Vitamin D untuk anak dibutuhkan agar tulang yang sedang tumbuh dapat termineralisasi dengan baik, dan kekurangan beratnya menyebabkan rakitis. Angka Kecukupan Gizi (AKG) Permenkes 28/2019 menetapkan 10 mikrogram (400 IU) per hari untuk bayi dan 15 mikrogram (600 IU) per hari untuk anak usia 1 tahun ke atas. Meski Indonesia kaya sinar matahari, sebuah meta-analisis menemukan sekitar sepertiga anak dan remaja Indonesia mengalami hipovitaminosis D, jadi kebutuhan ini tidak bisa dianggap otomatis terpenuhi.
Yang sama pentingnya dengan angka kebutuhan adalah batas amannya, karena batas atas vitamin D untuk bayi dan balita jauh lebih rendah daripada untuk orang dewasa. Artikel ini merangkum isi naskah resmi Permenkes 28/2019, lembar fakta NIH Office of Dietary Supplements (ODS), anjuran NHS, dan penelitian tentang anak Indonesia. Halaman ini belum ditinjau tenaga kesehatan, jadi gunakan isinya untuk bertanya lebih tepat kepada dokter anak, bidan, atau apoteker, bukan untuk menggantikan mereka.
Kenapa Vitamin D Penting untuk Anak
Menurut ODS, vitamin D membantu penyerapan kalsium di usus dan menjaga kadar kalsium serta fosfat darah tetap cukup, sehingga tulang dapat termineralisasi secara normal. ODS juga menjelaskan bahwa pada anak, kekurangan vitamin D tampil sebagai rakitis, yaitu penyakit ketika jaringan tulang gagal termineralisasi dengan baik sehingga tulang menjadi lunak dan bentuknya berubah.
Rakitis yang berat tidak berhenti di tulang. Menurut ODS, selain kelainan bentuk dan nyeri tulang, rakitis berat dapat menyebabkan gagal tumbuh, keterlambatan perkembangan, kejang akibat kadar kalsium rendah, kejang otot (tetani), gangguan otot jantung (kardiomiopati), dan kelainan gigi. ODS juga mencatat pemberian ASI eksklusif dalam waktu lama tanpa suplemen vitamin D dapat menyebabkan rakitis pada bayi, dan insidensi rakitis secara global sedang meningkat, bahkan di Amerika Serikat dan Eropa, terutama di kalangan pendatang dari negara-negara Afrika, Timur Tengah, dan Asia.
Kekurangan yang lebih ringan tandanya tidak khas. Cleveland Clinic menyebut anak dengan kekurangan vitamin D ringan mungkin hanya mengalami otot yang lemah, pegal, atau nyeri. Karena itu kecurigaan sebaiknya tidak ditebak dari keluhan umum, dan kadar vitamin D dipastikan lewat pemeriksaan darah atas arahan dokter. ODS menyebut kadar 25(OH)D dalam serum sebagai penanda utama status vitamin D. ODS juga mencatat pemeriksaan kadar vitamin D kini makin sering dimasukkan ke pemeriksaan darah rutin tanpa indikasi khusus, padahal belum ada penelitian yang menguji apakah skrining semacam itu memperbaiki hasil kesehatan. Cleveland Clinic menyarankan menghubungi tenaga kesehatan untuk pemeriksaan darah bila ada faktor risiko kekurangan vitamin D atau muncul gejala. Kelompok berisiko yang disebut ODS antara lain bayi yang mendapat ASI, orang dengan paparan matahari terbatas, orang berkulit gelap, orang dengan kondisi yang mengganggu penyerapan lemak, dan orang dengan obesitas.
Gambaran umum tentang vitamin larut lemak dan larut air, termasuk vitamin D, ada di artikel vitamin.
Kebutuhan Vitamin D Anak per Usia Menurut AKG Indonesia
Patokan untuk pembaca di Indonesia adalah Permenkes Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Angka di bawah ini dikutip dari Lampiran I Tabel 2 naskah resminya, ditambah konversi ke IU memakai patokan NHS bahwa 1 mikrogram vitamin D setara 40 IU. Basis data peraturan.go.id mencatat peraturan ini ditetapkan pada 20 Agustus 2019, diundangkan pada 26 Agustus 2019, berstatus berlaku, dan mencabut Permenkes Nomor 75 Tahun 2013.
| Kelompok umur | AKG vitamin D (Permenkes 28/2019) | Setara IU |
|---|---|---|
| Bayi 0 sampai 5 bulan | 10 mikrogram | 400 IU |
| Bayi 6 sampai 11 bulan | 10 mikrogram | 400 IU |
| Anak 1 sampai 3 tahun | 15 mikrogram | 600 IU |
| Anak 4 sampai 6 tahun | 15 mikrogram | 600 IU |
| Anak 7 sampai 9 tahun | 15 mikrogram | 600 IU |
| Remaja 10 sampai 18 tahun (laki-laki dan perempuan) | 15 mikrogram | 600 IU |
Angka ini sama dengan angka kecukupan Amerika Serikat yang dikutip ODS, yaitu 10 mikrogram untuk bayi (sebagai asupan cukup atau Adequate Intake) dan 15 mikrogram untuk usia 1 sampai 18 tahun. Inggris memakai angka yang lebih rendah. NHS menyebut bayi sampai usia 1 tahun membutuhkan 8,5 sampai 10 mikrogram per hari, dan anak sejak usia 1 tahun serta orang dewasa membutuhkan 10 mikrogram per hari.
Perlu dibedakan antara angka kecukupan dan anjuran minum suplemen. Permenkes mendefinisikan AKG sebagai nilai yang menunjukkan kebutuhan rata-rata zat gizi tertentu yang harus dipenuhi setiap hari bagi hampir semua orang dengan karakteristik tertentu, dan AKG digunakan pada tingkat konsumsi. Jadi AKG adalah target asupan, bukan perintah untuk memberi anak tablet atau tetes vitamin D setiap hari. Untuk bayi 0 sampai 5 bulan, Permenkes sendiri mencatat pemenuhan kebutuhan gizinya bersumber dari ASI eksklusif. Keputusan memberi suplemen ada di tangan tenaga kesehatan yang mengenal kondisi anakmu. Gambaran kebutuhan vitamin lain menurut usia ada di artikel vitamin anak.
Anak Indonesia Tetap Bisa Kekurangan, Walau Matahari Melimpah
Banyak orang tua mengira anak di negara tropis tidak mungkin kekurangan vitamin D. Data yang ada tidak mendukung anggapan itu.
Meta-analisis yang terbit di jurnal Annals of Pediatric Endocrinology and Metabolism menggabungkan tujuh penelitian dari Indonesia dengan total 5.870 anak dan remaja usia 6 bulan sampai 19 tahun. Hasilnya, prevalensi hipovitaminosis D tercatat 33 persen (interval kepercayaan 95 persen: 9 sampai 56 persen), dengan rerata kadar vitamin D serum 22,74 ng/mL. Penulisnya menyimpulkan kekurangan vitamin D adalah darurat kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyarankan strategi deteksi serta penanganannya segera dijalankan.
Kenapa bisa begitu? ODS menjelaskan vitamin D dibuat tubuh ketika sinar ultraviolet dari matahari mengenai kulit, dan sinar UVB tidak menembus kaca, sehingga sinar matahari yang masuk lewat jendela tidak menghasilkan vitamin D. ODS menyebut musim, jam, panjang hari, tutupan awan, polusi udara (smog), kadar melanin kulit, dan tabir surya sebagai faktor yang memengaruhi paparan UV dan pembentukan vitamin D. Orang yang jarang keluar rumah, orang yang memakai jubah, gaun panjang, atau penutup kepala karena alasan agama, dan orang yang pekerjaannya membatasi paparan matahari termasuk kelompok yang kecil kemungkinannya mendapat cukup vitamin D dari matahari. Kulit yang lebih gelap juga kurang mampu membuat vitamin D dari sinar matahari. Artinya, matahari yang melimpah belum tentu berarti kulit anak benar-benar menerima paparan yang cukup.
Untuk bayi, matahari bukan jalan pintasnya. ODS mencatat American Academy of Pediatrics justru menyarankan bayi di bawah 6 bulan dijauhkan dari sinar matahari langsung, diberi pakaian pelindung dan topi, dan bila paparan tidak terhindarkan, tabir surya dioleskan pada area kecil kulit yang terbuka. Menjemur bayi lama-lama bukan cara yang dianjurkan untuk memenuhi vitamin D-nya.
Makanan yang Mengandung Vitamin D
Hanya sedikit bahan pangan yang secara alami mengandung vitamin D. ODS menyebut sumber terbaiknya adalah daging ikan berlemak seperti trout, salmon, tuna, dan makarel, serta minyak hati ikan. Sumber lain yang kadarnya lebih kecil adalah hati sapi, kuning telur, dan keju.
| Bahan pangan (per sajian) | Mikrogram | IU |
|---|---|---|
| Minyak hati ikan kod, 1 sendok makan | 34,0 | 1.360 |
| Ikan salmon sockeye matang, 3 ons (sekitar 85 gram) | 14,2 | 570 |
| Susu 2 persen lemak yang difortifikasi vitamin D, 1 cangkir | 2,9 | 120 |
| Ikan sarden kalengan dalam minyak, 2 ekor | 1,2 | 46 |
| Telur besar orak-arik, 1 butir | 1,1 | 44 |
| Ikan tuna kalengan dalam air, 3 ons | 1,0 | 40 |
| Dada ayam panggang, 3 ons | 0,1 | 4 |
Angka di tabel berasal dari data USDA yang dikutip ODS. Dua hal perlu diperhatikan saat membacanya. Pertama, susu di tabel itu adalah susu Amerika Serikat yang difortifikasi, sehingga kadar susu yang kamu beli bisa berbeda dan harus dicek di labelnya. Kedua, minyak hati ikan kod memberi vitamin D sangat tinggi dalam satu sendok, dan juga mengandung vitamin A. NHS meminta orang tua tidak memberi minyak hati ikan kod bersamaan dengan tetes vitamin karena keduanya sama-sama mengandung vitamin A dan D.
Dari tabel itu terlihat kenapa NHS menyatakan sulit mendapat cukup vitamin D dari makanan saja. Sebutir telur hanya memberi kurang dari sepersepuluh kebutuhan harian anak 1 sampai 3 tahun. Ikan berlemak adalah sumber yang paling berarti, jadi memasukkan ikan seperti salmon, tuna, sarden, atau makarel ke menu anak secara rutin adalah langkah yang masuk akal. Cara mengolah telur dengan kalori yang terhitung ada di artikel kalori telur rebus.
Beberapa anak punya hambatan tambahan dari sisi makanan. ODS menyebut pola makan rendah vitamin D lebih sering ditemukan pada orang dengan alergi susu, intoleransi laktosa, dan pola makan vegetarian yang hanya memakan telur atau vegan. Untuk anak seperti ini, pilihan seperti minuman kedelai, almond, atau oat yang difortifikasi bisa membantu, karena ODS mencatat kadarnya sekitar 2,5 sampai 3,6 mikrogram (100 sampai 144 IU) per cangkir, walau angka itu tetap tergantung merek. ODS juga mencatat jamur putih yang dipapar sinar UV memberi 9,2 mikrogram per setengah cangkir, sedangkan jamur portabella mentah di tabel yang sama hanya memberi 0,1 mikrogram. Anak dengan alergi atau pantangan makanan sebaiknya dipantau asupannya bersama tenaga kesehatan.
Suplemen Vitamin D untuk Bayi dan Anak: Apa Kata Lembaga Resmi
Anjuran suplemen berbeda antarnegara, dan perbedaan itu perlu dibaca utuh supaya tidak disalahartikan.
Bayi yang mendapat ASI. ODS menjelaskan ASI saja biasanya tidak memenuhi kebutuhan vitamin D bayi karena kandungannya kurang dari 0,6 sampai 2,0 mikrogram per liter (25 sampai 78 IU per liter). Atas dasar itu, American Academy of Pediatrics menganjurkan suplemen 10 mikrogram (400 IU) per hari untuk bayi yang mendapat ASI eksklusif maupun sebagian, dimulai segera setelah lahir dan diteruskan sampai bayi disapih serta minum sedikitnya 1.000 ml formula atau susu utuh yang difortifikasi vitamin D per hari. NHS di Inggris menganjurkan 8,5 sampai 10 mikrogram per hari untuk bayi yang disusui sejak lahir sampai usia 1 tahun, baik ibunya meminum suplemen vitamin D maupun tidak.
Bayi yang minum susu formula. NHS menyatakan bayi yang minum lebih dari 500 ml susu formula per hari tidak perlu diberi suplemen vitamin D karena formula bayi sudah difortifikasi. Versi American Academy of Pediatrics yang dikutip ODS memakai batas 1.000 ml: AAP menganjurkan 10 mikrogram (400 IU) per hari untuk bayi yang tidak disusui dan minum kurang dari 1.000 ml formula atau susu yang difortifikasi vitamin D per hari.
Anak 1 sampai 4 tahun. NHS menganjurkan suplemen harian berisi 10 mikrogram vitamin D sepanjang tahun untuk kelompok umur ini, dan menyebut anak kecil tetap perlu tetes vitamin meski sering bermain di luar. Konteksnya adalah Inggris, tempat menurut NHS tubuh tidak membuat cukup vitamin D dari sinar matahari antara Oktober dan awal Maret.
Anjuran itu disusun untuk negara masing-masing. Sumber yang kami rujuk tidak memuat anjuran suplementasi vitamin D rutin untuk semua anak di Indonesia, sehingga keputusan memberi suplemen, dosisnya, dan lamanya sebaiknya dibicarakan dengan dokter anak, bidan, atau petugas Posyandu. Kalau suplemen dipakai, pastikan produknya terdaftar di basis data resmi Badan POM dan takarannya sesuai usia anak.
Batas Aman: Anak Kecil Lebih Mudah Kelebihan
Vitamin D larut lemak, dan NHS mengingatkan bahwa minum suplemen vitamin D terlalu banyak dalam jangka panjang dapat membuat kalsium menumpuk di tubuh (hiperkalsemia), yang dapat melemahkan tulang serta merusak ginjal dan jantung. ODS menyatakan keracunan vitamin D hampir selalu terjadi akibat asupan berlebihan dari suplemen, dan para ahli tidak menganggap paparan matahari berlebih dapat menyebabkan keracunan vitamin D. NHS juga menegaskan kelebihan vitamin D tidak bisa terjadi dari sinar matahari.
| Kelompok umur | Batas atas per hari (Food and Nutrition Board, dikutip ODS) |
|---|---|
| Bayi 0 sampai 6 bulan | 25 mikrogram (1.000 IU) |
| Bayi 7 sampai 12 bulan | 38 mikrogram (1.500 IU) |
| Anak 1 sampai 3 tahun | 63 mikrogram (2.500 IU) |
| Anak 4 sampai 8 tahun | 75 mikrogram (3.000 IU) |
| Anak dan remaja 9 sampai 18 tahun | 100 mikrogram (4.000 IU) |
NHS memakai batas yang lebih sederhana dan lebih ketat untuk anak kecil, yaitu maksimal 25 mikrogram (1.000 IU) per hari untuk bayi di bawah 12 bulan dan maksimal 50 mikrogram (2.000 IU) per hari untuk anak 1 sampai 10 tahun. ODS juga mencatat Food and Nutrition Board mengingatkan bahwa asupan vitamin D di bawah batas atas pun mungkin menimbulkan efek buruk bagi kesehatan bila berlangsung lama.
Akibat kelebihan vitamin D bukan hal ringan. ODS menjelaskan kelebihan vitamin D menaikkan kadar kalsium darah (hiperkalsemia), yang dapat menimbulkan mual, muntah, lemas otot, gangguan neuropsikiatri, nyeri, hilang nafsu makan, dehidrasi, sering buang air kecil, rasa haus berlebihan, dan batu ginjal. Pada kasus ekstrem, kelebihan vitamin D dapat menyebabkan gagal ginjal, pengapuran jaringan lunak, gangguan irama jantung, bahkan kematian. ODS mencatat sebagian kasus terjadi karena kesalahan produksi suplemen, suplemen yang diminum secara tidak tepat atau berlebihan, atau dosis yang keliru diresepkan.
Satu suplemen saja, dan jumlahkan semua produknya. Vitamin D bisa ada di tetes vitamin, multivitamin anak, susu yang difortifikasi, dan minyak hati ikan kod. NHS meminta orang tua mengikuti dosis di label dan tidak memberi dua suplemen sekaligus. Kalau anak memakai lebih dari satu produk, jumlahkan kandungannya dan bandingkan dengan batas usianya. Konversinya mudah: 1 mikrogram sama dengan 40 IU, jadi produk berlabel 1.000 IU berisi 25 mikrogram, yang sudah menyamai batas atas untuk bayi di bawah 6 bulan. Cara membaca satuan di label dibahas lebih rinci di artikel vitamin D3.
Langkah Praktis untuk Orang Tua
Ringkasnya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan tanpa harus menebak dosis sendiri.
- Kenali angkanya. Kebutuhan anak 1 tahun ke atas adalah 15 mikrogram (600 IU) per hari menurut AKG, dan batas atasnya naik bertahap sesuai usia.
- Masukkan ikan berlemak dan telur ke menu. Keduanya termasuk sedikit sumber pangan alami vitamin D.
- Biarkan anak yang lebih besar bermain di luar, tetapi lindungi kulitnya sebelum memerah atau terbakar seperti anjuran NHS, dan jauhkan bayi di bawah 6 bulan dari sinar langsung sesuai saran American Academy of Pediatrics.
- Bicarakan suplemen dengan tenaga kesehatan, terutama untuk bayi yang mendapat ASI, anak yang jarang terpapar matahari, atau anak dengan gangguan penyerapan.
- Ikuti dosis di label dan catat produk yang diminum. NHS meminta orang tua mematuhi dosis yang tertera di label dan tidak memberi dua suplemen sekaligus. Catatan produk juga memudahkan saat kontrol ke tenaga kesehatan.
Tulisan gizi lain tersedia di kategori nutrisi. Tulisan ini bersifat edukatif, belum ditinjau tenaga kesehatan, dan bukan pengganti pemeriksaan, diagnosis, atau resep. Jangan memberi anak suplemen vitamin D dosis tinggi tanpa arahan dokter anak, bidan, atau apoteker.
Untuk memperluas konteks vitamin, kamu bisa melanjutkan ke Vitamin B6, Vitamin C, Vitamin B12, Vitamin C 1000 mg, Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh.



