Gejala awal diabetes yang paling khas ada empat: sering buang air kecil, rasa haus yang tidak kunjung hilang, cepat lapar, dan berat badan turun padahal tidak sedang berusaha menurunkannya. Di belakang empat keluhan itu biasanya menyusul rasa lelah, pandangan kabur, luka yang lama sembuh, kesemutan di tangan atau kaki, dan infeksi yang berulang. Masalahnya, banyak orang dengan diabetes, terutama tipe 2, tidak merasakan satu pun dari gejala tersebut selama bertahun-tahun. Jadi daftar gejala berguna untuk tahu kapan harus periksa, tetapi yang memastikan ada atau tidaknya diabetes tetap tes gula darah di laboratorium, puskesmas, atau klinik.
Artikel ini membahas gejala itu satu per satu, kenapa tubuh memunculkannya, beda pola kemunculannya pada tipe 1 dan tipe 2, gejala pada anak dan ibu hamil, tes yang biasanya diminta dokter, dan tanda bahaya yang tidak boleh ditunggu sampai besok. Kalau kamu ingin gambaran utuh tentang penyakitnya lebih dulu, mulailah dari pengertian diabetes melitus.
Empat Gejala Klasik dan Kenapa Tubuh Memunculkannya
Keempat gejala klasik ini sebenarnya satu cerita yang sama, dilihat dari sisi yang berbeda. Kuncinya adalah insulin, hormon yang membantu gula dari darah masuk ke sel untuk dipakai sebagai energi. NHS menjelaskan bahwa diabetes terjadi ketika tubuh tidak membuat cukup insulin, tidak membuatnya sama sekali, atau insulinnya tidak bekerja dengan baik (resistansi insulin). Akibatnya gula menumpuk di darah, sementara sel justru kekurangan bahan bakar. Detail kenapa kondisi itu terjadi dibahas terpisah di artikel penyebab diabetes. Di sini yang penting adalah akibatnya.
Sering buang air kecil. MedlinePlus menjelaskan bahwa dalam keadaan normal urine hampir tidak mengandung gula, karena ginjal menahan gula dan mengembalikannya ke aliran darah. Ketika gula darah terlalu tinggi, kemampuan ginjal menahan gula terlampaui dan gula ikut terbuang lewat urine, dan menurut sumber yang sama, diabetes adalah penyebab paling umum kadar gula urine yang tinggi. Gula yang terbuang itu membawa air bersamanya, sehingga volume dan frekuensi buang air kecil naik. Laman Ayo Sehat Kementerian Kesehatan mencatat keluhan ini sering terasa terutama di malam hari, jadi terbangun berkali-kali untuk ke kamar mandi termasuk tanda yang layak diperhatikan.
Haus terus. Ini konsekuensi langsung dari poin pertama. Air yang terus keluar lewat urine membuat tubuh kekurangan cairan, dan otak meresponsnya dengan rasa haus. Banyak orang baru sadar ada yang aneh ketika minum banyak tetapi mulut tetap terasa kering.
Cepat lapar. Gula darahnya tinggi, tetapi sel tidak bisa memakainya dengan baik karena insulin kurang atau tidak bekerja. Dari sudut pandang sel, tubuh sedang kekurangan energi, sehingga sinyal lapar terus menyala. NIDDK menggambarkannya pada penderita tipe 1 sebagai rasa sangat lapar bahkan setelah makan.
Berat badan turun tanpa sebab. NIDDK menjelaskan bahwa ketika tubuh tidak punya cukup insulin untuk memakai gula sebagai energi, tubuh mulai memakai lemak sebagai gantinya. Ditambah hilangnya kalori lewat gula di urine, hasilnya bisa berupa penurunan berat badan meski makan lebih banyak. IDAI menyebut kombinasi ini pada anak dengan kalimat yang mudah diingat: makan lebih banyak, tetapi berat badan turun.
Satu gejala tidak cukup: sering haus bisa karena cuaca panas atau kurang minum, sering buang air kecil bisa karena infeksi saluran kemih, dan berat badan turun punya banyak penyebab lain. Yang membuat dokter curiga adalah gejala yang menetap dan muncul bersamaan, apalagi pada orang dengan faktor risiko. Tetapi keputusan akhirnya selalu dari tes darah, bukan dari mencocokkan gejala sendiri.
Gejala Lain yang Sering Dianggap Sepele
Selain empat gejala klasik, lembaga kesehatan resmi mendaftar sejumlah keluhan lain. CDC menyebut gejala yang bisa muncul pada tipe 1 maupun tipe 2 meliputi rasa lelah, mudah marah atau suasana hati berubah, pandangan kabur, serta infeksi saluran kemih atau infeksi jamur yang sering. NIDDK menambahkan kesemutan atau baal di kaki atau tangan dan luka yang tidak kunjung sembuh. Keluhan-keluhan ini mudah dianggap akibat kurang tidur, usia, atau kesibukan, dan justru karena itu sering terlewat.
Pandangan kabur. Laman Ayo Sehat Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kadar gula darah yang tinggi dapat membuat lensa mata membengkak sehingga kemampuan fokus berkurang. Pandangan kabur jenis ini bisa berubah-ubah mengikuti naik turunnya gula darah. NIDDK juga mencatat ada orang yang baru tahu dirinya diabetes setelah mengalami masalah kesehatan terkait diabetes, termasuk pandangan kabur, sehingga keluhan mata baru sebaiknya tidak langsung diatasi dengan ganti kacamata tanpa periksa.
Luka lama sembuh dan infeksi berulang. CDC memasukkan luka, lecet, atau sayatan yang sangat lambat sembuh ke dalam gejala yang lebih sering pada tipe 2. NHS menyebut gatal di sekitar kelamin atau infeksi jamur yang terus kambuh sebagai gejala lain yang perlu diwaspadai. Ayo Sehat menyoroti luka di kulit kaki secara khusus.
Kesemutan atau baal. NIDDK mencantumkan rasa baal atau kesemutan di kaki atau tangan sebagai salah satu gejala diabetes. Laman NIDDK tentang neuropati diabetik menjelaskan bahwa kerusakan saraf pada diabetes bisa menimbulkan gejala mulai dari nyeri dan baal di kaki sampai gangguan fungsi organ dalam. Bila keluhan ini sudah muncul, bisa jadi gula darah tinggi sudah berlangsung cukup lama tanpa disadari.
Kulit gelap di lipatan tubuh. CDC mencantumkan bercak kulit gelap di sekitar leher, ketiak, atau selangkangan sebagai gejala yang lebih sering pada tipe 2. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut acanthosis nigricans. MedlinePlus menggambarkannya sebagai kulit gelap, tebal seperti beludru, dengan garis dan lipatan yang jelas, biasanya di ketiak, selangkangan, lipatan leher, dan di atas sendi jari. Menurut MedlinePlus, kondisi ini bisa terkait ketidakseimbangan hormon pada diabetes dan obesitas yang sering disebut resistansi insulin. Tetapi MedlinePlus juga menegaskan kondisi yang sama bisa muncul pada orang yang sehat, pada kelainan genetik tertentu, akibat sebagian obat hormon, dan bila muncul cepat serta meluas, perlu dipikirkan kaitannya dengan kanker. Jadi kulit gelap di leher adalah alasan untuk periksa ke dokter, bukan kesimpulan.
Lelah dan lemas. Rasa lelah hampir selalu ada di daftar, karena sel yang tidak mendapat energi dengan baik membuat tubuh terasa berat. Ayo Sehat juga menyebut pusing dan lemas akibat gula darah yang naik turun dengan cepat.
Berikut ringkasan gejala, apa artinya, dan langkah yang masuk akal. Kolom tengah menjelaskan kemungkinan mekanismenya, bukan diagnosis.
| Gejala | Kemungkinan artinya | Langkah yang disarankan |
|---|---|---|
| Sering buang air kecil, terutama malam hari | Gula darah tinggi membuat gula dan air terbuang lewat urine | Catat sejak kapan, lalu periksa gula darah di puskesmas atau klinik |
| Haus terus meski sudah banyak minum | Tubuh kehilangan cairan lewat urine | Periksa gula darah, terutama bila muncul bersama sering buang air kecil |
| Cepat lapar tetapi berat badan turun | Sel tidak bisa memakai gula, tubuh memakai lemak sebagai energi | Periksa dalam waktu dekat, jangan menunggu berminggu-minggu |
| Pandangan kabur yang berubah-ubah | Lensa mata bisa membengkak saat gula darah tinggi | Periksa gula darah sebelum mengganti kacamata |
| Luka lama sembuh, infeksi jamur atau saluran kemih berulang | Gula darah tinggi yang berlangsung lama | Sampaikan pola kekambuhannya ke dokter |
| Kesemutan atau baal di tangan atau kaki | Bisa tanda kerusakan saraf akibat gula darah tinggi | Periksa ke dokter, cek juga kondisi kulit kaki |
| Kulit gelap seperti beludru di leher, ketiak, selangkangan | Sering terkait resistansi insulin, tetapi punya penyebab lain | Periksa ke dokter untuk menilai penyebabnya |
| Muntah, nyeri perut, napas cepat dan dalam, napas berbau buah, mengantuk berat | Kemungkinan ketoasidosis diabetik | Segera ke IGD |
Pola Kemunculan Tipe 1 dan Tipe 2 Sangat Berbeda
Gejalanya mirip, tetapi cara kedatangannya bisa sangat berbeda, dan perbedaan ini penting untuk menentukan seberapa cepat harus bertindak.
Tipe 1 biasanya datang cepat. NIDDK menulis bahwa gejala diabetes tipe 1 biasanya berkembang cepat, dalam hitungan hari atau minggu, dan kebanyakan orang tidak tahu dirinya menderita tipe 1 sampai gejalanya muncul. CDC menambahkan bahwa pada tahap awal tipe 1 tidak bergejala, tetapi ketika penyakitnya berlanjut, gejala dapat muncul tiba-tiba dalam beberapa minggu atau bulan dan bisa berat, termasuk mual, muntah, nyeri perut, sampai ketoasidosis diabetik. Artinya, pada tipe 1, jarak antara gejala pertama dan kondisi gawat bisa pendek. NIDDK juga mencatat bahwa pada sebagian orang dewasa, gejala tipe 1 bisa berkembang pelan dan tampak seperti tipe 2, sehingga kadang perlu tes khusus untuk mengetahui tipenya. Penjelasan lengkap soal tipe ini ada di artikel diabetes tipe 1.
Tipe 2 biasanya datang pelan, atau tidak terasa sama sekali. NIDDK menjelaskan gejala diabetes tipe 2 sering berkembang perlahan selama beberapa tahun dan bisa begitu ringan sehingga tidak disadari, dan banyak orang tidak bergejala sama sekali. CDC mengatakan hal serupa: gejalanya sering butuh beberapa tahun untuk berkembang dan bisa berlangsung lama tanpa disadari. NHS menambahkan bahwa gejala tipe 2, bila ada, bisa muncul bertahap, sedangkan tipe 1 biasanya berkembang lebih cepat dan lebih sering pada orang muda. Karena gejalanya sulit dikenali, CDC menekankan pentingnya mengenali faktor risiko. Gambaran lengkap tipe ini, termasuk siapa yang lebih berisiko, dibahas di artikel diabetes melitus tipe 2.
Konsekuensi praktisnya begini. Gejala klasik yang muncul mendadak dan makin berat dalam beberapa minggu, apalagi pada anak atau orang muda, perlu diperiksa segera, bukan dijadwalkan bulan depan. Sebaliknya, ketiadaan gejala tidak berarti aman, terutama bila kamu punya faktor risiko tipe 2 seperti riwayat keluarga, berat badan berlebih, atau pernah diabetes saat hamil.
Banyak Penderita Tidak Tahu Dirinya Diabetes
Kalau gejala selalu jelas, angka di bagian ini tidak akan sebesar ini. Data dari tiga tingkat, global, Amerika Serikat, dan Indonesia, menunjukkan pola yang sama: sebagian besar penderita tidak tahu.
Global. International Diabetes Federation memperkirakan sekitar 589 juta orang dewasa berumur 20 sampai 79 tahun hidup dengan diabetes pada 2024, atau 1 dari 9 orang dewasa, dan lebih dari 4 dari 10 di antaranya tidak menyadari kondisinya. IDF menyebut jumlah orang dengan diabetes yang belum terdiagnosis mencapai 252 juta.
Amerika Serikat. Laporan statistik diabetes nasional CDC memperkirakan 40,1 juta orang di Amerika Serikat menderita diabetes pada 2023, baik terdiagnosis maupun belum, atau 12,0 persen penduduk. Di antara orang dewasa 18 tahun ke atas yang menderita diabetes, 27,6 persen belum terdiagnosis, setara 11,0 juta orang. Ini terjadi di negara dengan akses pemeriksaan yang relatif luas.
Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan mengukur diabetes dengan dua cara, dan selisihnya berbicara banyak. Pada penduduk berumur 15 tahun ke atas, prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter adalah 2,2 persen. Tetapi ketika gula darahnya benar-benar diperiksa, dengan kriteria gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih atau gula darah dua jam setelah pembebanan 200 mg/dL atau lebih, prevalensinya 11,7 persen.
| Cara pengukuran di SKI 2023 (umur 15 tahun ke atas) | Prevalensi diabetes |
|---|---|
| Pernah didiagnosis dokter (wawancara) | 2,2 persen |
| Berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah | 11,7 persen |
| Kelompok umur 45 sampai 54 tahun, diagnosis dokter | 3,5 persen |
| Kelompok umur 45 sampai 54 tahun, pemeriksaan gula darah | 17,4 persen |
Dua cara ukur itu tidak identik, satu berdasarkan pengakuan pernah didiagnosis dan satu berdasarkan hasil tes pada sampel yang lebih kecil, jadi selisihnya tidak bisa dibaca sebagai angka pasti orang yang belum terdiagnosis. Tetapi arahnya jelas. Jauh lebih banyak orang yang gula darahnya sudah masuk kriteria diabetes dibandingkan yang pernah diberi tahu dokter. Buat banyak orang, gejala awal diabetes tidak pernah benar-benar terasa sebagai alarm.
Batas informasi ini: Bugar Selalu belum punya peninjau tenaga kesehatan, dan artikel ini hanya merangkum informasi dari lembaga resmi. Tidak ada kalimat di sini yang bisa dipakai untuk memastikan atau menyingkirkan diabetes pada dirimu. Ada atau tidaknya gejala tidak menggantikan tes gula darah, dan diagnosis serta rencana pengobatan hanya bisa ditetapkan oleh dokter yang memeriksamu langsung.
Gejala pada Anak dan Diabetes Saat Hamil
Pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan bahwa diabetes masih sering dianggap penyakit orang dewasa, padahal anak juga bisa mengalaminya. IDAI mencatat secara global sekitar 1,8 juta anak dan remaja di bawah 20 tahun hidup dengan diabetes tipe 1, dan di beberapa negara sekitar 1 dari 5 kasus baru diabetes pada anak kini berupa tipe 2. Menurut IDAI, gejala diabetes pada anak sering muncul perlahan dan bisa menyerupai keluhan sehari-hari. Anak yang lebih sering haus, lebih sering buang air kecil atau kembali mengompol padahal sebelumnya sudah tidak, cepat lapar, berat badan turun tanpa sebab jelas, mudah lelah, atau mengeluh penglihatan kabur perlu segera diperiksakan ke dokter.
Poin mengompol kembali ini layak diingat orang tua, karena sering disangka masalah perilaku. IDAI juga menekankan bahwa salah satu kondisi yang paling sering membuat anak dengan diabetes datang dalam keadaan berat adalah ketoasidosis diabetik, dan karena gejalanya kadang mirip infeksi saluran cerna, tidak sedikit kasus yang terlambat dikenali. NIDDK sejalan dengan ini: gejala tipe 1 pada anak biasanya muncul dalam waktu singkat, dan gejala awalnya bisa langsung berupa gejala ketoasidosis.
Saat hamil. Diabetes gestasional, yaitu diabetes yang muncul selama kehamilan, hampir tidak bisa dikenali lewat gejala. NIDDK menyebut sebagian besar orang dengan diabetes gestasional tidak punya gejala, dan kalaupun ada, biasanya ringan, seperti lebih haus dari biasanya atau lebih sering buang air kecil, dua hal yang juga umum dalam kehamilan normal. Karena itu CDC menyatakan diabetes gestasional biasanya tidak bergejala dan dokter sebaiknya memeriksanya pada usia kehamilan 24 sampai 28 minggu. NIDDK menambahkan bahwa orang yang pernah mengalami diabetes gestasional berisiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari, sehingga pemeriksaan berkala setelah melahirkan mungkin dianjurkan dokter. Jadi bagi ibu hamil, yang diandalkan adalah jadwal skrining dalam pemeriksaan kehamilan, bukan menunggu gejala.
Kapan ke Dokter atau Puskesmas, dan Tes Apa yang Diminta
NHS memberi patokan yang tegas: bila kamu atau anakmu punya gejala diabetes, minta janji temu dokter yang mendesak, dan temui dokter juga bila kamu punya risiko lebih tinggi terkena diabetes, karena tidak semua penderita bergejala. Di Indonesia, pintu masuk yang paling mudah dijangkau adalah puskesmas atau dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Saat datang, sampaikan gejalanya secara spesifik: sejak kapan, seberapa sering, dan apakah makin berat. Sebutkan juga riwayat keluarga dengan diabetes, riwayat diabetes saat hamil, perubahan berat badan, dan obat yang sedang dipakai. Informasi ini membantu dokter memilih tes dan menilai hasilnya.
NIDDK, merujuk kriteria American Diabetes Association, menyebut empat jenis tes darah yang dipakai untuk diagnosis, dengan ambang diabetes berikut:
| Tes | Ambang diabetes | Catatan |
|---|---|---|
| HbA1c | 6,5 persen atau lebih | Menggambarkan rata-rata gula darah beberapa bulan terakhir |
| Gula darah puasa | 126 mg/dL atau lebih | Diambil setelah tidak makan semalaman |
| Tes toleransi glukosa oral (2 jam) | 200 mg/dL atau lebih | Diukur 2 jam setelah minum larutan gula |
| Gula darah sewaktu | 200 mg/dL atau lebih | Dipakai bila ada gejala |
Angka-angka ini adalah ambang untuk menegakkan diagnosis pada orang yang belum pernah didiagnosis. Angka ini berbeda dengan target kontrol gula darah bagi orang yang sudah menjalani pengobatan, yang ditentukan dokter per pasien. Penjelasan lengkap tentang rentang normal, prediabetes, dan cara membaca hasil lab ada di artikel kadar gula darah normal.
NIDDK juga menegaskan dua hal. Pertama, biasanya dokter memakai tes kedua untuk memastikan diagnosis diabetes. Kedua, jangan mencoba mendiagnosis diri sendiri, karena alat cek gula darah yang dijual bebas tidak dapat mendiagnosis diabetes. Alat itu berguna untuk pemantauan bagi yang sudah didiagnosis, tetapi hasilnya tidak menggantikan tes darah yang diminta dokter. Dokter jugalah yang menentukan tipe diabetesnya, karena penanganan tipe 1 dan tipe 2 berbeda.
Kalau hasilmu ternyata normal tetapi berada di dekat batas, atau kamu punya faktor risiko, langkah-langkah yang terbukti menurunkan risiko dibahas di cara mencegah diabetes. Salah satu angka yang sering dipakai dokter untuk menilai risiko adalah indeks massa tubuh, yang bisa kamu hitung dengan kalkulator BMI.
Tanda Gawat Darurat yang Harus Langsung ke IGD
Sebagian besar gejala di atas cukup dibawa ke puskesmas atau klinik dalam waktu dekat. Tetapi ada dua keadaan yang tidak boleh ditunda, bahkan tidak boleh ditunggu sampai hasil tes rumahan diulang.
Ketoasidosis diabetik (KAD). IDAI menjelaskan KAD terjadi ketika tubuh sangat kekurangan insulin sehingga tidak bisa memakai gula sebagai energi, lalu membakar lemak dan menghasilkan zat asam bernama keton. Penumpukan keton dapat berkembang cepat menjadi keadaan gawat darurat. MedlinePlus mendaftar gejala umum KAD, antara lain kewaspadaan menurun, napas dalam dan cepat, dehidrasi, kulit dan mulut kering, wajah kemerahan, sering buang air kecil atau haus yang berlangsung sehari atau lebih, napas berbau buah, sakit kepala, otot kaku atau pegal, mual dan muntah, serta nyeri perut. KAD paling sering terjadi pada tipe 1, tetapi NIDDK mencatat sesekali bisa juga terjadi pada tipe 2. Pada anak, IDAI menyebut tanda bahaya berupa makin lemas, muntah berulang, nyeri perut, napas cepat dan dalam, napas berbau buah atau aseton, sampai penurunan kesadaran.
Hipoglikemia berat. Ini berlaku terutama bagi orang yang sudah didiagnosis dan memakai obat penurun gula darah. NIDDK menjelaskan gejala gula darah rendah biasanya datang cepat, dari yang ringan seperti gemetar, lapar, pusing, bingung, atau jantung berdebar, sampai yang berat ketika otak tidak lagi bekerja semestinya: kehilangan kesadaran atau kejang. NIDDK menegaskan hipoglikemia berat berbahaya dan harus ditangani segera, dan orang yang mengalaminya tidak bisa menanganinya sendiri. Soal pencegahan dan penanganannya di rumah, ikuti rencana yang dibuat dokter yang merawat, bukan artikel.
Kapan harus ke IGD: segera bawa ke instalasi gawat darurat atau hubungi layanan gawat darurat bila ada penurunan kesadaran atau sangat mengantuk, bingung, sulit bernapas atau napas cepat dan dalam, napas berbau buah atau aseton, mual dan muntah berulang, nyeri perut hebat, kejang, atau pingsan. Ini berlaku untuk orang yang sudah didiagnosis diabetes maupun yang belum, terutama anak dengan gejala klasik yang tiba-tiba memburuk. MedlinePlus menyebut KAD sebagai kedaruratan medis, jadi jangan menunda untuk mengulang cek gula darah di rumah.
Satu pesan untuk ditutup. Mengenali gejala awal diabetes bermanfaat karena membuatmu datang ke tempat yang tepat lebih cepat, bukan karena kamu bisa menyimpulkan sendiri. Kalau kamu mengenali beberapa gejala di atas pada dirimu atau keluargamu, langkah berikutnya sederhana: periksa gula darah di puskesmas atau klinik, lalu bicarakan hasilnya dengan dokter.



