 3 dan Tabel 4).
| Jenis tes | Normal | Prediabetes | Ambang diabetes |
|---|---|---|---|
| Glukosa plasma puasa (minimal 8 jam) | 99 mg/dL atau kurang | 100 sampai 125 mg/dL | 126 mg/dL atau lebih |
| TTGO, glukosa plasma 2 jam setelah beban 75 g | 139 mg/dL atau kurang | 140 sampai 199 mg/dL | 200 mg/dL atau lebih |
| Glukosa plasma sewaktu | Tidak dipakai untuk menilai normal | Tidak dipakai | 200 mg/dL atau lebih, hanya bila disertai gejala klasik atau krisis hiperglikemia |
| HbA1c (metode terstandar NGSP) | Di bawah 5,7 persen | 5,7 sampai 6,4 persen | 6,5 persen atau lebih |
Beberapa catatan agar tabel ini tidak disalahbaca. PERKENI menuliskan rentang normal glukosa puasa sebagai 70 sampai 99 mg/dL dan rentang normal TTGO 2 jam sebagai 70 sampai 139 mg/dL, jadi batas bawah 70 mg/dL juga ikut disebut. ADA menambahkan bahwa untuk ketiga tes, risiko bersifat kontinu: ia sudah ada sedikit di bawah batas bawah rentang prediabetes dan membesar tidak seimbang di ujung atasnya. Artinya hasil 98 mg/dL tidak otomatis sama amannya dengan 80 mg/dL, meskipun keduanya tercetak normal.
PERKENI juga membedakan dua jenis prediabetes berdasarkan tesnya. Glukosa darah puasa terganggu (GDPT) berarti glukosa puasa 100 sampai 125 mg/dL dengan TTGO 2 jam di bawah 140 mg/dL. Toleransi glukosa terganggu (TGT) berarti TTGO 2 jam 140 sampai 199 mg/dL dengan glukosa puasa di bawah 100 mg/dL. Keduanya bisa juga ditemukan bersamaan, dan prediabetes bisa pula ditetapkan dari HbA1c 5,7 sampai 6,4 persen.
Untuk kehamilan, tabel di atas tidak berlaku. NIDDK menyebut sebagian tes memakai batas yang berbeda pada ibu hamil. Sebagai gambaran, Standards of Care 2026 menjelaskan strategi satu tahap untuk diabetes gestasional berupa TTGO 75 g pada usia kehamilan 24 sampai 28 minggu, dengan ambang puasa 92 mg/dL, 1 jam 180 mg/dL, dan 2 jam 153 mg/dL, dan itu hanya satu dari dua strategi yang dipakai. Penilaian gula darah selama hamil sepenuhnya urusan dokter kandungan atau bidan yang merawat.
Empat Jenis Tes dan Apa yang Diukur Masing-Masing
Keempat tes di tabel tidak mengukur hal yang sama. Standards of Care 2026 menegaskan bahwa glukosa puasa, glukosa 2 jam TTGO, dan HbA1c mencerminkan aspek metabolisme glukosa yang berbeda, sehingga ambang diagnosisnya tidak selalu menjaring orang yang sama. Dibanding ambang puasa dan HbA1c, nilai 2 jam TTGO mendiagnosis lebih banyak orang dengan prediabetes dan diabetes.
Glukosa plasma puasa
Tes ini memotret kadar gula darah pada satu titik waktu. NIDDK menjelaskan bahwa hasil paling andal didapat bila tes dilakukan pagi hari setelah puasa minimal 8 jam, dan puasa di sini berarti tidak makan atau minum apa pun kecuali seteguk air. ADA dan PERKENI mendefinisikan puasa sebagai tidak ada asupan kalori minimal 8 jam. Kopi manis, teh manis, atau susu di pagi hari sudah membatalkan syarat ini.
Tes toleransi glukosa oral (TTGO)
TTGO mengukur seberapa cepat tubuh membersihkan gula dari darah setelah diberi beban. PERKENI menguraikan prosedur yang mengacu pada WHO: tiga hari sebelum tes kamu tetap makan dengan karbohidrat cukup dan beraktivitas seperti biasa, lalu berpuasa minimal 8 jam sejak malam dengan air putih tetap boleh. Pagi harinya darah puasa diambil, kemudian kamu minum 75 gram glukosa yang dilarutkan dalam 250 ml air dalam waktu 5 menit, berpuasa lagi, dan darah diambil 2 jam setelah larutan habis. Selama menunggu, kamu diminta beristirahat dan tidak merokok. Standards of Care 2026 memperinci syarat asupan sebelum tes, yaitu karbohidrat minimal 150 gram per hari selama 3 hari.
PNPK Tata Laksana Diabetes Melitus pada Anak dari Kementerian Kesehatan menambahkan satu larangan yang penting: TTGO tidak boleh dilakukan bila diagnosis sudah dapat ditegakkan dengan kriteria glukosa puasa atau sewaktu, karena berisiko mengakibatkan hiperglikemia berat.
Glukosa plasma sewaktu
Tes ini bisa diambil kapan saja tanpa memperhatikan jam makan terakhir. Karena hasilnya sangat dipengaruhi apa yang baru dimakan, ia tidak dipakai untuk menilai normal atau prediabetes. NIDDK menyebut dokter kadang memakainya saat pasien sudah bergejala dan tidak ingin menunggu puasa 8 jam. Keluhan klasik yang dimaksud PERKENI adalah poliuria (banyak kencing), polidipsia (sering haus), polifagia (sering lapar), dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Gejala lain seperti lemas, kesemutan, gatal, dan mata kabur dibahas lebih rinci di gejala awal diabetes.
HbA1c
HbA1c mengukur bagian hemoglobin di sel darah merah yang terikat glukosa. NIDDK menjelaskan tes ini mencerminkan rata-rata gula darah selama sekitar 3 bulan terakhir, dan PERKENI menyebutnya indeks kontrol glikemik jangka panjang, 2 sampai 3 bulan. Kelebihannya, menurut Standards of Care 2026, tidak perlu puasa, sampelnya lebih stabil, dan hasilnya lebih sedikit terganggu oleh stres, perubahan makan, atau sakit dari hari ke hari. Kekurangannya, sensitivitasnya pada ambang diagnosis lebih rendah dibanding glukosa 2 jam TTGO, dan ada sejumlah kondisi yang membuat hasilnya menyimpang (dibahas di bagian tersendiri di bawah).
Kenapa Satu Hasil Belum Cukup untuk Diagnosis
Ini aturan yang paling sering terlewat. Standards of Care 2026 menulis bahwa tanpa hiperglikemia yang tidak meragukan, diagnosis memerlukan dua hasil abnormal. Dua hasil itu bisa berasal dari dua tes berbeda yang diambil pada waktu yang sama, misalnya HbA1c dan glukosa puasa dari satu sampel darah, atau dari tes yang sama pada dua waktu berbeda. NIDDK menyampaikan hal yang sama dengan bahasa awam: biasanya dokter memakai tes kedua untuk memastikan.
ADA juga mengatur apa yang terjadi bila dua tes tidak sepakat. Jika satu tes melewati ambang dan tes lainnya tidak, tes yang melewati ambang itu diulang, dengan memperhatikan faktor yang bisa memengaruhi hasil HbA1c atau glukosa. Diagnosis ditetapkan berdasarkan tes konfirmasi tersebut. Contoh yang diberikan ADA: seseorang dengan dua kali HbA1c 6,5 persen atau lebih tetapi glukosa puasa di bawah 126 mg/dL tetap dianggap menyandang diabetes. Untuk hasil yang dekat ambang, ADA menganjurkan tenaga kesehatan memberi edukasi tentang gejala hiperglikemia dan mengulang tes dalam 3 sampai 6 bulan.
Kementerian Kesehatan, lewat PNPK untuk anak, merumuskannya lebih tegas. Tanpa gejala klinis, pemeriksaan harus diulang pada hari yang berbeda, dan diagnosis tidak ditegakkan berdasarkan satu kali pemeriksaan. PNPK yang sama juga menyebut satu hasil glukosa sewaktu yang diambil saat stres berat, misalnya trauma atau infeksi berat, tanpa gejala diabetes sebelumnya tidak dapat menjadi dasar diagnosis dan harus dikonfirmasi.
Di mana ketiga rujukan ini berbeda? Perbedaan terbesar ada pada HbA1c.
| Aspek | ADA Standards of Care 2026 | PERKENI 2021 (dewasa) | PNPK Kemenkes 2024 (anak) |
|---|---|---|---|
| Ambang HbA1c diabetes | 6,5 persen atau lebih | 6,5 persen atau lebih | Di atas 6,5 persen |
| Syarat metode HbA1c | Laboratorium dengan metode tersertifikasi NGSP dan terstandar ke DCCT | Metode terstandar NGSP dan DCCT, dengan catatan tidak semua laboratorium di Indonesia memenuhi standar NGSP | Dengan standar NGSP dan DCCT |
| Posisi HbA1c | Setara dengan kriteria glukosa | Boleh untuk diagnosis, tetapi tidak dipakai pada anemia, hemoglobinopati, transfusi 2 sampai 3 bulan terakhir, gangguan umur eritrosit, dan gangguan ginjal | HbA1c saja tidak disarankan untuk diagnosis, dan HbA1c di bawah 6,5 persen tidak menyingkirkan diagnosis |
| Konfirmasi | Dua hasil abnormal bila tidak ada hiperglikemia yang jelas | Kriteria dipenuhi salah satu dari empat tes | Tanpa gejala, pemeriksaan diulang pada hari berbeda |
Implikasinya praktis. Kalau hasil HbA1c-mu berasal dari laboratorium yang tidak jelas standarnya, atau angkanya tidak cocok dengan hasil gula darah puasa, jangan jadikan satu angka HbA1c itu pegangan. Tanyakan ke dokter apakah perlu dikonfirmasi dengan tes glukosa plasma.
Batas informasi ini: tabel di artikel ini membantu kamu membaca lembar hasil, bukan mendiagnosis diri sendiri. Diagnosis diabetes, jenisnya (tipe 1 atau tipe 2), dan rencana terapinya ditetapkan dokter atau puskesmas setelah melihat hasil laboratorium, keluhan, dan riwayat kesehatanmu. Bugar Selalu belum punya peninjau tenaga kesehatan, dan artikel ini tidak memuat anjuran obat atau dosis apa pun.
Persiapan Tes, Glukometer Rumahan, dan Satuan mmol/L
Hasil tes gula darah mudah bergeser karena hal-hal kecil sebelum dan sesudah darah diambil. Standards of Care 2026 mencatat bahwa aktivitas fisik yang baru dilakukan, sakit, atau stres akut bisa memengaruhi kadar glukosa. ADA juga menyoroti glikolisis, yaitu sel darah yang terus memakai glukosa di dalam tabung: bila sampel tidak segera diproses dan dianalisis, kadar glukosa akan terbaca lebih rendah dari yang sebenarnya. Ini salah satu alasan diagnosis dilakukan di laboratorium dengan prosedur baku.
Untuk persiapan, ringkasannya begini. Tes glukosa puasa dan TTGO perlu puasa minimal 8 jam dengan air putih tetap boleh. Menjelang TTGO, jangan mengurangi karbohidrat secara drastis dalam tiga hari sebelumnya, karena PERKENI dan ADA sama-sama meminta asupan karbohidrat tetap cukup. Tes HbA1c dan tes sewaktu tidak memerlukan puasa. Kalau kamu sedang demam, baru sembuh dari sakit berat, atau baru olahraga keras, beri tahu petugas laboratorium atau dokter.
Lalu bagaimana dengan glukometer yang dipakai di rumah? PERKENI 2021 menganjurkan diagnosis memakai pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena, sementara pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan glukometer. NIDDK lebih lugas: alat pengukur gula darah yang dijual bebas tidak dapat mendiagnosis diabetes. Glukometer memakai darah kapiler dari ujung jari. PERKENI menyebut hasil alat ini dapat dipercaya sejauh kalibrasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan sesuai standar, dan hasilnya perlu dibandingkan dengan cara konvensional secara berkala. Satu-satunya kelonggaran dalam pedoman PERKENI adalah bila fasilitas TTGO tidak tersedia, pemeriksaan penyaring dengan glukosa darah kapiler diperbolehkan sebagai patokan diagnosis, dan itu pun tetap dilakukan dalam kerangka pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. Standards of Care 2026 juga menyatakan belum ada cukup bukti untuk memakai continuous glucose monitoring (CGM) dalam skrining atau diagnosis.
Satuan juga sering membingungkan, terutama saat membaca hasil dari luar negeri atau alat yang disetel ke mmol/L. Standards of Care 2026 mencantumkan kedua satuan berdampingan, misalnya 126 mg/dL setara 7,0 mmol/L, 200 mg/dL setara 11,1 mmol/L, 100 mg/dL setara 5,6 mmol/L, dan 70 mg/dL setara 3,9 mmol/L. Dari pasangan angka itu terlihat faktor pengalinya sekitar 18: bagi angka mg/dL dengan 18 untuk mendapat mmol/L, atau kalikan angka mmol/L dengan 18 untuk mendapat mg/dL. Contohnya, 7,8 mmol/L dikali 18 sekitar 140 mg/dL, yang sesuai dengan batas bawah TTGO prediabetes versi ADA.
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah berapa gula darah setelah makan yang normal pada orang tanpa diabetes. Rujukan yang kami buka tidak menetapkan ambang diagnosis untuk gula darah setelah makan biasa. Yang punya ambang baku adalah glukosa 2 jam setelah beban glukosa 75 gram dalam TTGO, karena beban itu seragam, sementara isi piring tiap orang tidak. Jadi angka setelah makan nasi padang tidak bisa dibandingkan langsung dengan tabel TTGO.
Kapan Hasil HbA1c Tidak Bisa Dipercaya
HbA1c bergantung pada sel darah merah, jadi apa pun yang mengubah umur atau jumlah sel darah merah ikut mengubah hasilnya. NIDDK mendaftar beberapa kondisi itu: kehilangan darah yang baru terjadi, penyakit sel sabit, terapi eritropoietin, hemodialisis, dan transfusi. Pada orang yang sangat kekurangan zat besi, misalnya anemia defisiensi besi, hasil HbA1c bisa tinggi palsu. Gagal ginjal dan penyakit hati juga disebut sebagai penyebab hasil yang keliru.
Satu poin dari NIDDK relevan bagi pembaca Indonesia. Orang keturunan Afrika, Mediterania, atau Asia Tenggara, atau yang punya anggota keluarga dengan anemia sel sabit atau talasemia, bisa membawa varian hemoglobin yang mengganggu sebagian metode HbA1c. Sebagian besar pembawa varian ini tidak bergejala dan tidak tahu dirinya pembawa. Tenaga kesehatan akan mencurigai gangguan ini bila hasil HbA1c dan glukosa darah tidak cocok.
Standards of Care 2026 merumuskannya sebagai rekomendasi: evaluasi kemungkinan gangguan pada salah satu tes bila ada ketidakcocokan yang konsisten dan besar antara glukosa darah dan HbA1c. Pada kondisi yang mengubah hubungan antara HbA1c dan gula darah, termasuk sebagian varian hemoglobin, kehamilan, defisiensi G6PD, HIV, dan kondisi yang mengubah pergantian sel darah merah, ADA menganjurkan diagnosis memakai kriteria glukosa plasma. PERKENI 2021 menyebut daftar serupa, yaitu anemia, hemoglobinopati, riwayat transfusi darah 2 sampai 3 bulan terakhir, kondisi yang memengaruhi umur eritrosit, dan gangguan fungsi ginjal, lalu menyimpulkan bahwa pada kondisi itu HbA1c tidak dapat dipakai sebagai alat diagnosis maupun evaluasi.
HbA1c juga sering dilaporkan bersama perkiraan rata-rata glukosa (estimated average glucose, eAG). Menurut tabel yang dipakai ADA dan CDC, HbA1c 6 persen setara eAG 126 mg/dL, HbA1c 7 persen setara 154 mg/dL, dan HbA1c 8 persen setara 183 mg/dL. ADA mengingatkan bahwa angka ini berasal dari satu studi tahun 2008, jadi ia perkiraan, bukan pengganti pengukuran langsung.
Target Kontrol untuk Penyandang Diabetes Berbeda dari Angka Normal
Begitu seseorang didiagnosis diabetes, pertanyaannya berubah dari "apakah angkaku normal" menjadi "berapa target yang aman untukku". Ini dua hal yang berbeda. Mengejar angka orang sehat pada penyandang diabetes yang memakai obat penurun gula tertentu justru bisa menimbulkan gula darah terlalu rendah.
Standards of Care 2026 merangkum target umum untuk banyak orang dewasa dengan diabetes yang tidak hamil dalam Tabel 6.3, dan PERKENI 2021 memuat angka serupa dalam Tabel 11 Sasaran Pengendalian Diabetes Melitus.
| Parameter | Target umum ADA 2026 | Sasaran PERKENI 2021 |
|---|---|---|
| HbA1c | Di bawah 7 persen untuk banyak orang dewasa tanpa hipoglikemia berat | Di bawah 7 persen atau individual |
| Glukosa kapiler sebelum makan | 80 sampai 130 mg/dL (4,4 sampai 7,2 mmol/L) | 80 sampai 130 mg/dL |
| Glukosa kapiler setelah makan | Puncak di bawah 180 mg/dL (10,0 mmol/L) | 2 jam setelah makan di bawah 180 mg/dL |
Kata kunci di kedua pedoman adalah individual. ADA menyatakan target yang lebih longgar atau lebih ketat bisa tepat untuk orang tertentu, dan target ditetapkan berdasarkan lama menderita diabetes, usia dan harapan hidup, penyakit penyerta, penyakit kardiovaskular atau komplikasi mikrovaskular lanjut, serta gangguan kesadaran terhadap hipoglikemia. ADA juga menyebut target HbA1c yang lebih rendah, misalnya di bawah 6,5 persen, bisa tepat untuk sebagian orang. Di arah sebaliknya, PERKENI menyebut target HbA1c untuk pasien usia lanjut antara 7,5 sampai 8,5 persen. Bagi pengguna CGM, ADA menambahkan target waktu dalam rentang lebih dari 70 persen.
Soal frekuensi, ADA menganjurkan status glikemik dinilai minimal dua kali setahun, dan lebih sering, misalnya tiap 3 bulan, bagi yang belum mencapai target atau baru berganti terapi. Semua angka di tabel ini adalah titik awal percakapan dengan doktermu, bukan target yang bisa kamu tetapkan sendiri. Untuk pengaturan makan yang menopang target itu, lihat makanan untuk penderita diabetes, dan untuk gambaran penyakitnya secara utuh ada di diabetes melitus.
Gula Darah Terlalu Rendah dan Tanda Gawat Darurat
Hipoglikemia adalah sisi lain yang wajib dipahami, terutama oleh penyandang diabetes yang memakai insulin atau obat pemacu sekresi insulin. PERKENI 2021 menyebut hipoglikemia ditandai kadar glukosa darah di bawah 70 mg/dL dan paling sering disebabkan oleh penggunaan sulfonilurea dan insulin. Standards of Care 2026 membaginya dalam tiga level (Tabel 6.4):
- Level 1: glukosa di bawah 70 mg/dL (3,9 mmol/L) dan masih 54 mg/dL (3,0 mmol/L) atau lebih.
- Level 2: glukosa di bawah 54 mg/dL (3,0 mmol/L).
- Level 3: kejadian berat dengan perubahan kondisi mental dan/atau fisik yang memerlukan bantuan orang lain untuk pemulihan, berapa pun kadar glukosanya.
NIDDK mendaftar gejala ringan sampai sedang: gemetar, lapar, lelah, pusing atau linglung, mudah tersinggung, jantung berdebar cepat atau tidak teratur, sakit kepala, serta sulit melihat atau berbicara jelas. Bila sangat rendah, otak bisa berhenti bekerja normal, sehingga orang bisa pingsan atau kejang. PERKENI juga mengingatkan bahwa sebagian pasien tidak merasakan gejala meski gula darahnya rendah, dan penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu dipikirkan kemungkinan hipoglikemia.
Untuk penyandang diabetes yang masih sadar dengan gula darah di bawah target atau di bawah 70 mg/dL, NIDDK menganjurkan segera mengonsumsi 15 sampai 20 gram glukosa atau karbohidrat, lalu mengecek ulang. Rencana penanganan yang lebih rinci, termasuk kapan dan bagaimana keluarga menolong, sebaiknya disusun bersama dokter sebelum kejadian terjadi.
Di sisi gula darah tinggi, CDC menjelaskan ketoasidosis diabetik (KAD) biasanya berkembang pelan, diawali rasa sangat haus dan kencing jauh lebih sering dari biasa. Bila tidak ditangani, gejala berat bisa muncul cepat: napas cepat dan dalam, kulit dan mulut kering, wajah kemerahan, napas berbau buah, sakit kepala, otot kaku atau nyeri, sangat lelah, mual dan muntah, serta nyeri perut. CDC juga mencatat KAD kadang menjadi tanda pertama diabetes pada orang yang belum pernah didiagnosis.
Kapan harus ke dokter atau IGD: segera ke IGD atau hubungi layanan gawat darurat bila seseorang dengan diabetes pingsan, kejang, linglung, atau tidak bisa makan dan minum sendiri, karena itu tanda hipoglikemia berat (level 3 menurut ADA). Hal yang sama berlaku bila muncul napas cepat dan dalam, napas berbau buah, muntah, dan nyeri perut, yang menurut CDC merupakan gejala ketoasidosis diabetik. Periksakan diri ke dokter atau puskesmas dalam waktu dekat bila kamu punya keluhan klasik (banyak kencing, sering haus, berat badan turun tanpa sebab) atau hasil tes di zona prediabetes maupun diabetes.
Kalau hasil tesmu jatuh di zona prediabetes, itu kabar yang masih bisa dikerjakan. PERKENI menganjurkan kelompok prediabetes diperiksa ulang tiap tahun, sementara kelompok risiko tinggi dengan hasil normal diulang tiap 3 tahun. Langkah pencegahan yang punya dasar bukti dibahas di cara mencegah diabetes, dan kamu bisa mulai dengan mengecek berat badan lewat kalkulator BMI, karena PERKENI memakai indeks massa tubuh 23 kg/m2 atau lebih sebagai salah satu dasar skrining.



