Pencegahan Penyakit

Diabetes Melitus: Pengertian, Jenis, dan Cara Diagnosisnya

Diabetes melitus bukan satu penyakit yang seragam, melainkan sekelompok kondisi dengan satu ciri yang sama: glukosa menumpuk di darah karena insulin tidak cukup atau tidak bekerja dengan baik. Artikel pilar ini merangkum peran insulin, empat kelompok jenis diabetes, angka resmi WHO, IDF, dan SKI 2023, jenis tes diagnosis, komplikasi jangka panjang, serta gambaran pengelolaan menurut PERKENI.

Naskah ini topik YMYL dan sedang menunggu tinjauan tenaga kesehatan. Sesuai kebijakan editorial, naskah belum kami terbitkan sebagai konten pilar dan tidak diindeks mesin pencari. Untuk diagnosis dan pengobatan, konsultasikan dengan dokter atau puskesmas.

Diagram diabetes melitus: glukosa menumpuk di darah, empat kelompok jenis yaitu tipe 1, tipe 2, gestasional, dan tipe spesifik lain, serta angka SKI 2023 yaitu 11,7 persen dari hasil periksa gula darah dibanding 2,2 persen yang terdiagnosis dokter
PENCEGAHAN PENYAKITBUGAR SELALUDiagram asli yang dibuat sendiri untuk artikel ini, bukan foto dan bukan gambar AI. Kredit: Tim Bugar Selalu.

Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang membuat kadar glukosa atau gula darah terlalu tinggi, karena pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau tubuh tidak mampu memakai insulin itu secara efektif. Jenis utamanya ada empat kelompok: tipe 1, tipe 2, diabetes gestasional yang muncul saat hamil, dan tipe spesifik lain. Diagnosisnya hanya bisa ditegakkan lewat pemeriksaan darah di laboratorium, dan bila tidak terkendali, gula darah yang tinggi dalam jangka panjang merusak mata, ginjal, saraf, jantung, serta kaki.

Kalimat pembuka itu terdengar ringkas, tapi setiap bagiannya menyimpan detail yang sering disalahpahami. Diabetes bukan satu penyakit yang seragam, melainkan payung bagi beberapa kondisi dengan penyebab berbeda, dan cara mengelolanya pun berbeda. Di Indonesia, masalah terbesarnya justru ada pada orang yang belum tahu dirinya mengidap diabetes. Artikel ini adalah peta besar klaster diabetes di Bugar Selalu: ia menjelaskan gambaran umum dari definisi sampai pengelolaan, lalu mengarahkanmu ke artikel yang membahas tiap topik lebih dalam. Semua angka di bawah berasal dari sumber resmi yang tercantum di akhir halaman.

Apa Itu Diabetes Melitus dan Apa Peran Insulin

Untuk memahami diabetes, mulai dari glukosa. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), lembaga di bawah National Institutes of Health Amerika Serikat, menjelaskan bahwa glukosa adalah sumber energi utama tubuh. Tubuh bisa membuat glukosa sendiri, tapi sebagian besar glukosa datang dari makanan yang kamu makan. Setelah makanan dicerna, glukosa masuk ke aliran darah dan harus berpindah ke dalam sel agar bisa dipakai sebagai bahan bakar.

Di sinilah insulin bekerja. NIDDK menyebut insulin sebagai hormon yang dibuat pankreas untuk membantu glukosa masuk ke dalam sel. Bayangkan insulin sebagai kunci yang membuka pintu sel. Pada orang dengan diabetes, tubuh tidak membuat cukup insulin, sama sekali tidak membuatnya, atau tidak bisa memakainya dengan benar. Akibatnya glukosa tertahan di darah dan tidak sampai ke sel yang membutuhkannya.

World Health Organization (WHO) merumuskan hal yang sama dari sudut pandang penyakit: diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak bisa memakai insulin yang dihasilkannya secara efektif. WHO menambahkan bahwa hiperglikemia, yaitu gula darah yang meningkat, adalah akibat umum dari diabetes yang tidak terkendali, dan dari waktu ke waktu menyebabkan kerusakan serius pada banyak sistem tubuh, terutama saraf dan pembuluh darah.

Di Indonesia, rumusan yang dipakai dokter berasal dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). Pedoman PERKENI 2024 mendefinisikan diabetes melitus sebagai penyakit metabolik kronis yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah dan/atau HbA1c akibat ketidakmampuan sekresi insulin, aksi insulin, atau keduanya. Tiga definisi dari tiga lembaga itu saling menguatkan, dan intinya sama: masalahnya ada pada insulin, dan akibatnya terlihat pada gula darah.

Pedoman yang sama juga memperkenalkan istilah prediabetes, yaitu kondisi ketika kadar glukosa atau HbA1c seseorang sudah di atas normal tetapi belum memenuhi kriteria diabetes. PERKENI menyebut prediabetes sebagai faktor risiko terpenting diabetes tipe 2. Kondisi ini penting karena di sinilah kesempatan untuk mencegah atau menunda diabetes masih terbuka lebar.

Diabetes juga sering tidak terasa di awal. WHO mencatat gejala pada diabetes tipe 2 bisa ringan dan butuh bertahun-tahun sebelum disadari. Keluhan yang lazim disebut adalah rasa sangat haus, lebih sering buang air kecil, pandangan kabur, lelah, dan berat badan turun tanpa disengaja. Pembahasan gejala secara lengkap, termasuk kenapa gejala sering terlewat, ada di artikel gejala awal diabetes, sedangkan faktor yang membuat seseorang lebih mudah terkena diabetes dibahas di penyebab diabetes.

Jenis-Jenis Diabetes Melitus

Tabel 2 dalam pedoman PERKENI 2024 membagi diabetes melitus ke dalam empat kelompok. Pembagian ini penting karena penanganan bisa bergantung pada jenis diabetes yang dimiliki seseorang, dan NIDDK menegaskan bahwa tes gula darah biasa bisa memastikan adanya diabetes tetapi tidak bisa menentukan jenisnya.

Kelompok Apa yang terjadi menurut PERKENI 2024
Diabetes tipe 1 Destruksi sel beta pankreas, umumnya berhubungan dengan defisiensi insulin absolut, bisa karena autoimun atau idiopatik
Diabetes tipe 2 Bervariasi, mulai dari dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai dominan gangguan sekresi insulin disertai resistensi insulin
Diabetes melitus gestasional Diabetes yang didiagnosis pada kehamilan, padahal sebelum hamil tidak ada riwayat diabetes
Tipe spesifik karena penyebab lain Antara lain sindrom diabetes monogenik (diabetes neonatal, MODY), penyakit pankreas eksokrin seperti fibrosis kistik dan pankreatitis, serta diabetes akibat obat atau zat kimia

Diabetes tipe 1. NIDDK menjelaskan bahwa pada tipe 1, sistem imun menyerang dan menghancurkan sel pankreas yang membuat insulin, sehingga tubuh hanya membuat sedikit atau sama sekali tidak membuat insulin. Tipe ini biasanya didiagnosis pada anak dan dewasa muda, walau bisa muncul di usia berapa pun. WHO dan NIDDK sama-sama menyebut orang dengan tipe 1 membutuhkan insulin setiap hari untuk bertahan hidup. Ulasan lengkapnya ada di diabetes tipe 1.

Diabetes tipe 2. Ini jenis yang paling umum. WHO mencatat lebih dari 95 persen orang dengan diabetes mengidap tipe 2. NIDDK menjelaskan bahwa pada tipe 2, sel tubuh tidak memakai insulin dengan baik, dan pankreas mungkin masih membuat insulin tetapi tidak cukup untuk menjaga gula darah tetap dalam rentang normal. WHO menambahkan bahwa tipe ini dulu disebut diabetes dewasa, tetapi kini makin sering terjadi pada anak. Faktor risiko, diagnosis, dan pengendaliannya dibahas di diabetes melitus tipe 2.

Diabetes gestasional. NIDDK menyebut diabetes gestasional berkembang selama kehamilan dan pada kebanyakan kasus hilang setelah bayi lahir. Namun perempuan yang pernah mengalaminya punya peluang lebih besar terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari. WHO menambahkan bahwa diabetes gestasional didiagnosis lewat skrining kehamilan, bukan dari gejala yang dilaporkan, dan membawa risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan.

Tipe spesifik lain. Kelompok ini lebih jarang. NIDDK menyebut diabetes monogenik yang disebabkan perubahan pada satu gen, serta diabetes yang muncul setelah operasi pengangkatan pankreas atau kerusakan pankreas karena fibrosis kistik atau pankreatitis. PERKENI 2024 menambahkan diabetes yang disebabkan obat atau zat kimia, misalnya pemakaian glukokortikoid, pada terapi HIV/AIDS, atau setelah transplantasi organ.

Seberapa Besar Masalah Diabetes di Dunia dan di Indonesia

Angka diabetes sering dikutip tanpa keterangan, padahal tiap lembaga mengukur hal yang sedikit berbeda. Tabel di bawah menyandingkan angka dari tiga sumber resmi beserta apa yang sebenarnya diukur.

Sumber Yang diukur Angka
WHO Orang yang hidup dengan diabetes di dunia, 2022 830 juta, naik dari 200 juta pada 1990
WHO Orang dewasa 18 tahun ke atas dengan diabetes, 2022 14 persen, naik dari 7 persen pada 1990
IDF Orang dewasa dengan diabetes di dunia, 2024 589 juta
IDF Orang dewasa dengan diabetes di Indonesia, 2024 20.426.400 orang, prevalensi 11,3 persen
SKI 2023 Penduduk 15 tahun ke atas yang pernah didiagnosis dokter 2,2 persen
SKI 2023 Penduduk 15 tahun ke atas dengan hasil periksa gula darah masuk kategori diabetes 11,7 persen

Gambaran global. WHO mencatat jumlah orang yang hidup dengan diabetes naik dari 200 juta pada 1990 menjadi 830 juta pada 2022, dan kenaikan prevalensinya lebih cepat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada 2021, diabetes menjadi penyebab langsung 1,6 juta kematian, ditambah 530.000 kematian akibat penyakit ginjal yang disebabkan diabetes, dan gula darah tinggi menyebabkan sekitar 11 persen kematian kardiovaskular. WHO juga mencatat 59 persen orang dewasa berumur 30 tahun ke atas yang hidup dengan diabetes tidak memakai obat untuk diabetesnya pada 2022. International Diabetes Federation (IDF) memakai rentang umur berbeda, yaitu dewasa 20 sampai 79 tahun, dan memperkirakan ada 589 juta orang dengan diabetes di dunia pada 2024. Perbedaan rentang umur dan metode itulah yang membuat angka WHO dan IDF tidak sama.

Indonesia menurut IDF. Laman IDF untuk Indonesia mencatat prevalensi diabetes pada orang dewasa sebesar 11,3 persen pada 2024, dengan total 20.426.400 kasus. Pedoman PERKENI 2024 menyebut Indonesia saat ini menempati posisi kelima di dunia dalam jumlah penyandang diabetes dewasa.

Indonesia menurut SKI 2023. Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan memberi dua angka yang perlu dibaca berdampingan. Berdasarkan wawancara, penduduk berumur 15 tahun ke atas yang pernah didiagnosis diabetes oleh dokter sebesar 2,2 persen. Tapi ketika gula darah responden diperiksa langsung, dengan kriteria gula darah puasa atau gula darah 2 jam setelah pembebanan glukosa, prevalensi diabetes pada kelompok umur yang sama mencapai 11,7 persen. Survei yang sama menemukan prediabetes dalam dua bentuk: glukosa darah puasa terganggu pada 13,4 persen dan toleransi glukosa terganggu pada 18,6 persen penduduk berumur 15 tahun ke atas.

Cara membaca dua angka SKI 2023: angka 2,2 persen menghitung orang yang tahu dirinya diabetes karena sudah didiagnosis dokter, sedangkan 11,7 persen menghitung orang yang gula darahnya masuk kategori diabetes saat diperiksa. Keduanya diukur dengan cara berbeda sehingga tidak bisa dikurangkan begitu saja, tetapi jaraknya menunjukkan satu hal: banyak orang dengan gula darah tinggi belum pernah mendapat diagnosis. PERKENI 2024 memperkirakan sekitar 70 persen penyandang diabetes di Indonesia belum terdiagnosis.

Satu temuan SKI 2023 lagi layak dicatat. Ketika penduduk yang sudah didiagnosis ditanya jenis diabetesnya, 50,2 persen menjawab tipe 2, dan 30,3 persen menjawab tidak tahu. Angka ini berdasarkan jawaban responden, bukan pemeriksaan, tetapi ia menunjukkan bahwa hampir sepertiga penyandang diabetes belum memahami jenis penyakitnya sendiri. Padahal, seperti dijelaskan di bagian sebelumnya, jenis diabetes memengaruhi cara penanganannya.

SKI 2023 juga memperlihatkan bagaimana diabetes meningkat seiring umur. Berdasarkan pemeriksaan gula darah, prevalensinya 1,8 persen pada kelompok 15 sampai 24 tahun, naik menjadi 17,4 persen pada kelompok 45 sampai 54 tahun, dan 22,7 persen pada kelompok 55 sampai 64 tahun.

Bagaimana Diabetes Melitus Didiagnosis

NIDDK menyampaikan satu pesan yang perlu diingat sebelum membahas tes apa pun: jangan mencoba mendiagnosis dirimu sendiri. Alat tes yang dijual bebas, seperti glukometer, tidak bisa dipakai untuk mendiagnosis diabetes. Diagnosis ditegakkan dokter lewat pemeriksaan darah, dan PERKENI 2024 menganjurkan pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena.

Menurut PERKENI 2024, ada empat jalur pemeriksaan yang dipakai untuk menegakkan diagnosis:

  1. Glukosa darah puasa. Diperiksa setelah tidak ada asupan kalori minimal 8 jam. NIDDK menyebut tes ini biasanya dilakukan pagi hari dan puasa berarti tidak makan atau minum apa pun kecuali beberapa teguk air.
  2. Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Gula darah diperiksa dalam keadaan puasa, lalu kamu diminta minum larutan berisi 75 gram glukosa, dan gula darah diperiksa lagi 2 jam kemudian.
  3. Glukosa darah sewaktu. Bisa diambil kapan saja, tetapi hanya dipakai untuk diagnosis bila disertai keluhan klasik atau krisis hiperglikemia.
  4. HbA1c. NIDDK menjelaskan tes ini menggambarkan rata-rata gula darah selama sekitar 3 bulan terakhir dan tidak memerlukan puasa. PERKENI mensyaratkan metode yang terstandardisasi.

Ambang angka untuk tiap tes, termasuk batas prediabetes dan perbedaannya dengan target kontrol pada penyandang diabetes, dibahas terpisah di kadar gula darah normal. Yang perlu kamu ketahui di sini adalah beberapa catatan penting tentang cara kerja diagnosis.

Pertama, satu hasil biasanya belum cukup. NIDDK menulis bahwa dokter biasanya memakai tes kedua untuk memastikan diagnosis. Kedua, HbA1c tidak cocok untuk semua orang. PERKENI 2024 menyebut HbA1c dipengaruhi pergantian sel darah merah sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat diagnosis pada keadaan dengan gangguan pergantian sel darah merah dan anemia, dan NIDDK menambahkan kehamilan trimester kedua atau ketiga serta varian hemoglobin tertentu sebagai keadaan yang bisa membuat hasilnya tidak akurat. Ketiga, tes gula darah tidak bisa membedakan tipe diabetes. Untuk itu, menurut NIDDK, dokter bisa memeriksa autoantibodi untuk melihat apakah diabetesnya tipe 1, atau tes genetik untuk sebagian besar bentuk diabetes monogenik.

Kehamilan punya jalurnya sendiri. NIDDK menganjurkan semua ibu hamil yang belum pernah didiagnosis diabetes menjalani tes diabetes gestasional pada usia kehamilan 24 sampai 28 minggu, dan tes ulang setelah melahirkan untuk melihat apakah ada diabetes tipe 2.

Lalu siapa yang perlu diperiksa meski tidak merasakan apa-apa? PERKENI 2024 menganjurkan pemeriksaan pada orang tanpa gejala yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas, yaitu indeks massa tubuh 23 kg/m² atau lebih, disertai minimal satu faktor risiko lain, misalnya kerabat tingkat pertama dengan riwayat diabetes, hipertensi, kurang aktif secara fisik, atau umur di atas 35 tahun. Di bagian faktor risiko, pedoman yang sama menyebut orang berusia di atas 40 tahun harus menjalani skrining diabetes tipe 2. Kalau kamu belum tahu indeks massa tubuhmu, kalkulator BMI bisa membantu sebagai langkah awal sebelum berkonsultasi.

Komplikasi Jangka Panjang: Mata, Ginjal, Saraf, Jantung, dan Kaki

Diabetes berbahaya bukan terutama karena gula darah tinggi itu sendiri, melainkan karena kerusakan yang ditimbulkannya selama bertahun-tahun. Pedoman PERKENI 2024 membagi komplikasi kronis diabetes menjadi dua kelompok. Komplikasi makrovaskular, yaitu pada pembuluh darah besar, umumnya mengenai jantung, otak, dan pembuluh darah. Komplikasi mikrovaskular, yaitu pada pembuluh darah kecil, dapat terjadi pada mata, saraf tepi, dan ginjal. PERKENI juga mencatat bahwa komplikasi bisa ditemukan pada pasien yang sudah lama mengidap diabetes tipe 2, maupun pada pasien yang baru terdiagnosis.

Mata. WHO menyebut diabetes bisa menyebabkan kehilangan penglihatan permanen dengan merusak pembuluh darah di mata. NIDDK menganjurkan pemeriksaan mata dengan pupil dilebarkan setidaknya sekali setahun, dan menyebut pengendalian gula darah, tekanan darah, dan kolesterol serta tidak merokok sebagai cara terbaik mencegah penyakit mata.

Ginjal. NIDDK menjelaskan penyakit ginjal diabetik, disebut juga nefropati diabetik, sebagai penyakit ginjal yang disebabkan diabetes. Beban ini nyata di tingkat global: menurut WHO, 530.000 kematian akibat penyakit ginjal pada 2021 disebabkan diabetes.

Saraf. NIDDK menjelaskan neuropati diabetik sebagai kerusakan saraf akibat diabetes, dengan jenis yang berbeda mengenai bagian tubuh yang berbeda, dari kaki dan tungkai sampai organ seperti jantung. PERKENI 2024 menyebut keluhan neuropati umum dialami penyandang diabetes, baik neuropati motorik, sensorik, maupun otonom.

Jantung dan pembuluh darah. NIDDK menyebut diabetes bisa merusak pembuluh darah dan menyebabkan penyakit jantung serta stroke. WHO mencatat orang dengan diabetes punya risiko lebih tinggi terkena serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal, dan gula darah tinggi menyebabkan sekitar 11 persen kematian kardiovaskular.

Kaki. WHO menjelaskan banyak penyandang diabetes mengalami masalah kaki karena kerusakan saraf dan aliran darah yang buruk, yang bisa menyebabkan luka atau ulkus kaki dan berujung pada amputasi. NIDDK menambahkan bahwa masalah kecil seperti kapalan bisa berkembang menjadi nyeri atau infeksi yang menyulitkan berjalan, sehingga kaki perlu diperiksa pada setiap kunjungan ke tenaga kesehatan.

Daftar NIDDK tidak berhenti di lima organ itu. Lembaga itu juga menyebut gangguan mulut seperti infeksi dan penyakit gusi, masalah seksual dan kandung kemih, depresi, keterkaitan dengan beberapa jenis kanker, serta peningkatan kemungkinan demensia pada gula darah yang tinggi. Kabar baiknya, WHO menegaskan bahwa konsekuensi diabetes dapat dihindari atau ditunda lewat pola makan, aktivitas fisik, obat, serta skrining dan pengobatan rutin untuk komplikasi.

Kapan harus ke dokter atau IGD: periksakan diri ke dokter atau puskesmas bila kamu punya keluhan yang mengarah ke diabetes atau punya faktor risikonya, karena diagnosis butuh tes laboratorium. Segera ke IGD bila muncul tanda ketoasidosis diabetik yang disebut NHS: nyeri perut, mual atau muntah, napas lebih dalam dari biasanya, napas berbau buah, serta rasa mengantuk atau bingung, termasuk pada orang yang belum pernah didiagnosis diabetes. NHS juga meminta pertolongan darurat segera bila seseorang dengan gula darah sangat rendah tidak merespons secara normal, kejang, atau pingsan.

Gambaran Pengelolaan Diabetes Menurut PERKENI

Bagian ini sengaja hanya memberi gambaran. Rencana pengelolaan setiap orang berbeda, dan PERKENI 2024 menegaskan bahwa diabetes adalah penyakit menahun yang membutuhkan penanganan seumur hidup, dengan peran dokter, perawat, ahli gizi, tenaga kesehatan lain, serta pasien dan keluarganya. Pedoman itu juga menyebut kasus diabetes sederhana tanpa penyulit dapat dikelola dengan tuntas oleh dokter umum di pelayanan kesehatan primer, jadi puskesmas adalah pintu masuk yang wajar.

PERKENI 2024 menyusun terapi dalam dua bab besar. Terapi nonfarmakologi terdiri atas edukasi, aktivitas fisik, dan terapi nutrisi. Terapi farmakologi mencakup obat antihiperglikemia oral dan suntik, yang sepenuhnya menjadi keputusan dokter. Pedoman PERKENI 2021 merangkum urutannya: penatalaksanaan dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat, yaitu terapi nutrisi medis dan aktivitas fisik, bersamaan dengan intervensi farmakologis bila diperlukan.

Edukasi. PERKENI 2024 menyebut edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat sebagai bagian yang sangat penting dari pengelolaan diabetes secara holistik. Materi awalnya, yang diberikan di pelayanan kesehatan primer, mencakup perjalanan penyakit diabetes, pentingnya pengendalian dan pemantauan berkelanjutan, penyulit diabetes dan risikonya, pilihan terapi dan target pengobatan, serta hubungan antara makanan, aktivitas fisik, dan obat.

Terapi nutrisi. PERKENI 2024 mendefinisikan terapi nutrisi medis sebagai terapi lewat modifikasi asupan makanan atau nutrisi yang diberikan oleh ahli gizi, terutama yang berpengalaman dalam pelayanan diabetes. Tujuannya antara lain mempromosikan pola makan sehat dengan beragam makanan kaya nutrisi dalam porsi yang sesuai, mencapai dan menjaga berat badan ideal, mencapai target gula darah, tekanan darah, dan lemak darah secara individual, serta mencegah atau memperlambat komplikasi. Susunan piring dan pilihan bahan makanan dibahas di makanan untuk penderita diabetes.

Aktivitas fisik. Menurut PERKENI 2024, aktivitas fisik dan latihan fisik bermanfaat bagi penyandang diabetes karena dapat menurunkan risiko komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular, memperbaiki kontrol gula darah, lemak darah, dan tekanan darah, serta meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan mental. Pedoman itu juga mencatat kombinasi latihan aerobik dan latihan resistensi dilaporkan lebih bermanfaat untuk kontrol gula darah dibanding salah satunya saja. Jenis, durasi, dan kehati-hatian latihan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, terutama bila sudah ada komplikasi atau memakai obat yang bisa menurunkan gula darah.

Obat. Pemilihan obat, termasuk insulin, adalah wewenang dokter berdasarkan jenis diabetes, hasil laboratorium, penyakit penyerta, dan kondisi lain. Artikel ini sengaja tidak menyebut nama obat atau dosis. Satu hal yang perlu diingat dari WHO: orang dengan diabetes tipe 1 membutuhkan insulin untuk bertahan hidup, jadi insulin pada tipe ini bukan pilihan yang bisa ditawar.

Satu pembeda penting yang sering tertukar: ambang diagnosis berbeda dengan target kontrol. Ambang diagnosis dipakai untuk memutuskan apakah seseorang mengidap diabetes, sedangkan target kontrol adalah sasaran gula darah bagi orang yang sudah terdiagnosis. PERKENI 2024 menulis target HbA1c umumnya di bawah 7 persen atau ditetapkan secara individual, artinya dokter bisa memasang target berbeda untuk orang lanjut usia, orang dengan riwayat hipoglikemia, atau orang dengan penyakit penyerta tertentu.

Pencegahan juga bagian dari pengelolaan, terutama bagi orang dengan prediabetes atau faktor risiko. WHO menyebut pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, menjaga berat badan normal, dan menghindari rokok sebagai cara mencegah atau menunda diabetes tipe 2. Langkah-langkahnya dibahas di cara mencegah diabetes.

Batas informasi ini: Bugar Selalu belum punya peninjau tenaga kesehatan, jadi artikel ini hanya merangkum isi sumber resmi dan bukan pengganti pemeriksaan. Di sini tidak ada anjuran obat, dosis insulin, atau terapi apa pun. Jangan memulai, mengubah, atau menghentikan obat tanpa arahan dokter, dan jangan menilai dirimu terkena atau bebas diabetes hanya dari gejala atau alat cek rumahan.

Kalau ada satu hal yang perlu kamu bawa pulang dari artikel ini, itu adalah pentingnya tahu angka gula darahmu sendiri. Data SKI 2023 menunjukkan jarak lebar antara orang yang gula darahnya tinggi dan orang yang sudah didiagnosis. Pemeriksaan gula darah bisa dilakukan di puskesmas atau laboratorium, dan hasilnya sebaiknya dibaca bersama dokter yang memeriksamu langsung.

Pertanyaan yang sering muncul

FAQ

Apa pengertian diabetes melitus secara singkat?

World Health Organization mendefinisikan diabetes sebagai penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak bisa memakai insulin yang dihasilkannya secara efektif. Pedoman PERKENI 2024 merumuskannya sebagai penyakit metabolik kronis yang ditandai kenaikan kadar glukosa darah dan/atau HbA1c akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Akibatnya glukosa tertahan di darah dan tidak sampai ke sel yang membutuhkannya sebagai sumber energi.

Apa beda diabetes tipe 1 dan tipe 2?

Menurut NIDDK, pada diabetes tipe 1 sistem imun menyerang dan menghancurkan sel pankreas penghasil insulin, sehingga tubuh hanya membuat sedikit atau sama sekali tidak membuat insulin dan penderitanya perlu insulin setiap hari. Pada tipe 2, sel tubuh tidak memakai insulin dengan baik dan pankreas tidak lagi membuat insulin dalam jumlah cukup. WHO mencatat lebih dari 95 persen orang dengan diabetes mengidap tipe 2. Penjelasan lengkap tiap tipe ada di artikel terpisah dalam klaster ini.

Berapa banyak orang Indonesia yang mengidap diabetes?

Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan menemukan 11,7 persen penduduk berumur 15 tahun ke atas masuk kategori diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah, sementara yang pernah didiagnosis dokter hanya 2,2 persen. International Diabetes Federation memperkirakan pada 2024 ada 20.426.400 orang dewasa dengan diabetes di Indonesia, dengan prevalensi 11,3 persen. Selisih besar antara hasil periksa dan diagnosis dokter menandakan banyak kasus yang belum diketahui penderitanya.

Bisakah diabetes didiagnosis pakai alat cek gula darah di rumah?

Tidak. NIDDK menegaskan alat tes yang dijual bebas, seperti glukometer, tidak bisa dipakai untuk mendiagnosis diabetes, dan menyarankan agar orang tidak mencoba mendiagnosis dirinya sendiri. Diagnosis ditegakkan dokter lewat pemeriksaan darah di laboratorium, dan biasanya dikonfirmasi dengan tes kedua. PERKENI 2024 menganjurkan pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Glukometer berguna untuk pemantauan bagi orang yang sudah terdiagnosis, sesuai arahan dokter.

Organ apa saja yang bisa rusak akibat diabetes?

PERKENI 2024 membagi komplikasi kronis menjadi dua kelompok. Komplikasi makrovaskular umumnya mengenai jantung, otak, dan pembuluh darah, sedangkan komplikasi mikrovaskular mengenai mata, saraf tepi, dan ginjal. NIDDK menambahkan masalah kaki akibat kerusakan saraf dan aliran darah yang buruk, gangguan mulut dan gusi, masalah seksual dan kandung kemih, serta keterkaitan dengan depresi dan demensia. WHO menyebut diabetes sebagai penyebab kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, stroke, dan amputasi tungkai bawah.

Apakah diabetes melitus bisa sembuh total?

Sumber resmi tidak memakai istilah sembuh untuk diabetes. PERKENI 2024 menyebut diabetes sebagai penyakit menahun yang membutuhkan penanganan seumur hidup, dan WHO menulis bahwa diabetes bisa diobati serta konsekuensinya dapat dihindari atau ditunda lewat pola makan, aktivitas fisik, obat, dan skrining rutin untuk komplikasi. Jadi tujuan pengelolaan adalah mengendalikan gula darah dan mencegah komplikasi, dengan rencana yang disusun bersama dokter.

Sangkalan medis. Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan diagnosis atau resep tenaga medis. Konsultasikan kondisi khusus (kehamilan, cedera, diabetes, hipertensi) ke tenaga kesehatan sebelum mengubah pola makan atau program latihan.
Baca juga

Artikel terkait

Butuh arahan personal?

Mau program yang pas dengan kondisimu?

Ngobrol dengan tim Bugar Selalu lewat WhatsApp, gratis untuk mulai.

Chat coach via WhatsApp