Pencegahan Penyakit

Diabetes Melitus Tipe 2: Proses, Skrining, dan Pengelolaan

Diabetes melitus tipe 2 mencakup 90 sampai 95 persen kasus diabetes dan sering berjalan bertahun-tahun tanpa gejala. Artikel ini menjelaskan prosesnya dari prediabetes, siapa yang dianjurkan skrining menurut ADA, USPSTF, dan PERKENI, empat pilar pengelolaan, jadwal pemeriksaan pencegah komplikasi, serta arti remisi sebagai istilah medis.

Naskah ini topik YMYL dan sedang menunggu tinjauan tenaga kesehatan. Sesuai kebijakan editorial, naskah belum kami terbitkan sebagai konten pilar dan tidak diindeks mesin pencari. Untuk diagnosis dan pengobatan, konsultasikan dengan dokter atau puskesmas.

Diagram alur tiga tahap diabetes melitus tipe 2: resistensi insulin dan sel beta melemah, lalu prediabetes dengan HbA1c 5,7 sampai 6,4 persen, lalu diabetes tipe 2 dengan HbA1c 6,5 persen atau lebih, ditutup empat pilar pengelolaan PERKENI: edukasi, terapi nutrisi medis, latihan fisik, dan obat dari dokter
PENCEGAHAN PENYAKITBUGAR SELALUDiagram asli yang dibuat sendiri untuk artikel ini, bukan foto dan bukan gambar AI. Kredit: Tim Bugar Selalu.

Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi gula darah tinggi yang menahun karena dua masalah yang berjalan bersamaan: sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik (resistensi insulin), dan sel beta pankreas yang membuat insulin lambat laun tidak sanggup mengimbanginya. Tipe ini adalah bentuk diabetes yang paling umum. Menurut Standards of Care in Diabetes 2026 dari American Diabetes Association (ADA), tipe 2 mencakup 90 sampai 95 persen dari semua kasus diabetes. Prosesnya biasanya pelan, melewati fase prediabetes, dan sering tidak menimbulkan keluhan selama bertahun-tahun. Karena itu skrining berkala penting, dan pengelolaannya bertumpu pada edukasi, pola makan, latihan fisik, serta obat yang ditentukan dokter.

Artikel ini fokus pada tipe 2: apa yang terjadi di dalam tubuh, siapa yang sebaiknya memeriksakan diri dan kapan, bagaimana diagnosis ditegakkan, bagaimana pengelolaannya menurut pedoman Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), pemeriksaan apa yang perlu dijadwalkan untuk mencegah komplikasi, dan apa arti sebenarnya dari istilah remisi. Gambaran umum semua tipe diabetes ada di artikel pilar diabetes melitus.

Apa Itu Diabetes Melitus Tipe 2 dan Seberapa Umum

Insulin adalah hormon dari pankreas yang bekerja seperti kunci: ia membantu glukosa dari makanan masuk ke sel untuk dipakai sebagai energi. CDC menjelaskan bahwa pada diabetes tipe 2, sel tidak merespons insulin secara normal. Pankreas lalu membuat insulin lebih banyak agar sel mau merespons, tetapi seiring waktu pankreas tidak mampu mengimbangi, dan gula darah pun naik.

NIDDK, lembaga diabetes di bawah National Institutes of Health Amerika Serikat, merinci bahwa resistensi insulin terjadi di sel otot, jaringan lemak, dan hati. ADA dalam Standards of Care 2026 memakai bahasa yang lebih teknis: tipe 2 umumnya ditandai kekurangan insulin yang relatif, bukan mutlak, yang disertai resistensi insulin. ADA juga menulis bahwa jalur menuju kerusakan dan gangguan fungsi sel beta pada tipe 2 lebih beragam dibanding tipe 1, tetapi sekresi insulin yang kurang dan gangguan fungsi sel beta, sering dalam situasi resistensi insulin, tampaknya menjadi benang merahnya. Faktor yang terlibat mencakup kecenderungan genetik, perubahan epigenetik, peradangan, dan stres metabolik.

Inilah beda mendasarnya dengan diabetes tipe 1. Pada tipe 1, sistem imun merusak sel beta sehingga tubuh kekurangan insulin secara mutlak. Pada tipe 2, insulin masih dibuat, tetapi kerjanya terhambat dan produksinya makin tidak mencukupi.

Soal seberapa umum, beberapa lembaga memberi angka yang sedikit berbeda karena cara hitungnya berbeda:

Sumber Proporsi diabetes tipe 2 Keterangan
ADA, Standards of Care 2026 90 sampai 95 persen dari semua kasus diabetes Tipe 1 disebut 5 sampai 10 persen
CDC Sekitar 90 sampai 95 persen dari kasus yang terdiagnosis Data Amerika Serikat
WHO Lebih dari 95 persen penyandang diabetes Gambaran global

WHO juga mencatat jumlah orang yang hidup dengan diabetes naik dari 200 juta pada 1990 menjadi 830 juta pada 2022, dengan kenaikan lebih cepat di negara berpendapatan rendah dan menengah. Untuk Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah pada penduduk berumur 15 tahun ke atas sebesar 11,7 persen. Angka SKI itu mencakup semua tipe diabetes, bukan tipe 2 saja, tetapi mengingat proporsi di atas, sebagian besarnya hampir pasti tipe 2.

WHO menambahkan dua catatan yang relevan. Pertama, tipe 2 dulu hanya ditemukan pada orang dewasa, tetapi kini makin sering muncul pada anak. Kedua, diabetes tipe 2 sering dapat dicegah, dengan faktor yang berperan antara lain berat badan berlebih, kurang bergerak, dan genetik. Pembahasan lengkap soal faktor risiko ada di artikel penyebab diabetes.

Dari Prediabetes ke Diabetes Tipe 2: Perjalanan yang Sering Tanpa Gejala

Diabetes tipe 2 jarang muncul tiba-tiba. NIDDK menggambarkan urutannya: ketika sel tidak merespons insulin dengan baik, lama-kelamaan pankreas tidak lagi membuat cukup insulin untuk membantu glukosa masuk ke sel, sehingga glukosa menumpuk di darah. Saat kadarnya sudah di atas normal tetapi belum mencapai ambang diabetes, kondisi itu disebut prediabetes.

ADA mendefinisikan prediabetes lewat tiga kemungkinan hasil: HbA1c 5,7 sampai 6,4 persen, gula darah puasa 100 sampai 125 mg/dL, atau gula darah 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral 140 sampai 199 mg/dL. ADA menyebut prediabetes sebagai faktor risiko penting untuk berlanjut menjadi diabetes, sekaligus untuk penyakit kardiovaskular. Rincian semua ambang ini, termasuk arti tiap angka di lembar hasil laboratorium, dibahas di artikel kadar gula darah normal.

Fase ini sering luput karena hampir tidak terasa. ADA menulis bahwa diabetes tipe 2 kerap tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun, karena gula darah naik secara bertahap dan pada tahap awal belum tentu memunculkan gejala klasik seperti penglihatan kabur, dehidrasi, atau berat badan turun tanpa sengaja. WHO senada: gejala tipe 2 bisa ringan dan butuh beberapa tahun sampai disadari, sehingga penyakit ini kadang baru terdiagnosis setelah komplikasi muncul. Selama belum terdiagnosis, menurut ADA, tubuh terpapar gula darah tinggi yang tidak diobati dan risiko komplikasi pembuluh darah besar maupun kecil meningkat.

Itu sebabnya daftar keluhan saja tidak cukup untuk menunggu. Kalau kamu ingin tahu tanda-tanda yang biasanya muncul, bacalah artikel gejala awal diabetes, tetapi pahami bahwa tidak adanya gejala tidak berarti gula darahmu normal.

Kabar baiknya, fase prediabetes adalah kesempatan. NIDDK mengutip hasil Diabetes Prevention Program yang menunjukkan penurunan berat badan 5 sampai 7 persen dari berat saat ini pada orang dengan berat badan berlebih dapat mencegah atau menunda diabetes. Langkah-langkahnya dibahas di artikel cara mencegah diabetes.

Siapa yang Dianjurkan Skrining dan Kapan

Skrining berarti memeriksa gula darah pada orang yang belum punya keluhan, dengan tujuan menemukan prediabetes atau diabetes sedini mungkin. Tiga rujukan utama memberi anjuran yang mirip tetapi tidak identik:

Rujukan Siapa yang dianjurkan skrining Kalau hasilnya normal
ADA, Standards of Care 2026 Dewasa dengan berat badan berlebih (IMT 25 kg/m2 atau lebih, atau 23 kg/m2 atau lebih pada keturunan Asia) yang punya satu atau lebih faktor risiko; semua orang lain mulai umur 35 tahun Ulang dengan jarak minimal 3 tahun, lebih cepat bila ada gejala atau risiko berubah
USPSTF 2021 Dewasa umur 35 sampai 70 tahun dengan berat badan berlebih atau obesitas, tanpa gejala Setiap 3 tahun dinilai sebagai pendekatan yang masuk akal
PERKENI 2021 Orang dengan berat badan lebih (IMT 23 kg/m2 atau lebih) yang disertai satu atau lebih faktor risiko; semua orang berusia di atas 45 tahun tanpa faktor risiko Kelompok risiko tinggi diulang setiap 3 tahun

Faktor risiko yang disebut PERKENI 2021 antara lain aktivitas fisik yang kurang, ada keluarga inti dengan diabetes, kelompok ras atau etnis tertentu, perempuan dengan riwayat melahirkan bayi di atas 4 kg atau riwayat diabetes gestasional, hipertensi (140/90 mmHg atau sedang mendapat obat hipertensi), HDL di bawah 35 mg/dL dan atau trigliserida di atas 250 mg/dL, sindrom ovarium polikistik, riwayat prediabetes, obesitas berat, akantosis nigrikans (kulit menebal dan menggelap di lipatan leher atau ketiak), dan riwayat penyakit kardiovaskular.

Ada dua kelompok yang jadwalnya lebih rapat. Orang dengan prediabetes dianjurkan diperiksa ulang tiap 1 tahun, baik menurut PERKENI maupun ADA. Perempuan yang pernah didiagnosis diabetes gestasional, menurut ADA, dianjurkan diperiksa setidaknya setiap 1 sampai 3 tahun.

Perhatikan bahwa ADA dan PERKENI sama-sama memakai ambang IMT 23 kg/m2 untuk orang keturunan Asia, lebih rendah dari ambang 25 kg/m2 yang umum dipakai. Kalau kamu belum tahu IMT-mu, hitung dengan kalkulator BMI, lalu bawa hasilnya saat berkonsultasi ke puskesmas atau dokter.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan

Diagnosis diabetes tipe 2 ditegakkan lewat pemeriksaan darah di laboratorium, bukan dari gejala atau dari satu kali cek dengan alat pengukur gula darah di rumah. ADA dalam Standards of Care 2026 menetapkan kriteria diabetes pada orang yang tidak hamil sebagai salah satu dari berikut:

  • HbA1c 6,5 persen atau lebih, dengan metode laboratorium yang terstandar.
  • Gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih, dengan puasa minimal 8 jam tanpa asupan kalori.
  • Gula darah 2 jam 200 mg/dL atau lebih pada tes toleransi glukosa oral.
  • Gula darah sewaktu 200 mg/dL atau lebih pada orang yang sedang mengalami gejala klasik gula darah tinggi atau krisis gula darah tinggi.

Satu hasil tinggi saja belum cukup bila tidak ada gula darah tinggi yang jelas. ADA mensyaratkan dua hasil abnormal, bisa dari dua jenis tes berbeda pada sampel yang sama (misalnya HbA1c dan gula darah puasa) atau dari tes yang sama pada dua waktu berbeda. Kondisi tertentu juga bisa memengaruhi pilihan tes dan cara membaca hasilnya, sehingga penafsiran selalu perlu dilakukan dokter.

Satu hal lagi yang dibahas ADA adalah membedakan tipe 2 dari tipe 1 pada orang dewasa. Pada sebagian orang dewasa, gambarannya bisa tumpang tindih, dan dokter dapat meminta pemeriksaan tambahan seperti autoantibodi bila ada tanda yang mengarah ke tipe 1. Jadi kalimat "sudah dewasa berarti pasti tipe 2" tidak selalu benar.

Kapan harus ke dokter atau IGD: periksakan diri ke puskesmas atau dokter bila kamu termasuk kelompok yang dianjurkan skrining, atau bila muncul keluhan seperti sering haus, sering buang air kecil, dan berat badan turun tanpa sebab. Segera ke IGD bila penyandang diabetes mengalami bingung, sangat lemas, kejang, atau tidak sadar. MedlinePlus menyebut sindrom hiperglikemik hiperosmolar, yang bisa diawali rasa haus dan sering buang air kecil lalu berlanjut ke bingung, kejang, sampai koma, sebagai kondisi gawat darurat. NIDDK juga mengingatkan gula darah yang sangat rendah (hipoglikemia berat) bisa menyebabkan pingsan atau kejang dan harus ditangani segera.

Empat Pilar Pengelolaan Menurut PERKENI

Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia yang diterbitkan PERKENI pada 2021 membagi penatalaksanaan khusus menjadi empat bagian: edukasi, terapi nutrisi medis, latihan fisik, dan terapi farmakologis. PERKENI menyebut penatalaksanaan dimulai dengan pola hidup sehat, yaitu terapi nutrisi medis dan aktivitas fisik, bersamaan dengan intervensi obat antihiperglikemia oral dan atau suntikan sesuai kebutuhan pasien.

Edukasi

PERKENI menempatkan edukasi sebagai bagian yang sangat penting dari pengelolaan diabetes secara menyeluruh. Materinya dibagi menjadi tingkat awal, yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan primer, dan tingkat lanjutan. Materi tingkat awal mencakup antara lain perjalanan penyakit diabetes, makna pengendalian dan pemantauan yang berkelanjutan, serta penyulit dan risikonya. Dalam praktik, edukasi berarti kamu paham kenapa angka tertentu diperiksa, apa arti hasilnya, dan kapan harus kembali kontrol.

Terapi Nutrisi Medis

Terapi nutrisi medis bukan diet ketat seragam. PERKENI menekankan pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis, dan jumlah kandungan kalori, terutama bagi orang yang memakai obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin, karena ketidakteraturan makan bisa memicu gula darah terlalu rendah. PERKENI juga menulis bahwa pembatasan karbohidrat total di bawah 130 gram per hari tidak dianjurkan, dan bahwa glukosa dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga. Rencana makan yang cocok sebaiknya disusun bersama dokter atau ahli gizi. Contoh pilihan makanan sehari-hari ada di artikel makanan untuk penderita diabetes.

Latihan Fisik

PERKENI menyebut latihan fisik sebagai salah satu pilar pengelolaan diabetes tipe 2. Anjurannya: latihan teratur 3 sampai 5 hari seminggu selama sekitar 30 sampai 45 menit, dengan total 150 menit per minggu, dan jeda antarlatihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut. PERKENI juga menegaskan bahwa kegiatan sehari-hari bukan termasuk latihan fisik, jadi naik tangga di kantor atau menyapu rumah bagus, tetapi tidak menggantikan sesi latihan yang terencana. Selain menjaga kebugaran, latihan fisik menurut pedoman itu juga dapat membantu menurunkan berat badan. Bila kamu memakai obat penurun gula darah atau punya komplikasi, tanyakan ke dokter jenis dan intensitas latihan yang aman sebelum memulai.

Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis diberikan bersama pengaturan makan dan latihan jasmani, bukan sebagai pengganti. PERKENI membaginya menjadi obat oral dan obat suntik, dengan beberapa golongan yang cara kerjanya berbeda. Pemilihan golongan, kombinasi, kapan dimulai, dan kapan diubah sepenuhnya keputusan dokter berdasarkan hasil pemeriksaan, penyakit penyerta, dan kondisi tiap orang. Artikel ini sengaja tidak menyebut nama obat atau dosis.

Untuk memantau hasil terapi, PERKENI menganjurkan HbA1c diperiksa setiap 3 bulan saat melihat hasil terapi dan rencana perubahan terapi, dan paling sedikit 2 kali setahun pada pasien yang sudah mencapai sasaran dengan kendali gula darah yang stabil. Sasaran HbA1c ditetapkan dokter per pasien. Angka sasaran itu berbeda dari ambang diagnosis di bagian sebelumnya, dan tidak semua orang punya sasaran yang sama.

Batas informasi ini: artikel ini menjelaskan cara kerja penyakit dan isi pedoman resmi, bukan rencana terapi. Artikel ini tidak menentukan obat, dosis, atau target gula darah pribadi. Jangan memulai, mengganti, atau menghentikan obat tanpa persetujuan dokter, termasuk saat gula darah terasa sudah membaik, dan jangan mengganti obat dengan ramuan herbal.

Pemeriksaan Rutin untuk Mencegah Komplikasi

Gula darah yang tinggi dalam waktu lama bisa merusak saraf dan pembuluh darah. WHO menyebut diabetes sebagai penyebab kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, stroke, dan amputasi tungkai bawah. Banyak dari kerusakan itu berkembang diam-diam, sehingga PERKENI 2021 menjadwalkan pemeriksaan khusus bahkan ketika kamu merasa sehat.

Pemeriksaan Apa yang dicari Frekuensi menurut PERKENI 2021
Mata (pemeriksaan komprehensif oleh dokter spesialis mata) Retinopati diabetik Segera setelah diagnosis; lalu setiap 2 tahun bila tidak ada retinopati, setiap 1 tahun bila ada retinopati, dan bisa lebih sering bila stadium lanjut
Ginjal (albumin urin, misalnya rasio albumin kreatinin urin sewaktu) Tanda awal penyakit ginjal diabetik Segera setelah diagnosis; bila albuminuria di bawah 30 mg/24 jam, dievaluasi ulang setiap tahun
Saraf kaki (tes monofilamen 10 gram) Polineuropati yang meningkatkan risiko luka dan amputasi Paling sedikit setiap tahun
Tekanan darah Hipertensi Setiap kali kunjungan ke poliklinik
HbA1c Kendali gula darah beberapa bulan terakhir Setiap 3 bulan saat evaluasi terapi; paling sedikit 2 kali setahun bila sudah stabil

Di luar tabel itu, PERKENI juga memasukkan evaluasi kaki secara menyeluruh (kondisi kulit, kalus, perubahan bentuk, luka, dan denyut nadi di kaki) dalam komponen evaluasi pasien, serta menekankan pengendalian profil lipid bersama gula darah, tekanan darah, dan berat badan. Frekuensi pemeriksaan kolesterol dan lemak darah sebaiknya kamu tanyakan langsung ke dokter karena bergantung pada hasil sebelumnya dan obat yang dipakai.

Satu kebiasaan kecil yang membantu: simpan semua lembar hasil dalam satu map atau foto di satu folder, lalu bawa setiap kontrol. Dokter jadi bisa melihat tren, bukan hanya satu angka hari itu.

Remisi: Apa Artinya, dan Apa yang Bukan

Istilah remisi makin sering terdengar, dan sering disalahpahami sebagai "diabetes sembuh". Pada 2021, kelompok ahli internasional yang dihimpun ADA menerbitkan konsensus tentang definisi remisi pada diabetes tipe 2 di jurnal Diabetes Care. Panel itu mengusulkan kriteria remisi sebagai HbA1c di bawah 6,5 persen yang diukur setidaknya 3 bulan setelah semua obat penurun gula darah dihentikan.

Beberapa rincian dari konsensus itu penting dipahami:

  • Remisi dipilih justru karena bukan kata sembuh. Panel menimbang istilah resolusi, reversal, remisi, dan sembuh. Menurut panel, kata sembuh sangat bermasalah karena mengesankan semua aspek penyakit sudah normal dan tidak perlu lagi tindak lanjut, sehingga istilah itu disarankan dihindari untuk diabetes tipe 2. Remisi dipilih karena menyiratkan perbaikan nyata yang belum tentu permanen.
  • Jarak waktu pengukuran diatur. Bila remisi terjadi setelah obat dipakai sementara, HbA1c dinilai minimal 3 bulan setelah obat dihentikan. Bila lewat perubahan gaya hidup, penilaian dilakukan minimal 6 bulan setelah intervensi dimulai dan minimal 3 bulan setelah obat apa pun dihentikan.
  • Pemantauan tetap berjalan. Setelah remisi, panel menyarankan HbA1c diperiksa tidak lebih sering dari setiap 3 bulan dan tidak lebih jarang dari setahun sekali, untuk memastikan remisi masih bertahan.
  • Komplikasi masih mungkin muncul. Panel menulis bahwa bahkan setelah remisi, komplikasi klasik diabetes seperti retinopati, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan peningkatan risiko kardiovaskular masih bisa terjadi. Karena itu orang dalam remisi tetap dianjurkan menjalani pemeriksaan retina, fungsi ginjal, evaluasi kaki, dan pemeriksaan lain secara rutin.

Konsensus itu sendiri menyatakan isinya sebagian besar berdasarkan pendapat ahli dan dimaksudkan sebagai dasar pengumpulan data, bukan janji hasil. Artinya, remisi adalah istilah medis untuk menggambarkan kondisi pada orang tertentu, dinilai oleh dokter lewat hasil laboratorium, dan tidak menjadi alasan untuk menghentikan obat sendiri. Keputusan mengurangi atau menghentikan obat hanya boleh diambil dokter, dan hanya dokter yang bisa menilai apakah kondisi seseorang memenuhi kriteria remisi.

Pegangan sederhana: diabetes melitus tipe 2 bisa dikendalikan dengan baik, dan pada sebagian orang gula darah bisa kembali di bawah ambang diagnosis tanpa obat. Namun kendali itu perlu dijaga seumur hidup lewat pola makan, gerak, kontrol rutin, dan terapi yang ditetapkan dokter. Janji "sembuh total dalam sekian minggu" tidak didukung pedoman mana pun yang dikutip di artikel ini.

Kalau kamu baru didiagnosis atau baru tahu termasuk kelompok berisiko, langkah paling berguna hari ini sederhana: jadwalkan pemeriksaan di puskesmas atau dokter, catat hasilnya, dan tanyakan apa saja yang perlu diperiksa berikutnya dan kapan.

Pertanyaan yang sering muncul

FAQ

Apa beda diabetes melitus tipe 2 dengan tipe 1?

Standards of Care in Diabetes 2026 dari American Diabetes Association menjelaskan tipe 1 disebabkan kerusakan sel beta pankreas oleh sistem imun sehingga terjadi kekurangan insulin, dan mencakup 5 sampai 10 persen kasus. Tipe 2 mencakup 90 sampai 95 persen kasus dan umumnya berupa kekurangan insulin yang relatif, bukan mutlak, disertai resistensi insulin. Karena perbedaan mekanisme itu, pendekatan pengobatannya juga berbeda dan harus ditentukan dokter.

Apakah diabetes melitus tipe 2 bisa sembuh total?

Panel konsensus yang diterbitkan di jurnal Diabetes Care pada 2021 memilih istilah remisi, bukan sembuh, dan secara khusus menyarankan kata sembuh dihindari untuk diabetes tipe 2. Alasannya, kata sembuh mengesankan tidak ada lagi pemantauan yang diperlukan, padahal gula darah bisa naik lagi dan komplikasi seperti retinopati atau gangguan ginjal masih mungkin muncul. Orang dalam remisi tetap dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin.

Umur berapa sebaiknya mulai cek gula darah walau tidak ada keluhan?

American Diabetes Association menganjurkan skrining dimulai pada umur 35 tahun untuk semua orang, dan lebih awal bagi orang dewasa dengan berat badan berlebih yang punya faktor risiko. PERKENI 2021 menganjurkan pemeriksaan penyaring bagi orang dengan IMT 23 kg/m2 atau lebih yang punya faktor risiko, serta semua orang berusia di atas 45 tahun walau tanpa faktor risiko. Tanyakan ke puskesmas atau dokter jadwal yang cocok untukmu.

Kalau hasil skrining normal, kapan harus diperiksa lagi?

PERKENI 2021 menyebut kelompok risiko tinggi dengan hasil glukosa plasma normal sebaiknya diperiksa ulang setiap 3 tahun, sedangkan orang dengan prediabetes diperiksa ulang tiap 1 tahun. ADA dan USPSTF memakai patokan serupa, yaitu jarak minimal 3 tahun bila hasilnya normal. Pemeriksaan bisa lebih cepat bila muncul gejala atau faktor risiko bertambah, misalnya berat badan naik.

Apakah penderita diabetes tipe 2 pasti harus memakai insulin?

Tidak pasti. PERKENI 2021 menjelaskan pengelolaan dimulai dengan pola hidup sehat bersamaan dengan obat antihiperglikemia oral dan atau suntikan, dan pilihan terapi disesuaikan dengan kondisi tiap pasien, termasuk kapan insulin diperlukan. Keputusan jenis obat sepenuhnya wewenang dokter. Jangan memulai, mengganti, atau menghentikan obat sendiri, termasuk ketika gula darah terasa sudah membaik.

Seberapa banyak orang Indonesia yang punya diabetes?

Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah pada penduduk berumur 15 tahun ke atas sebesar 11,7 persen. Angka ini mencakup semua tipe diabetes. Karena diabetes tipe 2 sering tanpa gejala, sebagian orang yang terdeteksi lewat pemeriksaan darah dalam survei belum pernah didiagnosis sebelumnya.

Sangkalan medis. Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan diagnosis atau resep tenaga medis. Konsultasikan kondisi khusus (kehamilan, cedera, diabetes, hipertensi) ke tenaga kesehatan sebelum mengubah pola makan atau program latihan.
Baca juga

Artikel terkait

Butuh arahan personal?

Mau program yang pas dengan kondisimu?

Ngobrol dengan tim Bugar Selalu lewat WhatsApp, gratis untuk mulai.

Chat coach via WhatsApp