Kebutuhan vitamin anak berbeda menurut kelompok umur, sehingga tidak bisa disamakan dengan kebutuhan orang dewasa, dan perbedaan itu bukan hanya soal jumlah yang dianjurkan. Yang jauh lebih menentukan justru batas amannya, karena untuk vitamin A dan vitamin C batas atas anak usia 1 sampai 3 tahun hanya seperlima dari batas orang dewasa. Konsekuensinya langsung terasa di rumah: satu tablet vitamin C 1.000 mg yang biasa diminum orang dewasa sudah melewati batas atas untuk anak usia 1 sampai 8 tahun.
Artikel ini merangkum apa yang benar-benar tertulis di rujukan NHS, NIH Office of Dietary Supplements (ODS), dan Kementerian Kesehatan RI, termasuk tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam Permenkes Nomor 28 Tahun 2019. Perlu disampaikan sejak awal bahwa halaman ini belum ditinjau tenaga kesehatan, jadi isinya disusun untuk membantumu bertanya lebih tepat kepada dokter anak, bidan, atau apoteker, bukan untuk menggantikan mereka.
Kebutuhan Anak Bukan Versi Kecil dari Kebutuhan Dewasa
Cara paling cepat memahaminya adalah dengan membandingkan batas atas menurut kelompok umur. Batas atas (tolerable upper intake level) adalah asupan harian maksimum yang kemungkinan tidak menimbulkan efek merugikan. Angka di tabel berikut ditetapkan Food and Nutrition Board Amerika Serikat dan dicantumkan dalam lembar fakta NIH ODS, dan berlaku untuk asupan gabungan dari pangan maupun suplemen.
| Kelompok umur | Batas atas vitamin C | Batas atas vitamin A bentuk jadi | Batas atas zat besi |
|---|---|---|---|
| Lahir sampai 12 bulan | Tidak dapat ditetapkan (sumbernya hanya susu formula dan makanan) | 600 mikrogram per hari | 40 mg per hari |
| 1 sampai 3 tahun | 400 mg per hari | 600 mikrogram per hari | 40 mg per hari |
| 4 sampai 8 tahun | 650 mg per hari | 900 mikrogram per hari | 40 mg per hari |
| 9 sampai 13 tahun | 1.200 mg per hari | 1.700 mikrogram per hari | 40 mg per hari |
| 14 sampai 18 tahun | 1.800 mg per hari | 2.800 mikrogram per hari | 45 mg per hari |
| 19 tahun ke atas | 2.000 mg per hari | 3.000 mikrogram per hari | 45 mg per hari |
Baca kolom vitamin A dari atas ke bawah. Batas untuk anak sejak lahir sampai 3 tahun adalah 600 mikrogram, sedangkan untuk orang dewasa 3.000 mikrogram, jadi jaraknya lima kali lipat. Untuk vitamin C, jarak antara usia 1 sampai 3 tahun (400 mg) dan orang dewasa (2.000 mg) juga lima kali lipat. Angka-angka inilah yang membuat kebiasaan memberi anak setengah tablet dewasa tetap bermasalah. Setengah tablet vitamin C 1.000 mg masih berisi 500 mg, di atas batas 400 mg untuk usia 1 sampai 3 tahun, dan itu belum menghitung vitamin C dari makanan yang ikut dijumlahkan dalam batas atas. Untuk bayi, NIH ODS tidak menetapkan batas atas vitamin C dan menyebut susu formula serta makanan sebagai satu-satunya sumber vitamin C bagi bayi.
Kebutuhan hariannya sendiri juga naik bertahap sepanjang masa anak. Sebagai contoh, angka kecukupan (RDA) vitamin C di Amerika Serikat menurut NIH ODS adalah 15 mg per hari untuk usia 1 sampai 3 tahun, 25 mg untuk 4 sampai 8 tahun, 45 mg untuk 9 sampai 13 tahun, lalu 75 mg untuk anak laki-laki dan 65 mg untuk anak perempuan usia 14 sampai 18 tahun. Untuk vitamin K, data belum cukup untuk menetapkan RDA, sehingga yang dipakai adalah asupan memadai (adequate intake), yaitu 30 mikrogram untuk 1 sampai 3 tahun, 55 mikrogram untuk 4 sampai 8 tahun, dan 60 mikrogram untuk 9 sampai 13 tahun. Penjelasan tentang jenis-jenis angka kebutuhan ini dan cara membacanya ada di artikel vitamin.
Angka Indonesia tidak sama dengan angka Amerika Serikat, jadi keduanya jangan dicampur tanpa menyebut asalnya. Permenkes Nomor 28 Tahun 2019 mendefinisikan AKG sebagai nilai kebutuhan rata-rata zat gizi tertentu yang harus dipenuhi setiap hari bagi hampir semua orang dengan karakteristik tertentu, termasuk umur. Tabel vitamin di lampirannya menetapkan vitamin C 40 mg per hari untuk anak 1 sampai 3 tahun, lebih dari dua kali RDA Amerika Serikat untuk usia yang sama, lalu 45 mg untuk 4 sampai 6 tahun maupun 7 sampai 9 tahun. Sebaliknya, AKG vitamin K untuk tiga kelompok itu adalah 15, 20, dan 25 mikrogram, sehingga untuk usia 1 sampai 3 tahun angkanya separuh angka Amerika (30 mikrogram). Untuk vitamin A, AKG anak 1 sampai 3 tahun adalah 400 mikrogram RE, 4 sampai 6 tahun 450 mikrogram RE, dan 7 sampai 9 tahun 500 mikrogram RE. Satuannya pun berbeda, karena Permenkes memakai RE sedangkan NIH ODS memakai RAE. Jadi setiap kali membandingkan angka, sebutkan dari lembaga mana angka itu berasal.
Berat badan juga ikut berperan, terutama pada ambang bahaya. Untuk orang dewasa, NHS bahkan menghitung kebutuhan vitamin K langsung dari berat badan, yaitu sekitar 1 mikrogram per kilogram per hari, sehingga orang dengan berat 65 kg butuh 65 mikrogram. Rumus itu ditulis untuk orang dewasa, jadi untuk anak tetap pakai angka per kelompok umur di atas. Ambang bahaya zat besi juga dihitung per kilogram. NIH ODS menyebut asupan akut lebih dari 20 mg zat besi per kilogram berat badan dari suplemen atau obat dapat menyebabkan nekrosis korosif pada usus, dan memberi contoh bahwa ambang itu setara sekitar 1.365 mg bagi orang dengan berat 150 pon (sekitar 68 kg). Dengan hitungan yang sama, anak dengan berat 10 kg sudah mencapai ambang itu pada 200 mg, sehingga jumlah mutlak yang berbahaya bagi anak jauh lebih kecil daripada bagi orang dewasa.
Satu produk dewasa tidak menjadi produk anak hanya karena dosisnya dikurangi. Seperti hitungan setengah tablet di atas, takaran yang dipotong pun masih bisa melewati batas atas anak. Kalau ragu, tunjukkan kemasannya kepada apoteker sebelum membelinya, seperti yang juga disarankan NHS, dan pastikan izin edarnya terdaftar di basis data Cek Produk Badan POM, yang memuat kategori suplemen kesehatan.
Apa yang Benar-benar Dianjurkan untuk Anak Kecil
NHS menuliskan anjurannya cukup rinci, dan perlu dibaca lengkap karena syaratnya bertingkat.
Anjuran utamanya, pemerintah Inggris menganjurkan semua anak usia 6 bulan sampai 5 tahun diberi suplemen vitamin yang mengandung vitamin A, C, dan D setiap hari. Namun ada pengecualian penting, yaitu bayi yang minum lebih dari 500 ml susu formula per hari tidak perlu diberi suplemen vitamin, karena formula bayi sudah difortifikasi dengan vitamin A, C, dan D serta zat gizi lain. Untuk bayi yang mendapat air susu ibu, NHS menyatakan sebaiknya diberi suplemen vitamin D harian sejak lahir, tanpa memandang apakah ibunya sedang meminum suplemen vitamin D atau tidak.
Untuk vitamin D, NHS menyebut angka yang berbeda per kelompok. Bayi sejak lahir sampai usia 1 tahun yang mendapat air susu ibu dianjurkan diberi suplemen harian yang mengandung 8,5 sampai 10 mikrogram vitamin D. Bayi yang minum lebih dari 500 ml susu formula per hari tidak perlu diberi suplemen vitamin D. Anak usia 1 sampai 4 tahun dianjurkan diberi suplemen harian yang mengandung 10 mikrogram vitamin D. NHS juga mengingatkan bahwa sumber utama vitamin D adalah sinar matahari musim panas di kulit, tetapi anak tetap perlu dijaga dari paparan berlebih, dan anak kecil sebaiknya tetap diberi tetes vitamin meskipun sering bermain di luar.
Ada satu batasan penting yang perlu kamu ingat saat membaca semua itu. NHS menyatakan Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial hanya menganjurkan suplemen yang mengandung vitamin A, C, dan D, sementara sebagian produk yang dijual bebas mengandung vitamin atau bahan lain, sehingga mereka menyarankan berbicara dengan apoteker untuk menentukan suplemen mana yang paling sesuai untuk anakmu.
Konteksnya juga perlu dijaga. Anjuran itu disusun untuk Inggris, termasuk program bantuan Healthy Start yang menurut NHS memberi tetes vitamin gratis bagi keluarga yang memenuhi syarat. Sebagai pembanding di Indonesia, AKG vitamin D dalam Permenkes 28/2019 adalah 10 mikrogram per hari untuk bayi 0 sampai 11 bulan dan 15 mikrogram untuk anak 1 sampai 9 tahun. Angka AKG adalah kebutuhan harian yang harus dipenuhi, sedangkan angka NHS adalah isi suplemen, jadi keduanya tidak bisa disamakan begitu saja. Program yang berjalan di Indonesia juga berbeda, dan yang dijalankan lewat Posyandu dibahas di bagian berikutnya. Pembahasan khusus kebutuhan vitamin D anak, termasuk kenapa anak di negara tropis pun bisa kekurangan, ada di artikel vitamin D untuk anak.
Program Vitamin A di Posyandu: Februari dan Agustus
Di Indonesia, suplementasi vitamin A untuk anak bukan urusan membeli sendiri, melainkan program yang dijalankan lewat Posyandu. Kementerian Kesehatan RI lewat kanal Ayo Sehat menjelaskan bayi dan balita dapat memperoleh suplementasi vitamin A yang dibagikan secara gratis di Posyandu dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari dan Agustus, dengan tujuan mencegah kekurangan vitamin A pada bayi, balita, dan ibu nifas.
Dosisnya sengaja tinggi dan dibedakan menurut umur. Kementerian Kesehatan menyebut kapsul biru berdosis 100.000 IU untuk bayi usia 6 sampai 11 bulan sebanyak satu kali, dan kapsul merah berdosis 200.000 IU untuk balita usia 12 sampai 59 bulan sebanyak dua kali. Alasan memakai dosis besar yang jarang, bukan dosis kecil yang sering, juga mereka jelaskan dengan mengutip WHO, yaitu vitamin A dapat disimpan di dalam tubuh dan dilepas secara bertahap sesuai kebutuhan.
Perhatikan bahwa angka 100.000 dan 200.000 IU itu jauh di atas batas atas harian yang muncul di tabel bagian pertama artikel ini. Bila dihitung sebagai retinol dengan konversi NIH ODS (1 IU retinol setara 0,3 mikrogram RAE), 100.000 IU setara 30.000 mikrogram dan 200.000 IU setara 60.000 mikrogram, sedangkan batas atas harian anak sampai 3 tahun adalah 600 mikrogram. Itu bukan kontradiksi, melainkan perbedaan konteks. Pemberiannya dilakukan oleh kader dan petugas kesehatan, dengan jeda enam bulan, dan didahului pertanyaan apakah anak sudah menerima kapsul vitamin A dalam satu bulan terakhir. Kementerian Kesehatan juga menjelaskan cara pemberiannya, yaitu memotong ujung kapsul dengan gunting bersih, memencetnya, dan memastikan anak menelan seluruh isinya. Dosis sebesar itu tidak pernah dimaksudkan untuk ditiru sendiri di rumah dengan produk yang dibeli bebas.
Alasan program ini ada juga masuk akal bila dibaca dari sisi manfaatnya. Kementerian Kesehatan menyebut vitamin A merangsang produksi sel darah putih yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan tubuh, membantu anak yang terinfeksi campak lebih cepat sembuh dan terhindar dari komplikasi seperti pneumonia, mengontrol kepekaan retina terhadap cahaya sehingga mencegah rabun senja, dan mendukung pertumbuhan yang normal. Perlu diingat pula bahwa NIH ODS membedakan vitamin A bentuk jadi (retinol dan ester retinil) dari provitamin A seperti beta-karoten, dan perbedaan itu penting saat membaca label, seperti dibahas di bagian berikutnya.
Catat tanggalnya, jangan menggandakannya. Kalau anak sudah mendapat kapsul di Posyandu, informasi itu perlu disampaikan bila kemudian ada tenaga kesehatan lain yang menawarkan suplemen mengandung vitamin A. Anak yang sudah menerima kapsul dosis tinggi tidak perlu ditambah produk lain yang isinya sama tanpa arahan.
Dua Suplemen Sekaligus: Kesalahan yang Berawal dari Niat Baik
Kesalahan ini tidak harus berawal dari kelalaian. Bayangkan anak yang sudah minum tetes vitamin setiap hari, lalu ditambah minyak ikan, lalu ditambah lagi permen vitamin karena anak menyukainya. Masing-masing produk mungkin terasa aman, tetapi batas atas berlaku untuk jumlah seluruh asupan, bukan per produk.
NHS menuliskan peringatannya secara langsung. Lembaga itu menyatakan terlalu banyak sebagian vitamin dapat membahayakan, meminta agar takaran yang dianjurkan pada label diikuti, dan meminta agar orang tua berhati-hati untuk tidak memberi anak dua suplemen pada saat yang sama. Contoh yang mereka pakai sangat spesifik, yaitu jangan memberi minyak hati ikan kod bersamaan dengan tetes vitamin, karena minyak hati ikan kod juga mengandung vitamin A dan vitamin D. Kesimpulan mereka pun jelas, satu suplemen saja sudah cukup selama produk itu mengandung dosis vitamin D yang dianjurkan.
Konsekuensi kelebihan vitamin A layak diketahui supaya peringatan itu terasa nyata. NIH Office of Dietary Supplements menjelaskan keracunan vitamin A akut atau hipervitaminosis A muncul dalam hitungan hari sampai minggu setelah seseorang menelan satu atau beberapa dosis sangat tinggi, biasanya lebih dari 100 kali angka kecukupan. Tanda dan gejalanya mencakup sakit kepala berat, penglihatan kabur, mual, pusing, nyeri otot, dan gangguan koordinasi. Pada kasus berat, tekanan cairan serebrospinal dapat meningkat sehingga menimbulkan kantuk berlebih dan pada akhirnya koma bahkan kematian. Bentuk kronisnya, yaitu konsumsi dosis tinggi secara rutin, dapat menyebabkan kulit kering, nyeri otot dan sendi, kelelahan, depresi, serta hasil pemeriksaan hati yang tidak normal.
ODS juga memberi satu petunjuk teknis yang berguna saat membaca label. Banyak suplemen tidak menyediakan seluruh vitamin A-nya dalam bentuk retinol, karena sebagian atau seluruhnya berasal dari beta-karoten. Persentase retinol atau ester retinil pada produk itulah yang menentukan apakah asupan anak melewati batas atas, bukan angka total vitamin A yang tercetak besar. Contoh dari ODS, suplemen berlabel 3.000 mikrogram RAE vitamin A yang 60 persennya berasal dari beta-karoten berarti menyediakan 1.200 mikrogram vitamin A bentuk jadi, dan jumlah itu sudah di atas batas atas anak sejak lahir sampai 8 tahun. Prinsip menjumlahkan seluruh produk yang diminum bersamaan sama seperti yang dibahas di artikel vitamin C 1000.
Zat Besi dalam Produk Anak: Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Satu kandungan yang perlu diwaspadai justru bukan vitamin, melainkan zat besi, yang bisa ikut terkandung di dalam produk multivitamin. MedlinePlus dari National Library of Medicine Amerika Serikat menyebut setiap bahan dalam suplemen multivitamin bisa beracun dalam jumlah besar, tetapi risiko paling serius datang dari zat besi atau kalsium.
NIH Office of Dietary Supplements mencatat otoritas obat dan makanan Amerika Serikat mewajibkan suplemen mengandung zat besi yang dijual dalam bentuk padat (misalnya tablet atau kapsul, bukan bubuk) memuat pernyataan peringatan bahwa overdosis produk mengandung zat besi secara tidak sengaja adalah salah satu penyebab utama keracunan fatal pada anak di bawah 6 tahun, agar produk itu dijauhkan dari jangkauan anak, dan agar segera menghubungi dokter atau pusat pengendalian racun bila terjadi overdosis tidak sengaja.
Angkanya bukan sekadar kehati-hatian. ODS mencatat antara tahun 1983 dan 2000 setidaknya 43 anak di Amerika Serikat meninggal setelah menelan suplemen berdosis tinggi zat besi, dan menelan suplemen zat besi secara tidak sengaja menyebabkan sekitar sepertiga kematian akibat keracunan pada anak yang dilaporkan di negara itu antara 1983 dan 1991. Setelah pada 1997 FDA mewajibkan suplemen oral berisi lebih dari 30 mg zat besi elemental per dosis dijual dalam kemasan dosis tunggal berlabel peringatan kuat, dan banyak produsen secara sukarela mengganti lapisan gula pada tablet zat besi dengan lapisan film, hanya satu kematian anak akibat menelan tablet mengandung zat besi yang dilaporkan antara 1998 dan 2002. Kewajiban kemasan dosis tunggal itu dicabut FDA pada 2003 setelah putusan pengadilan, sedangkan label peringatan tadi tetap diwajibkan. Sejak 1978, Consumer Product Safety Commission di sana juga mewajibkan produsen mengemas suplemen yang memuat 250 mg zat besi elemental atau lebih per wadah dalam botol atau kemasan tahan anak.
Pelajaran praktisnya sederhana dan berlaku di mana pun. Batas atas zat besi untuk anak sampai 13 tahun adalah 40 mg per hari, sedangkan ODS mencatat 43 anak yang meninggal itu menelan 36 sampai 443 mg zat besi per kilogram berat badan, dan pada kasus berat, sekali telan 60 mg per kilogram dapat menyebabkan kegagalan banyak organ, koma, kejang, bahkan kematian. Simpan semua suplemen di tempat tertutup yang tidak terjangkau, sesuai bunyi label peringatan tadi, dan perlakukan produk multivitamin anak dengan kehati-hatian yang sama seperti obat. Dari sisi makanan, NHS mencatat vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi, dan pembahasannya ada di artikel vitamin C.
Kalau anak menelan suplemen lebih dari takarannya, jangan menunggu gejala. Untuk overdosis multivitamin, MedlinePlus meminta segera mencari pertolongan medis dan tidak membuat anak muntah kecuali diminta pusat informasi keracunan atau petugas kesehatan. Siapkan usia, berat badan, dan kondisi anak, nama produk beserta kandungan dan kekuatannya, waktu tertelan, serta jumlahnya, lalu bawa kemasannya ke fasilitas kesehatan bila memungkinkan.
Makanan Dulu, dan Kapan Sebaiknya Bertanya ke Tenaga Kesehatan
Setelah semua peringatan di atas, dasar yang paling menentukan tetap sama. NHS menyatakan penting bagi anak untuk memakan beragam jenis makanan agar mendapat seluruh energi dan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.
Sumber pangannya juga tidak sulit. NHS menyebut sumber vitamin A yang baik mencakup produk susu, lemak oles terfortifikasi, wortel, ubi jalar, dan mangga, serta sayuran hijau tua seperti bayam, kubis, dan brokoli. Untuk vitamin C, mereka menyebut jeruk, kiwi, stroberi, brokoli, tomat, dan paprika, sambil mencatat vitamin C juga membantu tubuh menyerap zat besi. Kementerian Kesehatan menambahkan daftar sumber vitamin A yang lebih dekat dengan meja makan Indonesia, yaitu air susu ibu, buah berwarna kuning seperti pisang, pepaya, mangga, dan alpukat, sayuran hijau dan jingga seperti bayam, kubis, brokoli, wortel, dan tomat, sumber hewani seperti hati, telur, ikan, ayam, daging, dan bebek, olahan susu seperti keju dan yoghurt, serta ubi.
Anak yang pilih-pilih makanan belum tentu kekurangan vitamin. NHS menyebut wajar bila balita menolak makan atau mencicipi makanan baru, menyarankan agar asupannya dinilai dalam rentang sepekan alih-alih per hari, dan menyatakan bahwa anak yang aktif, berat badannya bertambah, dan tampak sehat berarti sudah cukup makan. Untuk memantau pertumbuhan itu, Kementerian Kesehatan meminta bayi dan balita dibawa ke Posyandu setiap bulan untuk penimbangan berat badan, pengukuran panjang atau tinggi badan, serta konseling dengan kader atau petugas kesehatan.
Ada beberapa situasi yang sebaiknya dibawa ke tenaga kesehatan, bukan diselesaikan sendiri di apotek. Anak yang berat atau tinggi badannya tidak bertambah saat dipantau, anak dengan gangguan penyerapan (malabsorpsi), dan anak yang sedang memakai obat rutin termasuk di dalamnya. Untuk dua kelompok terakhir, NIH ODS mencatat bahwa di negara berpenghasilan tinggi kekurangan vitamin A klinis pada bayi jarang terjadi dan hanya ditemukan pada bayi dengan gangguan malabsorpsi, serta meminta orang yang rutin memakai obat tertentu membicarakan status vitamin A dan asupan vitamin C-nya dengan tenaga kesehatan. Begitu pula bila kamu berpikir menambahkan produk di luar vitamin A, C, dan D, karena NHS menyarankan berbicara dengan apoteker untuk produk yang memuat vitamin atau bahan lain.
Terakhir, satu kebiasaan yang membuat semua ini lebih mudah. Simpan daftar seluruh produk yang diminum anak beserta kemasannya, lalu tunjukkan saat kontrol atau saat ke Posyandu. Kebiasaan ini juga memudahkanmu menjawab pertanyaan yang memang diajukan kader sebelum memberi kapsul, yaitu apakah anak sudah menerima kapsul vitamin A dalam satu bulan terakhir. Kalau anak sering sakit dan kamu sedang menimbang suplemen untuk daya tahan tubuh, baca dulu pembahasan buktinya di artikel vitamin untuk daya tahan tubuh. Tulisan gizi lain tersedia di kategori nutrisi.
Tulisan ini bersifat edukatif, belum ditinjau tenaga kesehatan, dan bukan pengganti pemeriksaan, diagnosis, atau resep. Jangan memberi anak suplemen dosis tinggi atau produk dewasa tanpa arahan, dan bicarakan setiap rencana pemberian suplemen dengan dokter anak, bidan, atau apoteker.
Untuk memperluas konteks nutrisi, kamu bisa melanjutkan ke Vitamin B6, Vitamin B12, Vitamin D3, Vitamin Rambut.



