Tekanan darah normal orang dewasa adalah di bawah 120/80 mmHg, artinya angka atas (sistolik) di bawah 120 dan angka bawah (diastolik) di bawah 80, menurut NHLBI dan MedlinePlus dari National Institutes of Health. WHO dan Kementerian Kesehatan RI menetapkan hipertensi mulai 140/90 mmHg yang terukur di dua hari berbeda. Patokan dewasa ini sama untuk semua usia dewasa, termasuk lansia; yang memakai cara hitung lain adalah anak sampai usia 13 tahun dan ibu hamil.
Pertanyaan "berapa tensi normal untuk umur saya" sangat sering muncul, dan jawabannya sering bikin orang kaget: untuk orang dewasa, tidak ada tabel yang naik pelan-pelan setiap dekade. Yang naik seiring usia adalah risikonya, bukan batas normalnya. Artikel ini menjelaskan patokan per kelompok usia, cara membaca dua angka di layar tensimeter, kenapa hasil di rumah dan di klinik bisa berbeda, dan kapan angka tertentu perlu segera diperiksakan. Istilah dasarnya juga bisa kamu buka di glosarium hipertensi.
Membaca Dua Angka di Layar Tensimeter
Hasil pengukuran selalu ditulis sebagai dua angka, misalnya 118/76 mmHg. WHO menjelaskan angka pertama (sistolik) adalah tekanan di pembuluh darah saat jantung berkontraksi atau berdetak, sedangkan angka kedua (diastolik) adalah tekanan saat jantung beristirahat di antara dua detakan. Satuannya mmHg, singkatan dari milimeter air raksa (millimeters of mercury), seperti dijelaskan dalam glosarium NHLBI.
Salah satu dari dua angka itu sudah cukup untuk menggeser kategori. Kalau sistolikmu 126 tapi diastolik 78, yang menentukan adalah sistoliknya. Sebaliknya, 118/88 tidak bisa disebut normal hanya karena angka atasnya bagus. Banyak orang hanya mengingat angka atas, padahal tabel resmi selalu membaca keduanya.
Tabel berikut adalah kategori dari NHLBI (National Heart, Lung, and Blood Institute) yang dipakai di Amerika Serikat, ditambah ambang diagnosis yang dipakai WHO dan Kemenkes.
| Kategori (NHLBI) | Sistolik (mmHg) | Diastolik (mmHg) | |
|---|---|---|---|
| Normal | Di bawah 120 | dan | Di bawah 80 |
| Meningkat (elevated) | 120 sampai 129 | dan | Di bawah 80 |
| Hipertensi tahap 1 | 130 sampai 139 | atau | 80 sampai 89 |
| Hipertensi tahap 2 | 140 atau lebih | atau | 90 atau lebih |
| Krisis hipertensi | Di atas 180 | atau | Di atas 120 |
| Ambang hipertensi WHO dan Kemenkes | 140 atau lebih | dan/atau | 90 atau lebih, di dua hari berbeda |
Perbedaan antara 130/80 dan 140/90 ini bukan salah ketik. Ada dua aliran pedoman. Kategori Amerika lebih ketat dan sudah menyebut 130/80 sebagai hipertensi tahap 1. WHO, Kemenkes, dan NHS memakai 140/90 sebagai ambang diagnosis. Kemenkes, lewat portal Ayo Sehat, menulis hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau diastolik 90 mmHg atau lebih pada orang dewasa.
Menurut kami, cara membacanya sederhana. Di bawah 120/80 berarti aman. Antara 120/80 dan 139/89 berarti zona kuning: belum tentu disebut penyakit, tetapi sudah waktunya memperbaiki pola makan, gerak, dan tidur, lalu memeriksa ulang. Mulai 140/90 pada beberapa kali pengukuran, itu wilayah diagnosis hipertensi yang perlu dibicarakan dengan dokter.
Satu kali ukur belum diagnosis: WHO menegaskan hipertensi didiagnosis bila tekanan darah terukur tinggi pada dua hari yang berbeda. Hasil tinggi sekali setelah naik tangga atau minum kopi belum cukup untuk menyimpulkan apa pun.
Patokan Tekanan Darah per Kelompok Usia
Inilah bagian yang paling sering disalahpahami. Banyak tabel di internet menulis angka normal yang terus naik untuk usia 40, 50, 60, dan seterusnya. Sumber resmi yang kami rujuk tidak melakukan itu untuk orang dewasa. Tabel ini merangkum patokan yang benar-benar tertulis.
| Kelompok | Patokan normal | Catatan penting | Sumber |
|---|---|---|---|
| Anak 1 sampai 13 tahun | Dibandingkan dengan anak lain seusia, setinggi, dan berjenis kelamin sama | Tidak ada satu angka untuk semua anak; dokter memakai tabel persentil | MedlinePlus (NIH) |
| Remaja di atas 13 tahun | Mengikuti patokan dewasa | Normal di bawah 120/80 | MedlinePlus (NIH) |
| Dewasa 18 tahun ke atas | Di bawah 120/80 mmHg | Hipertensi mulai 140/90 (WHO, Kemenkes) atau 130/80 (kategori NHLBI) | NHLBI, WHO, Kemenkes |
| Lansia | Di bawah 120/80 mmHg | Paling sering hipertensi sistolik terisolasi; target pengobatan ditentukan per orang | National Institute on Aging (NIH) |
| Ibu hamil | Di bawah 140/90 mmHg | 140/90 sampai 159/109 = hipertensi kehamilan; 160/110 ke atas = berat | NHS |

Grafik: Bugar Selalu, disusun dari tabel Blood Pressure Levels NHLBI (NIH).
Anak. MedlinePlus menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi pada anak sampai usia 13 tahun didefinisikan berbeda dari dewasa, karena angka normal berubah seiring anak tumbuh. Hasil anak dibandingkan dengan anak lain yang seusia, setinggi, dan berjenis kelamin sama. Jadi satu angka yang sama bisa berarti normal untuk satu anak dan tinggi untuk anak lain. Orang tua tidak perlu menghafal tabelnya; minta dokter atau bidan menjelaskan posisi hasil anakmu. MedlinePlus juga menyebut pada kebanyakan anak, tekanan darah tinggi berkaitan dengan kelebihan berat badan.
Remaja. Menurut MedlinePlus, anak di atas 13 tahun mengikuti patokan dewasa. Artinya remaja SMP dan SMA yang hasilnya 130/85 tidak bisa dianggap "masih muda jadi wajar".
Dewasa. Di bawah 120/80 adalah normal untuk usia 20 maupun 50 tahun. Ini terasa tidak adil bagi orang yang merasa tensinya naik karena umur, tetapi justru di situlah intinya. Kenaikan itu memang umum, tapi umum tidak sama dengan normal.
Lansia. National Institute on Aging (NIH) menyebut definisi normal untuk kebanyakan orang dewasa, termasuk lansia, tetap sistolik di bawah 120 dan diastolik di bawah 80. Lembaga yang sama menjelaskan pembuluh darah arteri menjadi lebih kaku seiring usia sehingga tekanan naik, bahkan pada orang yang gaya hidupnya sehat dan merasa baik-baik saja. Bentuk yang paling sering pada lansia adalah hipertensi sistolik terisolasi: angka atas 130 atau lebih, sementara angka bawah tetap di bawah 80.
Ibu hamil. NHS mendefinisikan hipertensi pada kehamilan sebagai hasil 140/90 sampai 159/109 mmHg, dan hipertensi berat sebagai 160/110 mmHg atau lebih yang memerlukan pengobatan. Ibu yang sudah punya darah tinggi sebelum hamil perlu merencanakan kehamilan bersama dokter, karena menurut NHS sebagian obat tekanan darah tidak aman dipakai saat hamil.
Kenapa Rumus "100 Ditambah Usia" Tidak Dipakai
Di Indonesia masih sering terdengar patokan lama: tensi normal adalah 100 ditambah usia. Menurut rumus itu, orang berusia 60 tahun dianggap wajar bila sistoliknya 160. Tidak satu pun sumber resmi yang kami rujuk (WHO, Kemenkes, NHLBI, NIA, NHS, dan MedlinePlus) memakai rumus ini. Semuanya memakai angka tetap, dan 160 justru sudah masuk hipertensi tahap 2 menurut NHLBI.
Kami paham kenapa rumus ini bertahan. Ia terdengar logis, dan memang benar tekanan darah cenderung naik seiring usia. NHLBI menyebut pembuluh darah secara alami menebal dan kaku dari waktu ke waktu. Tapi pedoman tidak menarik kesimpulan "jadi angka tinggi itu wajar". Kesimpulannya terbalik: karena risikonya naik bersama usia, lansia justru perlu lebih rutin memeriksa.
National Institute on Aging menambahkan satu data yang menarik. Studi SPRINT yang didanai NIH menemukan bahwa menurunkan sistolik sampai di bawah 120 pada orang berusia 50 tahun ke atas menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian secara bermakna. Ini bukan berarti semua lansia harus mengejar 120. NIA sendiri menekankan dokter menimbang penyakit lain dan kebugaran sebelum menentukan target. Tapi data itu cukup untuk membuang anggapan bahwa angka tinggi pada lansia adalah hal yang aman dibiarkan.
Ada sisi lain yang juga perlu disebut. MedlinePlus menjelaskan lansia cenderung minum lebih banyak obat, dan salah satu efek samping obat tekanan darah adalah meningkatnya risiko jatuh. Karena itu target pengobatan pada lansia diseimbangkan dengan efek samping. Inilah alasan yang benar kenapa target lansia bisa berbeda: pertimbangan obat dan keselamatan, bukan karena batas normalnya bergeser.
Tips: Kalau orang tuamu bilang "tensi 150 itu normal untuk umur Bapak", jangan berdebat soal rumus. Ajak saja memeriksa ulang beberapa hari berturut-turut, catat hasilnya, lalu bawa catatan itu ke puskesmas atau dokter.
Hasil di Rumah, di Klinik, dan Angka yang Terlalu Rendah
Tekanan darah bukan angka tetap seperti tinggi badan. MedlinePlus menjelaskan tekanan darah biasanya lebih tinggi saat bekerja, sedikit turun saat di rumah, paling rendah saat tidur, dan wajar naik mendadak saat bangun tidur. Satu angka di satu waktu hanya potret sesaat.
Karena itu NHS memakai dua batas berbeda. Kamu dianggap punya tekanan darah tinggi bila hasilnya 140/90 atau lebih saat diukur tenaga kesehatan, atau 135/85 atau lebih saat diukur sendiri di rumah. Batas rumah lebih rendah karena orang cenderung lebih rileks di rumah dibanding di ruang periksa.
NHS juga memberi cara mengukur di rumah yang mudah ditiru:
- Duduk, lepaskan atau gulung lengan baju, dan letakkan lengan di atas meja dalam posisi rileks.
- Pasang manset di lengan atas, lalu tetap diam selama manset mengembang.
- Catat hasilnya, tunggu 1 menit, lalu ukur sekali lagi.
- Lakukan dua kali sehari, pagi dan malam, selama jumlah hari yang disarankan dokter atau perawat.
Bagaimana dengan angka yang terlalu rendah? NHS dan National Institute on Aging menyebut tekanan darah rendah (hipotensi) bila hasilnya di bawah 90/60 mmHg. Angka rendah tidak selalu menimbulkan masalah. NHS menyarankan pemeriksaan bila kamu terus mengalami keluhan seperti pusing atau melayang, mual, penglihatan kabur, lemas, bingung, atau pingsan, terutama saat berdiri dari duduk.

Grafik: Bugar Selalu, disusun dari halaman Blood pressure test, Low blood pressure, dan High blood pressure and pregnancy NHS.
Satu hal yang sering terlewat adalah konsistensi. Karena tekanan darah memang naik turun sepanjang hari, membandingkan hasil pagi hari dengan hasil sore sepulang kerja sama saja membandingkan dua hal berbeda. Ukur di jam yang kurang lebih sama, dengan posisi duduk rileks dan lengan bersandar seperti cara NHS di atas, lalu tulis tanggal dan jamnya. Catatan seperti itu jauh lebih berguna bagi dokter daripada satu angka yang diingat-ingat.
Angka di Indonesia: Banyak yang Tinggi tapi Tidak Tahu
Data nasional memperlihatkan kenapa memeriksa itu penting. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas sebesar 30,8 persen berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Namun yang pernah didiagnosis dokter hanya 8,6 persen. Pada penduduk 15 tahun ke atas, angkanya 29,2 persen menurut pengukuran dan 8 persen menurut diagnosis dokter.

Grafik: Bugar Selalu, disusun dari Hasil Utama SKI 2023, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI.
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan menyebut ada celah pengetahuan status hipertensi di masyarakat, dengan selisih lebih dari 20 persen antara prevalensi menurut diagnosis dokter dan menurut pengukuran. Dengan kata lain, sebagian besar orang yang tensinya tinggi tidak tahu. Provinsi dengan prevalensi tertinggi pada penduduk 18 tahun ke atas adalah Kalimantan Tengah (40,7 persen), Kalimantan Selatan (35,8 persen), dan Jawa Barat (34,4 persen).
Gambaran dunia tidak jauh berbeda. WHO memperkirakan 1,4 miliar orang dewasa berusia 30 sampai 79 tahun hidup dengan hipertensi pada 2024, atau 33 persen dari kelompok usia itu, dan sekitar 44 persen di antaranya tidak menyadari kondisinya. Hanya sekitar 23 persen yang tekanan darahnya terkendali.
Angka ini menjelaskan kenapa kami lebih suka menyebut "periksa" daripada "rasakan". Hipertensi jarang memberi tanda. WHO menyatakan cara satu-satunya untuk mengetahuinya adalah dengan mengukur. Penjelasan lengkap soal keluhan yang kadang muncul ada di artikel gejala darah tinggi.
Kalau Angkamu di Atas Normal, Lalu Apa
Langkah pertama bukan panik, melainkan memastikan. Ukur ulang di hari lain dengan cara yang sama, atau minta pemeriksaan di puskesmas, apotek, atau klinik. NHS menyebut dokter bisa meminta pengukuran di rumah beberapa hari, kunjungan ulang beberapa hari atau minggu kemudian, atau alat yang dipakai 24 jam untuk memastikan.
Kalau hasilnya konsisten di zona kuning (120/80 sampai 139/89), fokuslah pada kebiasaan yang memang memengaruhi tekanan darah. Sumber yang sama berulang kali menyebut hal yang sama: kurangi garam, gerak rutin, jaga berat badan, batasi alkohol, berhenti merokok, dan kelola stres. Pola makan yang paling banyak diteliti untuk ini adalah diet DASH. Untuk aktivitas fisik, panduan yang lebih spesifik ada di olahraga untuk penderita hipertensi, dan cara yang paling mudah dimulai adalah jalan kaki. Kalau berat badan ikut berperan, cek dulu posisimu dengan kalkulator BMI.
Penyebab yang memicu tekanan naik, mulai dari garam, obat tertentu, sampai gangguan ginjal dan tiroid, dibahas di penyebab darah tinggi. Kalau dokter sudah memutuskan perlu obat, penjelasan golongan dan cara kerjanya ada di obat darah tinggi.
Hipertensi juga jarang datang sendiri. Ia sering muncul bersama kolesterol tinggi dan gula darah tinggi, tiga masalah yang menurut Kementerian Kesehatan merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, penyebab kematian terbesar di Indonesia. Kalau kamu sedang memeriksa tensi, ada baiknya sekalian memahami kolesterol normal dan kadar gula darah normal, supaya gambaran risikomu utuh.
Ada satu batas yang tidak boleh ditawar. NHLBI menyebut tekanan darah di atas 180/120 terlalu tinggi dan membutuhkan perhatian medis. Bila hasilmu setinggi itu tanpa keluhan, NHLBI menyarankan menunggu 5 menit lalu mengukur ulang, dan menghubungi tenaga kesehatan bila tetap tinggi. Bila disertai sakit kepala hebat mendadak, sesak napas, nyeri dada atau punggung yang hebat, mati rasa atau lemah pada tubuh, perubahan penglihatan mendadak, atau sulit bicara, segera cari pertolongan darurat dan jangan menunggu angkanya turun sendiri.
Artikel ini adalah informasi umum, bukan pengganti pemeriksaan. Diagnosis dan target tekanan darah pribadi ditentukan oleh dokter yang mengenal riwayat kesehatanmu.



