Penyebab diabetes berbeda menurut tipenya. Diabetes tipe 1 terjadi karena sistem imun keliru menghancurkan sel beta pankreas yang membuat insulin. Diabetes tipe 2 terjadi karena sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik (resistensi insulin) sementara pankreas lama-kelamaan tidak sanggup membuat insulin yang cukup. Diabetes gestasional muncul saat hamil ketika hormon kehamilan menghambat kerja insulin dan pankreas gagal mengimbanginya. Ada juga tipe yang lebih jarang, yang dipicu kelainan satu gen, penyakit pankreas, gangguan hormon, atau obat tertentu. Makan gula bukan penyebab tunggal dari tipe mana pun.
Kalimat pembuka itu terdengar sederhana, tapi konsekuensinya besar. Karena penyebabnya berbeda, cara mencegah dan menangani tiap tipe juga berbeda. Tipe 1 sampai sekarang belum bisa dicegah dengan cara apa pun yang diketahui, sedangkan tipe 2 sering bisa ditunda atau dicegah. Menyamaratakan keduanya membuat orang dengan tipe 1 disalahkan atas hal yang tidak mereka sebabkan, dan membuat orang yang berisiko tipe 2 merasa aman hanya karena badannya tidak gemuk. Artikel ini membedah mekanisme per tipe, memisahkan faktor risiko yang bisa diubah dari yang tidak, lalu meluruskan beberapa mitos yang paling sering beredar. Gambaran besar tentang apa itu diabetes ada di artikel pilar diabetes melitus.
Satu Hasil Akhir, Beberapa Jalan Masuk
Semua tipe diabetes bertemu di titik yang sama: kadar glukosa darah terlalu tinggi. Untuk memahami kenapa itu bisa terjadi, kita perlu tahu peran insulin.
NIDDK, lembaga di bawah National Institutes of Health Amerika Serikat, menjelaskan insulin sebagai hormon yang membantu glukosa dalam darah masuk ke sel tubuh untuk dipakai sebagai energi. Kalau insulin tidak cukup, glukosa tidak bisa masuk ke sel. Akibatnya sel kekurangan energi, glukosa menumpuk di darah, dan terjadilah diabetes. Insulin dibuat oleh sel beta di pankreas.
Dari penjelasan itu, masalah bisa muncul di dua tempat. Pertama, pabriknya rusak, sehingga insulin tidak diproduksi atau produksinya jauh berkurang. Kedua, pabriknya masih jalan tetapi pesannya tidak didengar, sehingga sel otot, lemak, dan hati tidak merespons insulin dengan baik. Tipe 1 adalah contoh masalah pertama. Tipe 2 adalah campuran keduanya: dimulai dari resistensi insulin, lalu diperparah sel beta yang tidak lagi mampu mengimbangi. Diabetes gestasional mengikuti pola yang mirip tipe 2 tetapi dipicu oleh kehamilan.
| Tipe | Masalah utama | Peran gen | Bisa dicegah? |
|---|---|---|---|
| Tipe 1 | Sistem imun merusak sel beta, produksi insulin berhenti | Varian gen HLA menaikkan risiko, tetapi sebagian besar pembawanya tidak terkena | Belum ada cara pencegahan yang diketahui (WHO) |
| Tipe 2 | Resistensi insulin ditambah sel beta yang melemah | Setidaknya 150 variasi DNA terkait, masing-masing berefek kecil | Sering bisa dicegah atau ditunda (WHO) |
| Gestasional | Hormon kehamilan menghambat insulin, pankreas tidak mampu mengimbangi | Riwayat keluarga menaikkan risiko | Risikonya bisa ditekan, tetapi tidak selalu bisa dihindari |
| Tipe spesifik lain | Kelainan satu gen, kerusakan pankreas, gangguan hormon, atau efek obat | Pada MODY sangat kuat, dominan autosomal | Tergantung penyebabnya |
MedlinePlus Genetics dari National Library of Medicine menyebut tipe 1 mencakup 5 sampai 10 persen kasus diabetes di dunia, sedangkan tipe 2 mencakup 90 sampai 95 persen. Jadi ketika orang membicarakan penyebab diabetes secara umum, yang sebenarnya dibicarakan hampir selalu tipe 2. Masalahnya, penjelasan untuk tipe 2 sering ikut ditempelkan ke tipe 1, dan di situlah salah kaprah dimulai.
Penyebab Diabetes Tipe 1: Serangan Autoimun yang Belum Sepenuhnya Dipahami
NIDDK menjelaskan diabetes tipe 1 berkembang ketika sistem imun tubuh menghancurkan sel beta di pankreas. Gen dan faktor lingkungan, yaitu tempat seseorang tinggal, bermain, bekerja, belajar, dan berkumpul, diduga menjadi pemicu serangan itu. Kata kuncinya "diduga". WHO dalam lembar faktanya menyatakan terus terang bahwa baik penyebab maupun cara mencegah diabetes tipe 1 belum diketahui.
CDC menambahkan satu detail yang penting: proses autoimun ini bisa berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun sebelum gejala muncul. Jadi ketika seorang anak tiba-tiba sering haus dan berat badannya turun, kerusakan di pankreasnya sebenarnya sudah berjalan lama.
Peran gen: meningkatkan peluang, bukan memastikan
MedlinePlus Genetics menjelaskan risiko tipe 1 meningkat pada pembawa varian tertentu dari gen HLA-DQA1, HLA-DQB1, dan HLA-DRB1. Gen-gen ini termasuk kelompok human leukocyte antigen yang membantu sistem imun membedakan protein tubuh sendiri dari protein penyerbu seperti virus dan bakteri. Kombinasi varian tertentu diduga membuat sistem imun lebih mudah salah sasaran ke sel beta.
Tapi ada dua angka dari sumber yang sama yang membuat gambaran ini lebih seimbang. Varian HLA berisiko itu juga banyak ditemukan pada populasi umum, dan hanya sekitar 5 persen pembawanya yang akhirnya terkena diabetes tipe 1. Selain itu, variasi HLA hanya menjelaskan sekitar 40 persen dari risiko genetik tipe 1. Sisanya berasal dari gen lain dan faktor lingkungan yang belum semuanya teridentifikasi. CDC merangkumnya dengan kalimat yang serupa: banyak orang yang punya gen tersebut tidak pernah terkena tipe 1.
Pemicu lingkungan yang masih diteliti
CDC menyebut pemicu dari lingkungan, misalnya infeksi virus, mungkin ikut berperan. NIDDK mencatat studi besar seperti The Environmental Determinants of Diabetes in the Young (TEDDY) masih berusaha memetakan pemicu apa saja yang terlibat. Artinya, sampai sekarang tidak ada satu pemicu yang terbukti cukup untuk menjelaskan semua kasus.
Satu hal yang sudah jelas justru soal apa yang bukan penyebabnya. CDC menyatakan pola makan dan kebiasaan hidup tidak menyebabkan diabetes tipe 1. Anak dengan tipe 1 tidak terkena karena terlalu banyak makan permen, dan orang tuanya tidak gagal menjaga pola makan anak. Detail lengkap tipe ini, termasuk bagaimana ia ditangani, dibahas di diabetes tipe 1.
Kapan harus ke dokter atau IGD: Menurut NIDDK, sebagian orang baru tahu dirinya mengidap tipe 1 ketika sudah mengalami ketoasidosis diabetik, kondisi gawat darurat saat tubuh membakar lemak dan menumpuk keton. Tandanya antara lain sangat lelah, sesak napas, napas berbau buah, pingsan karena dehidrasi, nyeri perut, mual, atau muntah. Kalau tanda ini muncul, terutama pada anak yang belakangan sering haus dan berat badannya turun, segera ke IGD. Hal yang sama berlaku bagi penyandang diabetes yang mengalami gula darah sangat rendah sampai bingung, kejang, atau tidak sadar.
Penyebab Diabetes Tipe 2: Resistensi Insulin dan Sel Beta yang Kelelahan
Tipe 2 adalah bentuk diabetes yang paling umum. NIDDK menjelaskan tipe ini berkembang ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin dan tubuh kesulitan memakai insulin. Kondisi kedua disebut resistensi insulin, yaitu ketika sel di otot, jaringan lemak, dan hati tidak merespons insulin dengan baik.
MedlinePlus Genetics menggambarkan urutannya dengan jelas. Kebanyakan orang yang kemudian terkena tipe 2 lebih dulu mengalami resistensi insulin. Supaya glukosa darah tetap normal, pankreas terpaksa memproduksi insulin makin banyak. Dalam jangka panjang, sel beta makin kurang mampu merespons perubahan glukosa darah, lalu terjadilah kekurangan insulin. Sumber yang sama menyebut kebanyakan orang mengalami sedikit resistensi insulin seiring bertambahnya usia, tetapi kurang olahraga dan kenaikan berat badan berlebihan memperparahnya.
Sebelum sampai ke diagnosis tipe 2, banyak orang melewati fase prediabetes, yaitu kadar glukosa darah di atas normal tetapi belum setinggi ambang diabetes. Angka ambangnya ditentukan lewat pemeriksaan laboratorium dan dinilai oleh tenaga kesehatan, bukan lewat perkiraan sendiri.
Yang perlu diingat, NIDDK sendiri mengakui para peneliti belum sepenuhnya tahu apa yang menyebabkan gangguan produksi insulin dan resistensi insulin pada tipe 2. Yang sudah diketahui adalah daftar faktor yang membuat seseorang lebih mungkin terkena.
Faktor risiko menurut NIDDK
Menurut NIDDK, seseorang lebih mungkin terkena diabetes tipe 2 bila:
- memiliki kelebihan berat badan, obesitas, atau lingkar pinggang besar;
- berusia 35 tahun ke atas, meskipun anak dan remaja juga bisa terkena;
- memiliki riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2;
- berasal dari kelompok etnis tertentu, termasuk keturunan Asia (dalam data NIDDK untuk penduduk Amerika Serikat);
- kurang aktif secara fisik, misalnya karena pekerjaan yang mengharuskan duduk lama atau keterbatasan gerak;
- merokok, termasuk rokok elektrik, atau sering terpapar asap rokok orang lain;
- mengalami prediabetes;
- pernah mengalami diabetes gestasional atau pernah melahirkan bayi dengan berat 9 pon (sekitar 4,1 kg) atau lebih.
NIDDK menambahkan, anak dan remaja juga berisiko lebih tinggi bila lahir dengan berat badan rendah atau bila ibunya mengalami diabetes gestasional saat mengandung mereka.
Kenapa lemak perut lebih diperhatikan daripada angka timbangan
Untuk menilai apakah berat badan menjadi faktor risiko, NIDDK memakai dua ukuran: indeks massa tubuh dan lingkar pinggang. Menurut lembaga itu, kebanyakan orang dewasa dengan indeks massa tubuh 25 atau lebih tergolong kelebihan berat badan, tetapi untuk orang keturunan Asia di Amerika Serikat batasnya lebih rendah, yaitu 23 atau lebih. Angka indeksmu bisa dihitung dengan kalkulator BMI.
Ukuran kedua lebih sering terlewat. NIDDK menyebut laki-laki berisiko lebih tinggi bila lingkar pinggangnya lebih dari 40 inci (sekitar 102 cm), dan perempuan yang tidak hamil bila lebih dari 35 inci (sekitar 89 cm). Lingkar pinggang adalah ukuran tidak langsung dari jumlah lemak di perut, dan NIDDK menegaskan lingkar pinggang besar tetap menjadi faktor risiko diabetes dan penyakit jantung walaupun indeks massa tubuh seseorang normal. Survei Kesehatan Indonesia 2023 memakai batas yang lebih ketat untuk obesitas sentral, yaitu lingkar perut di atas 90 cm pada laki-laki dan di atas 80 cm pada perempuan.
Gen pada tipe 2: banyak, kecil, dan saling berinteraksi
Berbeda dari tipe 1 yang didominasi gen HLA, MedlinePlus Genetics menyebut penelitian telah menemukan setidaknya 150 variasi DNA yang berkaitan dengan risiko tipe 2. Sebagian besar variasi itu umum dan ditemukan pada orang dengan maupun tanpa diabetes. Setiap orang membawa sebagian variasi yang menaikkan risiko dan sebagian lain yang menurunkannya, dan kombinasi keseluruhannya yang ikut menentukan peluang seseorang. Variasi-variasi ini diduga bekerja dengan mengubah perkembangan dan fungsi sel beta, pelepasan insulin, serta kepekaan sel terhadap insulin.
PCOS dan kondisi lain yang menyertai
CDC menjelaskan perempuan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) sering mengalami resistensi insulin, dan resistensi insulin menaikkan risiko diabetes tipe 2 maupun diabetes gestasional, terutama bila disertai kelebihan berat badan. Pembahasan lebih dalam tentang perjalanan tipe 2 ada di diabetes melitus tipe 2.
Diabetes Gestasional dan Tipe Spesifik Lain
Diabetes gestasional: ketika kehamilan menaikkan kebutuhan insulin
NIDDK menjelaskan diabetes gestasional terjadi ketika tubuh tidak mampu membuat tambahan insulin yang dibutuhkan selama kehamilan. Perubahan hormon saat hamil membuat glukosa lebih sulit masuk ke sel, sehingga terjadi resistensi insulin. MedlinePlus menyebut hormon kehamilan dapat menghambat kerja insulin, dan American Diabetes Association menjelaskan bahwa hormon dari plasenta, yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan janin, adalah salah satu yang bisa menghalangi insulin ibu.
CDC menambahkan bahwa semua ibu hamil mengalami sedikit resistensi insulin di akhir kehamilan. Pada sebagian besar kehamilan, pankreas sanggup mengimbanginya. Sebagian perempuan sudah memiliki resistensi insulin sebelum hamil, sehingga memulai kehamilan dengan kebutuhan insulin yang lebih tinggi dan lebih mungkin mengalami diabetes gestasional. Faktor risiko yang disebut CDC antara lain riwayat diabetes gestasional sebelumnya, pernah melahirkan bayi lebih dari 9 pon, kelebihan berat badan, riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2, dan PCOS.
Dampaknya tidak berhenti saat persalinan. CDC menyebut sekitar separuh perempuan yang pernah mengalami diabetes gestasional kemudian terkena diabetes tipe 2, dan NIDDK menyebut anaknya juga lebih mungkin mengalami obesitas atau diabetes tipe 2. Ambang pemeriksaan gula darah untuk ibu hamil berbeda dengan ambang orang umum, jadi hasil tes kehamilan perlu ditafsirkan oleh dokter atau bidan yang menanganinya.
Diabetes monogenik (MODY): ketika satu gen menjadi penentu
NIDDK menjelaskan diabetes monogenik sebagai sekelompok bentuk diabetes langka yang disebabkan perubahan pada satu gen saja. Dua bentuk utamanya adalah maturity-onset diabetes of the young (MODY) dan diabetes neonatal. MODY biasanya muncul pada remaja atau dewasa muda, paling sering pada usia 30 tahun atau lebih muda, dan penderitanya biasanya punya anggota keluarga lain yang juga diabetes.
Pola pewarisannya jauh lebih tegas daripada tipe 2. Menurut NIDDK, kebanyakan MODY diwariskan secara dominan autosomal, dan bila seseorang memiliki bentuk yang dominan autosomal, setiap anaknya memiliki peluang 50 persen untuk ikut terkena. MODY juga sering tertukar dengan tipe lain: studi ProDiGY yang dikutip NIDDK menemukan 2,8 persen remaja multietnis yang didiagnosis tipe 2 ternyata mengidap MODY. Diagnosisnya memerlukan tes genetik, dan kepastian tipe ini penting karena memengaruhi pilihan terapi.
Penyakit pankreas, gangguan hormon, dan obat
NIDDK mendaftar beberapa penyebab lain yang tidak termasuk tipe 1, tipe 2, maupun gestasional:
- Penyakit genetik yang merusak pankreas, seperti fibrosis kistik yang menimbulkan bengkak dan jaringan parut di pankreas, serta hemokromatosis yang menumpuk zat besi sampai merusak organ.
- Gangguan endokrin yang membuat tubuh memproduksi hormon tertentu secara berlebihan, misalnya sindrom Cushing (kortisol berlebih), akromegali (hormon pertumbuhan berlebih), dan hipertiroidisme. Hipotiroidisme juga disebut dapat memicu resistensi insulin.
- Kerusakan atau pengangkatan pankreas, misalnya akibat cedera atau peradangan pankreas (pankreatitis). NIDDK juga mencatat diabetes bisa menjadi tanda pertama kanker pankreas pada orang lanjut usia yang tidak punya faktor risiko diabetes.
- Obat-obatan tertentu yang dapat merusak pankreas atau mengubah kerja insulin, yaitu kelompok antipsikotik, obat antikejang, beta-blocker dan diuretik untuk tekanan darah, glukokortikoid (kortikosteroid) untuk penyakit peradangan, obat penekan imun setelah transplantasi organ, dan niasin. NIDDK juga menyebut statin sedikit menaikkan peluang diabetes, tetapi manfaat perlindungannya terhadap penyakit jantung dan stroke jauh lebih besar.
Batas informasi ini: Daftar obat di atas hanya menyebut kelompok obat, bukan anjuran. Jangan menghentikan atau mengubah obat apa pun karena khawatir gula darahmu naik, karena menghentikan obat seperti kortikosteroid secara mendadak justru bisa berbahaya. Bawa daftar obat lengkap saat konsultasi dan tanyakan ke dokter apakah gula darahmu perlu dipantau. Bugar Selalu belum memiliki peninjau tenaga kesehatan, jadi artikel ini hanya merangkum sumber resmi dan tidak bisa dipakai untuk menentukan tipe diabetes seseorang.
Faktor Risiko yang Bisa Diubah dan yang Tidak
NIDDK menegaskan peluang seseorang terkena diabetes tipe 2 bergantung pada kombinasi faktor risiko. Sebagian tidak bisa diubah, sebagian lain bisa. Tabel berikut memisahkan keduanya berdasarkan daftar NIDDK dan CDC yang dibahas di atas.
| Tidak bisa diubah | Bisa diubah atau dikelola |
|---|---|
| Usia, risiko naik mulai 35 tahun ke atas | Kelebihan berat badan dan obesitas |
| Riwayat keluarga dengan diabetes | Lingkar pinggang besar (lemak perut) |
| Latar belakang etnis, termasuk keturunan Asia | Kurang aktivitas fisik dan kebiasaan duduk lama |
| Riwayat diabetes gestasional atau melahirkan bayi 9 pon atau lebih | Merokok dan paparan asap rokok |
| Lahir dengan berat badan rendah, atau ibu mengalami diabetes gestasional saat mengandung | Prediabetes, yang masih bisa dicegah berkembang |
| Varian gen pembawa risiko | Kondisi seperti PCOS, lewat penanganan medis |
Kolom kanan adalah tempat pencegahan bekerja. NIDDK mencatat hasil Diabetes Prevention Program: peserta yang rutin beraktivitas fisik dan menurunkan 5 sampai 7 persen berat badannya menurunkan peluang terkena diabetes tipe 2. Langkah-langkah praktisnya dibahas terpisah di cara mencegah diabetes, dan susunan piring yang masuk akal untuk gula darah ada di makanan untuk penderita diabetes.
Kolom kiri juga bukan vonis. Punya riwayat keluarga atau usia di atas 35 tahun artinya kamu layak memeriksakan gula darah lebih rutin, bukan berarti diabetes tinggal menunggu waktu. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai dibahas di gejala awal diabetes, karena artikel ini sengaja tidak membahas gejala.
Konteks Indonesia menurut SKI 2023
Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan memberi gambaran seberapa luas faktor-faktor di atas di negeri ini. Berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah, prevalensi diabetes pada penduduk berumur 15 tahun ke atas mencapai 11,7 persen. Angkanya naik tajam seiring usia: 1,8 persen pada kelompok 15 sampai 24 tahun, 17,4 persen pada 45 sampai 54 tahun, dan 24,6 persen pada 65 sampai 74 tahun.
Untuk faktor risiko yang bisa diubah, datanya sama-sama mencolok. Pada penduduk dewasa di atas 18 tahun, 23,4 persen tergolong obesitas dan 14,4 persen lagi kelebihan berat badan menurut indeks massa tubuh. Obesitas sentral ditemukan pada 36,8 persen penduduk berumur 15 tahun ke atas. Sebanyak 37,4 persen penduduk berumur 10 tahun ke atas tergolong kurang aktivitas fisik, dan 47,5 persen penduduk berumur di atas 3 tahun minum minuman manis satu kali atau lebih setiap hari. Di tingkat global, WHO mencatat jumlah orang dengan diabetes naik dari 200 juta pada 1990 menjadi 830 juta pada 2022.
Mitos dan Fakta Seputar Penyebab Diabetes
"Makan gula langsung menyebabkan diabetes"
Jawaban jujurnya: tidak sesederhana itu, tetapi juga tidak bisa diabaikan. Untuk tipe 1, CDC tegas menyatakan pola makan dan kebiasaan hidup bukan penyebabnya. Untuk tipe 2, tidak ada satu makanan pun yang menjadi penyebab tunggal, karena prosesnya melibatkan gen, usia, lemak tubuh, aktivitas, dan faktor lain yang saling berinteraksi.
Meski begitu, minuman manis punya bukti keterkaitan yang cukup kuat dengan tipe 2. Meta-analisis Malik dan rekan yang terbit di jurnal Diabetes Care pada 2010 menggabungkan delapan studi kohort prospektif dengan 310.819 peserta. Hasilnya, orang dengan asupan minuman manis tertinggi, umumnya 1 sampai 2 porsi sehari, memiliki risiko diabetes tipe 2 26 persen lebih besar dibanding yang paling jarang atau tidak pernah minum, yaitu kurang dari satu porsi sebulan. Itu hubungan risiko dari studi pengamatan, bukan bukti bahwa gula sendirian menciptakan diabetes. Jadi mengurangi minuman manis adalah langkah yang masuk akal, tetapi bukan jaminan kebal.
Cara membaca angka 26 persen: angka itu adalah risiko relatif, artinya peningkatan dibanding kelompok yang paling jarang minum, bukan peluang 26 persen untuk terkena diabetes. Orang yang tidak pernah minum minuman manis tetap bisa terkena tipe 2 bila faktor risiko lain menumpuk, dan sebaliknya tidak semua peminum rutin akan terkena.
"Kalau kurus, pasti aman"
Tidak. Tipe 1 sama sekali tidak berhubungan dengan berat badan. Untuk tipe 2, NIDDK menyebut lingkar pinggang besar tetap merupakan faktor risiko walaupun indeks massa tubuh normal, dan batas indeks massa tubuh untuk orang keturunan Asia sudah lebih rendah, yaitu 23. Usia, riwayat keluarga, kurang gerak, merokok, dan riwayat diabetes saat hamil tetap berlaku terlepas dari angka timbangan. Badan yang tampak langsing tidak menggantikan pemeriksaan gula darah.
"Diabetes itu menular"
Tidak. Diabetes tidak ditularkan lewat kontak, makan bersama, atau udara. Kementerian Kesehatan dalam SKI 2023 menempatkan diabetes melitus di bab penyakit tidak menular. Kesan menular muncul karena diabetes sering ditemukan pada beberapa anggota satu keluarga, dan MedlinePlus Genetics menjelaskan hal itu terjadi karena anggota keluarga berbagi faktor genetik sekaligus kebiasaan makan dan olahraga yang sama.
"Kalau orang tua diabetes, anak pasti kena"
Juga tidak. Menurut MedlinePlus Genetics, tipe 2 tidak memiliki pola pewarisan yang jelas, meskipun risikonya naik seiring banyaknya anggota keluarga dekat yang terkena. Untuk tipe 1, hanya sekitar 5 persen pembawa varian HLA berisiko yang akhirnya terkena. Satu-satunya pengecualian yang tegas adalah diabetes monogenik seperti MODY yang dominan autosomal, dengan peluang 50 persen per anak menurut NIDDK. Riwayat keluarga adalah alasan untuk lebih waspada dan lebih rutin memeriksakan diri, bukan kepastian.
Pada akhirnya, mengetahui penyebab diabetes berguna untuk dua hal: memahami bagian mana yang masih bisa kamu kendalikan, dan berhenti menyalahkan diri sendiri atau orang lain untuk bagian yang tidak bisa dikendalikan. Penentuan tipe diabetes dan rencana penanganannya tetap harus dilakukan dokter atau puskesmas lewat pemeriksaan laboratorium, bukan lewat tebakan dari daftar faktor risiko.



